Rabu, 29 Jul 2026 - :
8 Jun 2026 - 14:45 | 110 Views | 1 Suka

Harga Batu Bara Dekati US$150, Bahlil Buka Pintu Relaksasi Produksi Melampaui Target 600 Juta Ton

3 mnt baca
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberi sinyal relaksasi produksi batu bara di atas target RKAB 2026 sebesar 600 juta ton, dengan mempertimbangkan ketegangan geopolitik dan lonjakan harga komoditas global.
  • Relaksasi disebut akan bersifat terukur – produksi didorong naik saat harga tinggi, namun direm kembali bila harga mulai melemah demi menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.
  • Harga batu bara dunia kini mendekati US$150 per ton, melonjak drastis dari US$104,85 pada awal Januari 2026, dipicu perang Israel-Iran dan gangguan pasokan dari tambang-tambang di China.

Inilahdata.com – Angin segar berhembus bagi industri batu bara nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka kemungkinan produksi batu bara melampaui batas yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebesar 600 juta ton. Keputusan ini bukan tanpa alasan, ketegangan geopolitik global yang terus memanas dinilai menciptakan momentum harga yang sayang untuk dilewatkan.

“Terkait dengan RKAB, termasuk batu bara, kami perhatikan betul kecenderungan dari geopolitik, ketegangan Timur Tengah, fluktuasi global. Idealnya pemerintah, pengusaha, dan rakyat berkepentingan agar harga bagus dan produksi kita juga banyak supaya pengusaha untung, negara untung, rakyat dapat dampak positif. Atas dasar itu, kami akan berikan relaksasi yang terukur, kalau harga bagus, kita tingkatkan produksi. Kalau harganya mulai melemah, kita akan buat kebijakan agar keseimbangan pasokan dan permintaan tetap terjaga,” papar Bahlil usai pertemuan dengan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan COO Danantara Dony Oskaria di Gedung DPR, Senin (8/6/2026).

Domestik Aman, Ekspor Jadi Pertimbangan

Ditanya soal besaran relaksasi yang akan diizinkan, Bahlil memilih tidak menyebut angka pasti. Ia menegaskan bahwa kebutuhan dalam negeri, mulai dari PLN, sektor pupuk, hingga industri lainnya, sudah dalam kondisi terpenuhi dan tidak bermasalah. Fokus pemerintah kini beralih pada peluang ekspor di tengah harga global yang sedang menguat.

“Untuk harga global, kita akan melihat situasinya. Kalau harganya bagus, ya kita akan lakukan relaksasi yang terukur. Tujuannya agar kita mendapatkan harga yang baik dan devisa bisa masuk,” jelasnya.

Soal angka konkret, Bahlil hanya berucap singkat: “Nanti kita lihat perkembangannya.”

Ironi Kebijakan: Pangkas Dulu, Longgarkan Kemudian

Keputusan ini menarik dicermati karena merupakan perubahan arah dari kebijakan yang ditetapkan hanya beberapa bulan lalu. Pada awal Januari 2026, Bahlil justru mengumumkan pemangkasan target produksi, dari realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton menjadi sekitar 600 juta ton atau turun 24%, ddengan alasan menjaga harga dan melestarikan cadangan batu bara untuk generasi mendatang.

“Batu bara yang diperdagangkan secara global mencapai 1,3 miliar ton. Dari jumlah itu, Indonesia menyuplai 514 juta ton atau 43 persen, akibatnya keseimbangan pasokan dan permintaan tidak terjaga, dan harga batu bara pun turun. Karena itu kami akan revisi kuota RKAB, produksi kita turunkan supaya harga bagus dan cadangan tambang kita jaga untuk anak cucu,” kata Bahlil dalam konferensi pers Capaian Kinerja 2025 Kementerian ESDM di Jakarta, Januari lalu.

Kini, dengan harga yang sudah berbalik arah secara signifikan, pemerintah pun mempertimbangkan untuk kembali membuka keran produksi.

Harga Meroket, China Jadi Bahan Bakarnya

Harga batu bara dunia memang tengah dalam tren kenaikan yang tajam. Berdasarkan data Refinitiv per Jumat (5/6/2026), harga kontrak pengiriman dua bulan tercatat di level US$147,5 per ton, nyaris menyentuh US$150. Angka ini jauh dari posisi awal tahun yang hanya berada di US$104,85 per ton pada 1 Januari 2026.

Salah satu pemicu utama lonjakan adalah sentimen dari China. Pada perdagangan Senin (1/6/2026), harga batu bara melejit 6,87% dalam sehari setelah pertemuan keselamatan tambang di Provinsi Shanxi memunculkan kekhawatiran soal gangguan pasokan, menyusul kecelakaan fatal di sejumlah tambang sebulan sebelumnya.

Selain faktor China, eskalasi konflik Israel-Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 juga menjadi akselerator tersendiri. Dalam hitungan hari setelah perang meletus, harga batu bara langsung melonjak dari US$116,9 per ton pada 27 Februari menjadi US$138 per ton pada 3 Maret 2026, kenaikan yang mencerminkan betapa sensitifnya pasar energi global terhadap gejolak geopolitik. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%