
Inilahdata.com – Raksasa sawit global, Wilmar International Ltd., mengalami tekanan besar di pasar modal setelah pemerintah Indonesia menyeret nama perusahaan tersebut dalam dugaan pelanggaran ekspor minyak sawit.

Saham Wilmar yang diperdagangkan di Singapura sempat merosot hingga 11% pada perdagangan Kamis, menjadi penurunan intraday terdalam sejak 2020.
Meski sempat memangkas sebagian kerugian, saham perusahaan tetap berada di level tertekan dan diperdagangkan pada harga S$3,45 per lembar pada pukul 09.45 waktu setempat.
Tekanan jual terlihat sangat kuat. Volume transaksi melonjak drastis hingga sembilan kali lipat dibanding rata-rata perdagangan 20 hari terakhir yang berada di angka 78.988 saham.

Nama Wilmar Disebut dalam Dugaan Manipulasi Ekspor
Wilmar, yang dikenal sebagai pengolah minyak sawit terbesar di dunia dengan jaringan perkebunan luas di Indonesia, disebut bersama Musim Mas Group sebagai bagian dari 10 produsen sawit yang tengah didalami terkait dugaan praktik under-invoicing dan transfer pricing ekspor.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut dugaan tersebut sedang menjadi perhatian pemerintah.
Praktik ini juga menjadi salah satu alasan yang sebelumnya disinggung Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan rencana pemerintah untuk memperbesar kendali terhadap ekspor komoditas nasional melalui badan usaha milik negara baru.
Tekanan Baru di Tengah Kasus Lama
Penyelidikan terbaru ini menambah daftar tantangan yang dihadapi Wilmar di Indonesia.
Pada tahun lalu, perusahaan tersebut telah menyerahkan jaminan sebesar Rp12 triliun, yang kala itu setara sekitar US$729 juta, kepada Kejaksaan Agung sebagai bagian dari penyelidikan terpisah terkait ekspor minyak sawit.
Menanggapi perkembangan terbaru, Wilmar menyatakan tengah menyiapkan pernyataan resmi yang akan dirilis pada Kamis sore.
Pernyataan Prabowo Bikin Investor Cemas
Langkah pemerintah untuk memperketat kontrol ekspor komoditas memicu kegelisahan di kalangan investor dan pelaku industri sawit.
Pernyataan Presiden Prabowo pekan lalu disebut mengejutkan pasar, terutama karena hingga kini belum ada kejelasan teknis mengenai bagaimana kerangka ekspor baru akan dijalankan.
Ketidakpastian itu mulai berdampak langsung pada aktivitas perdagangan.
Lelang minyak sawit mentah yang terkait dengan pemerintah Indonesia, yang selama ini menjadi acuan harga domestik sekaligus penawaran ekspor, dilaporkan terhenti sejak pengumuman tersebut disampaikan.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan pengolah juga memilih menahan pembelian tandan buah segar dari petani kecil sambil menunggu kepastian kebijakan.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran lebih luas: jika ketidakjelasan berlanjut, tekanan tidak hanya menghantam emiten besar seperti Wilmar, tetapi juga bisa merembet hingga ke rantai pasok sawit nasional. (**)