
- RUPST Telkom Indonesia resmi mengangkat Anthony Leong sebagai Komisaris Independen menggantikan Rionald Silaban, wajah muda berusia 34 tahun dengan rekam jejak di persimpangan dunia digital, akademik, dan politik.
- Anthony bukan komisaris biasa, ia membangun reputasinya dari bawah, mulai dari mendirikan perusahaan konsultan digital, mengomandani tim relawan AI Prabowo-Gibran, hingga duduk sebagai komisaris di PLN Indonesia Power.
- Susunan lengkap Dewan Komisaris dan Direksi Telkom hasil RUPST Tahun Buku 2025 kini resmi terbentuk dengan Dian Siswarini sebagai Direktur Utama dan Angga Raka Prabowo sebagai Komisaris Utama.
Inilahdata.com – Ada yang menarik dari keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. pekan ini. Di antara sederet nama yang mengisi jajaran komisaris perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini, satu nama mencuri perhatian, bukan karena paling senior, melainkan justru sebaliknya.

Anthony Leong. Lahir 14 Maret 1992. Tiga puluh empat tahun.
Di usia yang oleh sebagian orang masih dianggap terlalu muda untuk duduk di kursi pengawasan korporasi sebesar Telkom, Anthony justru melangkah masuk menggantikan Rionald Silaban sebagai Komisaris Independen. Sebuah perjalanan yang, bila ditelusuri dari awal, bukan sesuatu yang datang dari langit.
Membangun dari Fondasi

Cerita Anthony dimulai dari kampus. Ia menempuh Sarjana Ilmu Sosial di FISIP Universitas Indonesia, salah satu tempat paling kompetitif untuk menumbuhkan kepekaan terhadap komunikasi dan dinamika sosial. Di sanalah benih ketertarikannya pada dunia pemasaran digital mulai bersemi.
Ia tidak berhenti di sana. Magister Ilmu Komunikasi dari Universitas Prof. Dr. Moestopo memperdalam pemahaman teoritisnya, sebelum akhirnya ia menuntaskan gelar Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran, sebuah perjalanan akademik yang linear, fokus, dan tidak tergoda untuk melompat-lompat ke disiplin yang berbeda.
Ada sesuatu yang bisa dibaca dari pilihan itu: seseorang yang tahu betul ke mana ia ingin pergi.
Wirausahawan yang Tidak Hanya Bicara
Di luar ruang kuliah, Anthony memilih jalan yang tidak semua akademisi berani tempuh, ia terjun langsung ke medan bisnis. Ia mendirikan Menara Digital, sebuah perusahaan konsultan komunikasi dan strategi pemasaran digital yang melayani korporasi hingga tokoh publik. Bukan sebagai karyawan, bukan sebagai konsultan paruh waktu, melainkan sebagai pendiri dan CEO.
Dari sana ia juga membangun HIPMI Digital Academy, sebuah inisiatif yang lahir dari keyakinan bahwa pengusaha muda di daerah tidak boleh tertinggal dari gelombang transformasi digital yang terus bergerak tanpa menunggu siapapun.
Dua langkah itu mencerminkan sesuatu yang lebih dari sekadar ambisi, ia adalah orang yang membangun, bukan hanya merencanakan.
Kepercayaan yang Datang Bertahap
Kepercayaan di lingkaran BUMN tidak datang sekaligus. Sebelum Telkom, Kementerian BUMN sudah lebih dulu menaruh kepercayaan kepadanya dengan posisi Komisaris Independen di PLN Indonesia Power, salah satu anak usaha strategis PLN di sektor pembangkitan energi. Di sanalah ia belajar cara kerja tata kelola korporasi berskala besar, memahami ritme pengawasan yang tidak bisa dilakukan dengan setengah hati.
Ia juga mengajar sebagai Dosen Ahli di Universitas Pelita Harapan, menjaga satu kakinya tetap di dunia yang melahirkannya, berbagi apa yang ia tahu kepada generasi yang sedang mencari arah.
Ketika Politik Bertemu Teknologi
Namun ada satu babak dalam perjalanan Anthony yang mungkin paling banyak dibicarakan orang, perannya sebagai Koordinator Nasional PRIDE, tim digital relawan Prabowo-Gibran pada Pemilu Presiden lalu. Di sini ia tidak sekadar ikut-ikutan. Ia mengomandani tim relawan berbasis kecerdasan buatan untuk membangun dan menjaga narasi di ruang digital yang semakin riuh dan kompleks.
Ini bukan debutnya di panggung komunikasi politik. Pada Pilpres 2019, ia sudah lebih dulu masuk dalam tim Direktorat Media dan Komunikasi BPN Prabowo-Sandi, membuktikan bahwa kepercayaan yang ia terima sekarang bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba.
Di ekosistem organisasi pengusaha muda, namanya pun semakin diperhitungkan. Sebagai Ketua BPP HIPMI Bidang Sinergitas BUMN, Danantara, dan BUMD, ia membangun jaringan yang merentang dari Jakarta hingga daerah-daerah yang jarang mendapat sorotan. Tidak mengherankan jika namanya kini masuk dalam bursa calon kuat Ketua Umum BPP HIPMI periode 2026–2029.
Telkom dan Tanggung Jawab Baru
Kini, dengan duduknya Anthony di jajaran Komisaris Independen Telkom, sebuah babak baru dimulai. Bukan hanya baginya secara pribadi, tetapi juga bagi perusahaan yang sedang bernavigasi di tengah lanskap digital yang berubah lebih cepat dari yang bisa diprediksi siapapun.
Telkom butuh pengawas yang tidak hanya mengerti angka dan laporan keuangan, tetapi juga memahami bagaimana narasi digital dibentuk, bagaimana ekosistem teknologi bergerak, dan bagaimana generasi baru mendefinisikan ulang apa artinya terhubung.
Apakah Anthony adalah jawaban dari kebutuhan itu? Waktu yang akan menjawab. Tapi rekam jejaknya setidaknya memberi alasan untuk tidak meragukan pilihan tersebut.
Susunan Lengkap Dewan Komisaris dan Direksi Telkom Hasil RUPST Tahun Buku 2025
Dewan Komisaris: Komisaris Utama: Angga Raka Prabowo · Komisaris Independen: Deswandhy Agusman · Komisaris Independen: Anthony Leong · Komisaris Independen: Ira Noviarti · Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim · Komisaris: Rizal Mallarangeng · Komisaris: Edwin Hidayat Abdullah · Komisaris: Ossy Dermawan
Jajaran Direksi: Direktur Utama: Dian Siswarini · Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine · Direktur Human Capital Management: Willy Saelan · Direktur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra · Direktur Network: Nanang Hendarno · Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji · Direktur Wholesale & International Service: Budi Satria Dharma Purba · Direktur IT Digital: Faizal R. Djoemadi · Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana (**)