
- Konsumsi melambat lebih dalam secara tahunan. IPR Mei 2026 turun jadi 223,4, dengan kontraksi tahunan yang justru melebar dari 3,7% (April) jadi 3,9% (Mei), perbaikan bulanan hanya efek musim liburan, bukan pemulihan daya beli.
- Tekanan sudah merambat ke kebutuhan pokok. Penjualan makanan-minuman-tembakau ikut terkontraksi, sementara barang tahan lama seperti elektronik dan sandang mengalami penurunan paling dalam.
- Keyakinan konsumen melemah dua bulan beruntun, dari 123 (April) ke 117,8 (Juni), level terendah sejak September 2025, seiring meningkatnya ekspektasi inflasi, membuat ekonom menyebutnya sebagai alarm bagi daya tahan kelas menengah
Konsumsi rumah tangga kehilangan tenaga — bukan cuma melambat, tapi kian tertinggal dibanding tahun lalu.
Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mencatat perlambatan yang kini merambat dari barang sekunder ke kebutuhan pokok, seiring keyakinan konsumen yang melemah dua bulan beruntun.
Perbaikan dari April ke Mei lebih mencerminkan efek dasar musiman — normalisasi setelah lonjakan Ramadan dan Lebaran — ketimbang pemulihan daya beli yang sesungguhnya.
Makanan, minuman, dan tembakau — tulang punggung belanja rumah tangga — kini ikut terkontraksi. Barang tahan lama seperti elektronik dan sandang tertekan jauh lebih dalam.
Pelemahan keyakinan konsumen mulai menjadi sinyal melemahnya daya tahan konsumsi rumah tangga, terutama pada kelompok berpendapatan menengah.
Indeks Keyakinan Konsumen masih di atas ambang optimistis, tapi trennya konsisten menurun — ke level terendah sejak September 2025.
Biasanya, ekspektasi inflasi yang naik mendorong masyarakat berbelanja lebih awal. Kali ini terjadi sebaliknya — pertanda tekanan daya beli lebih dominan ketimbang dorongan psikologis belanja.
Ekspektasi Harga Umum untuk proyeksi dua bulan ke depan, naik dari 175,8
Inflasi tahunan Juni 2026, ikut mengerek biaya hidup rumah tangga
PMI Manufaktur yang melemah, mengindikasikan permintaan domestik yang seret
Kelas menengah tertekan biaya hidup dari berbagai arah sekaligus — mulai pelemahan rupiah, kenaikan harga pangan, hingga penyesuaian suku bunga acuan.
Halaman : 1 2