
- IHSG kembali terjerembab dan sempat anjlok lebih dari 4% pada awal perdagangan, mencerminkan kepanikan investor yang masih membayangi pasar.
- Memanasnya kembali konflik Iran-Israel meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, harga energi, dan arus modal ke negara berkembang.
- Meski pemerintah menegaskan kondisi fiskal tetap terjaga, investor masih mencermati risiko pelebaran defisit APBN serta pelemahan rupiah yang dipicu penguatan dolar AS.
Inilahdata.com – Tekanan di pasar saham domestik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026), melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

Hingga penutupan sesi pertama, IHSG berada di level 5.434,30 atau turun 160,46 poin setara 2,87 persen. Bahkan dalam pergerakan intraday, indeks sempat menyentuh posisi terendah di level 5.346,91.
Gelombang aksi jual terlihat merata di hampir seluruh sektor. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 646 saham berada di zona merah, sementara hanya 88 saham yang menguat dan 79 saham bergerak stagnan. Aktivitas transaksi tercatat cukup tinggi dengan nilai perdagangan mencapai Rp12,92 triliun, volume 20,24 miliar saham, serta frekuensi transaksi sekitar 1,38 juta kali.
Tekanan jual bahkan sempat memuncak pada awal perdagangan. Dalam kurun sekitar 10 menit setelah pembukaan pasar, IHSG tercatat merosot lebih dari 4 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sentimen kepanikan masih mendominasi perilaku investor.

Hampir seluruh sektor mengalami pelemahan. Hanya sektor barang baku yang mampu bertahan di zona hijau. Sebaliknya, sektor kesehatan, teknologi, dan konsumer non-primer menjadi kelompok yang mengalami koreksi paling dalam.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi pemberat utama pergerakan indeks, di antaranya TLKM, BBRI, dan BBCA.
Pelaku pasar saat ini masih dibayangi berbagai risiko eksternal maupun domestik. Salah satu faktor yang menjadi perhatian utama adalah meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke wilayah Israel pada Minggu (7/6/2026), menandai eskalasi baru setelah gencatan senjata antara Teheran dan Washington yang berlaku sejak April lalu.
Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, menilai blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat serta serangan Israel di Lebanon sebagai bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dicapai. Ia menegaskan bahwa aset Israel dan pangkalan militer AS di kawasan kini dianggap sebagai target yang sah.
Menanggapi perkembangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut serangan Iran tidak akan membantu proses negosiasi yang sedang berlangsung. Trump juga dikabarkan akan berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu guna mencegah langkah balasan yang berpotensi memperluas konflik.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa gencatan senjata hanya dapat berjalan apabila konflik dihentikan di seluruh front, termasuk di Lebanon. Iran juga memperingatkan akan mengambil respons yang lebih luas apabila serangan kembali terjadi.
Meningkatnya tensi geopolitik tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global. Selain mengancam proses perdamaian yang masih rapuh, konflik juga berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi dunia.
Dari dalam negeri, perhatian investor turut tertuju pada kondisi fiskal pemerintah. Dalam konferensi pers APBN KiTA yang digelar Jumat (5/6/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hingga akhir Mei masih menunjukkan perkembangan yang positif.
“Realisasi APBN sampai Mei 2026 terus menunjukkan hasil yang positif,” ujar Purbaya.
Menurutnya, di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya risiko geopolitik, fondasi ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang solid. Pemerintah juga menegaskan bahwa pengelolaan pembiayaan anggaran dilakukan secara hati-hati, efisien, dan fleksibel sesuai dinamika pasar keuangan.
Meski demikian, defisit APBN tercatat meningkat menjadi Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Posisi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan akhir April yang berada di angka Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap PDB.
Bagi investor, perkembangan fiskal tetap menjadi perhatian penting, terutama ketika konflik geopolitik berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan beban biaya di berbagai sektor ekonomi.
Tekanan juga datang dari pasar valuta asing. Indeks dolar AS kembali menguat hingga menembus level 100,069, tertinggi sejak akhir Maret 2026. Penguatan dolar mencerminkan meningkatnya permintaan investor terhadap aset-aset aman dan berpotensi memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Situasi tersebut ikut menekan nilai tukar rupiah. Dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memperbesar ketidakpastian global.
“Selain itu, kebutuhan dolar di dalam negeri juga masih cukup besar, sejalan dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri,” ujar Destry, sebagaimana dilansir dari CNBCIndonesia, Senin (8/6/2026)
Menurut Destry, tingginya harga minyak akibat konflik geopolitik berisiko meningkatkan tekanan inflasi global sekaligus mendorong perpindahan dana investor ke aset yang dianggap lebih aman. (**)