
- Uang primer Indonesia tumbuh 14,2% secara tahunan pada Mei 2026 menjadi Rp2.214,6 triliun, sedikit melambat dari pertumbuhan 14,3% pada bulan sebelumnya.
- Meski tumbuh secara tahunan, tren bulanan justru menunjukkan penyusutan konsisten sejak Desember 2025 yang saat itu masih berada di Rp2.367,8 triliun.
- Pertumbuhan ditopang oleh ekspansi giro bank umum di BI sebesar 17,4% dan uang kartal yang beredar sebesar 15,8% secara tahunan.
Inilahdata.com – Ada angka yang patut dicermati dari laporan terbaru Bank Indonesia (BI): sejak awal tahun, lebih dari Rp153 triliun uang primer menghilang dari peredaran.

Bukan karena krisis, bukan karena kepanikan, tapi karena ada dinamika moneter yang sedang berjalan diam-diam di balik angka-angka resmi.
BI mencatat posisi uang primer atau M0 adjusted pada Mei 2026 sebesar Rp2.214,6 triliun, tumbuh 14,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun jika ditelusuri lebih jauh, pada Desember 2025 angka ini masih berdiri di Rp2.367,8 triliun.
Artinya, dalam tempo lima bulan saja, uang primer menyusut lebih dari Rp153 triliun, sebuah penurunan yang tidak kecil dan layak mendapat perhatian.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan tahunan yang tercatat sedikit melandai dari bulan sebelumnya yang berada di angka 14,3%.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,4% YoY dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8% YoY,” terang Denny, Senin (8/6/2026).
Lalu, Ke Mana Uang Itu Pergi?
Untuk memahami fenomena ini, perlu dipahami dulu apa yang dimaksud uang primer adjusted. Uang primer pada dasarnya mencakup uang kartal, baik kertas maupun logam, yang beredar di masyarakat, ditambah simpanan giro bank umum yang ditempatkan di Bank Indonesia.
Versi adjusted-nya adalah kalkulasi yang telah menyaring dampak penurunan giro bank akibat kebijakan insentif likuiditas BI, sehingga lebih mencerminkan kondisi riil tanpa distorsi program moneter.
Penyusutan yang terjadi sepanjang 2026 ini bukan berarti uang menguap begitu saja. Sebagian besar berkaitan dengan kebijakan pengendalian moneter BI yang memang dirancang untuk menjaga keseimbangan likuiditas di sistem keuangan, termasuk melalui instrumen insentif likuiditas yang mengubah komposisi giro bank di BI.
Siapa yang Pegang Apa?
Merujuk data April 2026, struktur uang primer terdiri dari uang kartal Rp1.301 triliun sebagai komponen terbesar, diikuti giro bank umum di BI adjusted senilai Rp887,4 triliun.
Sisanya terbagi antara giro sektor swasta di BI sebesar Rp7,6 triliun dan surat berharga terbitan BI yang dipegang sektor swasta senilai Rp36 triliun, mencakup Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI).
Gambaran ini menunjukkan bahwa meski total uang primer menyusut secara nominal bulanan, struktur pemegangnya masih terdiversifikasi dan terkendali.
BI tampaknya sedang menjalankan strategi pengetatan likuiditas yang terukur, bukan alarm bahaya, melainkan bagian dari upaya menjaga stabilitas di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi ekonomi Indonesia. (**)