
Inilahdata.com – Irman Larapa Arfani, 39 tahun, menghabiskan bertahun-tahun membangun kebunnya. Tujuh ratus pohon pala, dua ratus pisang, seratus dua puluh kelapa, tujuh ratus lima puluh coklat, dua ratus durian. Semua berada dalam satu wilayah yang kini tertutup lumpur merah setebal belasan sentimeter.
Ketika tim investigasi WALHI Maluku Utara dan Konsorsium Pengacara Lingkungan (KAPAL) Malut menghitung kerugiannya secara menyeluruh termasuk tanaman yang belum memasuki masa panen, angkanya mencapai Rp 94,9 miliar. Satu orang, satu banjir, hampir seratus miliar.
Tapi Irman bukan yang paling besar kerugiannya. Oktafir Jurumudi, 39 tahun, yang kehilangan lebih dari seratus pohon pala dalam satu lahan produktifnya, tercatat menanggung potensi kerugian hingga Rp 312 miliar ketika seluruh tanaman tahunannya diperhitungkan dalam satu siklus produksi penuh.
Inilah gambaran yang termuat dalam Laporan Forensik Peristiwa Banjir di Pulau Obi yang disusun WALHI Maluku Utara bersama KAPAL Malut, berdasarkan 31 wawancara terstruktur terhadap warga terdampak yang dilakukan pada 6–20 Agustus 2025.
Total estimasi kerugian pertanian yang berhasil dikompilasi dari sepuluh kepala keluarga petani di Desa Kawasi mencapai Rp 498,39 miliar, hampir setengah triliun rupiah, belum termasuk kerugian rumah tangga, biaya perbaikan, tanam ulang, dan pendapatan yang hilang selama masa pemulihan.