Minggu, 28 Jun 2026 - :
27 Jun 2026 - 13:31

Rp 498 Miliar Pertanian Musnah, Yohanes: Harita Group Segera Dilaporkan, Petinggi Perusahaan Harus Bertanggung Jawab

9 mnt baca

Tiga Kali dalam Satu Bulan

Banjir tidak datang sekali. Dalam rentang Juni 2025 saja, Kawasi dihantam tiga kali berturut-turut: 3 Juni, 13–14 Juni, dan 22 Juni, dengan ketinggian air antara 30 sentimeter hingga lebih dari satu meter.

Banjir keempat menyusul pada 17 September 2025, kali ini masuk melalui tanggul yang sudah jebol dari kejadian sebelumnya, berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 16.51 WIT.

Setiap gelombang membawa serta lumpur merah pekat. Sumur-sumur warga berubah warna kemerahan. Sekolah SDN 217 Kawasi terendam hingga kegiatan belajar lumpuh total. Lahan pala, kelapa, cengkeh, dan sayuran warga tertutup sedimen pond hingga setebal 15 sentimeter. Sebagian tanaman mati. Sisanya hidup tapi tidak bisa dipanen.

Laporan forensik itu menunjuk satu penyebab utama: sediment pond milik PT Trimegah Bangun Persada Tbk, entitas pertambangan di bawah payung Harita Group yang beroperasi dengan konsesi seluas 4.247 hektare di Pulau Obi, yang berdiri persis di belakang permukiman warga Kawasi.

Kolam pengendapan yang diklaim sebagai infrastruktur pengendalian limbah tambang ini berulang kali meluap karena kapasitasnya tidak sebanding dengan volume curah hujan dan material galian yang harus ia tampung.

Sungai Toduku yang dulu mengalir jernih dan menjadi sumber air minum warga kini dipenuhi sedimentasi ore nikel sejak hulunya masuk dalam kawasan industri perusahaan.

Kesenjangan yang Bicara Sendiri

Data kerugian per individu dalam laporan ini mencerminkan betapa berbedanya nasib yang dibawa satu banjir yang sama.

Di satu ujung, Rian Boamona, 27 tahun, seorang buruh tambang, mencatat kerugian material Rp 1,6 juta, sebuah kasur yang rusak, karena memang tidak punya banyak yang bisa hilang selain sumurnya yang terbenam lumpur.

Di ujung lain, Ridwan Hamadi, 50 tahun, kehilangan tiga kebun sekaligus hingga akhirnya ia jual ke perusahaan karena tidak lagi produktif, dengan total kerugian diperkirakan Rp 74,58 miliar.

Komoditas yang paling babak belur adalah pala, tanaman unggulan Maluku Utara yang butuh lima hingga tujuh tahun untuk kembali produktif setelah tertimbun sedimen.

Artinya kerugian ini bukan selesai musim ini; ini kehilangan yang akan terasa sampai akhir dekade.

GALERY

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%