
- OJK mencatat outstanding pembiayaan pinjaman online mencapai Rp102,07 triliun per April 2026, tumbuh 26,11 persen secara tahunan.
- Tingkat wanprestasi pinjaman online di atas 90 hari (TWP90) berada pada level 4,62 persen.
- Industri pergadaian mencatat pertumbuhan lebih tinggi dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp157,20 triliun atau naik 56,80 persen.
- Total aset industri pergadaian meningkat 53,50 persen menjadi Rp188,52 triliun.
- Sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) masih tertekan dengan penyaluran pinjaman turun 4,72 persen menjadi Rp1,01 triliun.
Inilahdata.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat industri pinjaman daring (pindar) atau peer-to-peer lending masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat hingga April 2026. Nilai outstanding pembiayaan tercatat mencapai Rp102,07 triliun atau meningkat 26,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro (LKM), dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, mengatakan capaian tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pembiayaan berbasis digital.
“Pada industri pindar, outstanding pembiayaan pada April 2026 tumbuh 26,11 persen year on year dengan nilai nominal sebesar Rp102,07 triliun,” kata Agusman dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB), Jumat (5/6/2026).
Meski mencatat pertumbuhan signifikan, OJK tetap memantau kualitas pembiayaan di sektor tersebut. Hingga April 2026, tingkat wanprestasi di atas 90 hari atau TWP90 tercatat berada pada level 4,62 persen.

Di sisi lain, industri pergadaian justru membukukan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan sektor pinjaman daring. OJK mencatat penyaluran pembiayaan pergadaian mencapai Rp157,20 triliun atau melonjak 56,80 persen secara tahunan.
Tak hanya itu, total aset industri pergadaian juga mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp188,52 triliun, atau tumbuh 53,50 persen dibandingkan posisi pada April tahun sebelumnya.
“Pada industri pergadaian, penyaluran pembiayaan pada April 2026 tumbuh sebesar 56,80 persen year on year menjadi Rp157,20 triliun, dengan pembiayaan terbesar disalurkan dalam bentuk produk gadai sebesar Rp132,29 triliun atau 84,15 persen dari total pembiayaan,” ujar Agusman.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada industri Lembaga Keuangan Mikro (LKM). OJK mencatat sektor tersebut masih menghadapi tekanan, tercermin dari penurunan penyaluran pinjaman maupun aset.
Hingga April 2026, penyaluran pembiayaan LKM tercatat sebesar Rp1,01 triliun atau turun 4,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai aset LKM juga mengalami penurunan dari Rp1,61 triliun menjadi Rp1,58 triliun, atau terkoreksi sekitar 1,86 persen secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun sektor pembiayaan digital dan pergadaian terus berkembang pesat, sebagian lembaga keuangan mikro masih menghadapi tantangan dalam menjaga pertumbuhan bisnis dan penyaluran kredit kepada masyarakat. (**)