
Poin-Poin Penting
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons narasi “sell Indonesia” yang ramai dibahas media internasional.
- Purbaya menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tidak bisa dinilai hanya dari pergerakan pasar jangka pendek.
- Ia menilai sebagian analisis asing belum sepenuhnya memahami kondisi riil perekonomian Indonesia.
- Kementerian Keuangan mempercepat publikasi APBN KiTA untuk memberikan gambaran terkini mengenai kondisi fiskal pemerintah.
- Pemerintah menegaskan fiskal Indonesia masih sehat dan ekonomi nasional tetap cukup kuat.
- Investor diminta mencermati indikator ekonomi secara lebih komprehensif, tidak hanya melihat rupiah dan pasar saham.
- Purbaya menyebut kekuatan fiskal menjadi modal penting menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
- Pemerintah juga meyakini arah pembangunan nasional tetap terjaga di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
- Bloomberg sebelumnya melaporkan:
- IHSG terkoreksi sekitar 36 persen sepanjang 2026.
- Rupiah melemah lebih dari 7 persen terhadap dolar AS.
- Terjadi arus keluar dana asing dari pasar obligasi domestik.
- Pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski pasar keuangan menghadapi tekanan.
Inilahdata.com, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi sorotan media internasional terkait fenomena “sell Indonesia” yang mencuat di tengah tekanan pada pasar keuangan domestik. Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tidak dapat dinilai hanya dari pergerakan pasar dalam jangka pendek.

Menurut Purbaya, sejumlah analisis yang berkembang saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil perekonomian nasional. Investor, kata dia, perlu melihat berbagai indikator ekonomi secara lebih komprehensif sebelum mengambil kesimpulan mengenai prospek Indonesia.
Purbaya mengaku telah membaca laporan media internasional yang mengulas tren penjualan aset Indonesia. Namun, ia menilai sebagian analisis tersebut kurang memahami kondisi ekonomi Indonesia secara menyeluruh.
“Itu kan diterbitkan, itu tren jual Indonesia saya baca di Bloomberg ya, salah satu penulis mungkin nggak tahu keadaan Indonesia seperti apa,” ujar Purbaya di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Untuk meredam sentimen negatif di pasar, Kementerian Keuangan mempercepat publikasi laporan APBN KiTA. Langkah tersebut dilakukan agar pelaku pasar memperoleh gambaran terbaru mengenai kondisi fiskal pemerintah dan kesehatan ekonomi nasional.
Menurut Purbaya, data dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih terjaga dengan baik dan perekonomian tetap berada pada jalur yang positif.
“Makanya kemarin sengaja saya percepat APBN KiTA, untuk melihatkan ke pasar bahwa kondisi fiskal kita baik, ekonominya juga cukup kuat,” katanya.
Ia berharap keterbukaan data fiskal dapat membantu mengurangi kekhawatiran investor yang belakangan meningkat akibat pelemahan pasar keuangan domestik. Purbaya juga meminta investor untuk tidak hanya berfokus pada pergerakan nilai tukar rupiah maupun pasar saham, melainkan memahami kondisi ekonomi secara lebih mendalam.
Menurutnya, kekuatan fiskal dan ekonomi Indonesia masih menjadi fondasi utama dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Ia juga menilai kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mampu menjaga arah pembangunan nasional sesuai strategi yang telah ditetapkan pemerintah.
Sebelumnya, media internasional Bloomberg menyoroti pelemahan pasar keuangan Indonesia sepanjang 2026. Dalam laporan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebut telah terkoreksi sekitar 36 persen dan menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini. Selain itu, rupiah dilaporkan melemah lebih dari 7 persen terhadap dolar AS dan diikuti arus keluar dana asing dari pasar obligasi domestik.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan mampu menjadi penopang stabilitas di tengah tekanan pasar global yang masih berlangsung. (sat)