Rabu, 29 Jul 2026 - :
9 Jul 2026 - 15:26 | 90 Views | 1 Suka

Belanja Rakyat Kian Melempem, Sinyal Redup di Tengah Klaim Pertumbuhan Ekonomi

11 mnt baca

Inilahdata.com – Ada yang janggal ketika angka pertumbuhan ekonomi masih terlihat mentereng, tapi rak-rak minimarket dan gerai elektronik justru sepi peminat.

Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia edisi terbaru menangkap kejanggalan itu dengan cukup gamblang: mesin konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi andalan pertumbuhan domestik, tampak mulai kehabisan napas.

Berdasarkan data yang dirilis BI, Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Mei 2026 tercatat 223,4, turun dari 226,9 pada April.

Secara bulanan penurunannya memang tak sedalam April yang sempat anjlok drastis, tetapi secara tahunan justru semakin dalam: dari kontraksi 3,7 persen pada April menjadi 3,9 persen pada Mei.

Artinya, dibanding setahun lalu, belanja masyarakat di gerai ritel bukannya membaik, malah kian tertinggal.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengaitkan sedikit perbaikan bulanan itu dengan musim liburan keagamaan.

Menurutnya, momentum Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak sedikit mengerek permintaan masyarakat dibanding bulan sebelumnya. Namun ia sendiri mengakui bahwa secara tahunan performa penjualan eceran masih tertekan karena permintaan yang lesu di sebagian besar kelompok barang.

Kebutuhan Pokok Pun Mulai Terseret

Yang membuat data ini pantas dicermati bukan cuma soal ritel secara umum, melainkan ke mana arah pelemahannya merambat.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang selama ini menjadi tulang punggung belanja rumah tangga sehari-hari, ikut tercatat melemah, dengan kontraksi tahunan sekitar 4 persen pada Mei.

Kelompok ini biasanya paling tahan banting karena sifatnya kebutuhan pokok, bukan barang sekunder yang gampang ditunda pembeliannya.

Ketika belanja untuk kebutuhan dasar pun ikut tergerus, itu pertanda tekanan terhadap kantong masyarakat sudah menembus batas konsumsi yang sifatnya esensial, bukan cuma pengeluaran gaya hidup.

Sementara itu, kelompok barang tahan lama menjadi yang paling babak belur. Penjualan peralatan informasi dan komunikasi masih terkontraksi cukup tajam secara tahunan, begitu pula subkelompok sandang.

Pola ini konsisten dengan yang diamati Permata Institute for Economic Research: masyarakat kelas menengah mulai mengubah kebiasaan belanja barang tahan lama, misalnya beralih dari kendaraan baru ke kendaraan bekas karena harganya lebih terjangkau.

Keyakinan Konsumen Terus Merosot, Dua Bulan Beruntun

Gambaran pelemahan daya beli ini juga tecermin dari sisi psikologis konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI turun untuk dua bulan berturut-turut: dari 123 pada April, ke 120,9 pada Mei, lalu merosot lagi ke 117,8 pada Juni, level terendah sejak September 2025.

Penurunan ini terjadi baik pada persepsi kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi enam bulan ke depan, termasuk soal ketersediaan lapangan kerja.

Kendati begitu, Ramdan menegaskan bahwa keyakinan konsumen sejatinya masih berada di zona optimistis karena tetap di atas ambang batas 100.

Ia menyebut kondisi ini dipengaruhi turunnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen dibanding bulan sebelumnya.

Namun bagi sejumlah ekonom, penurunan beruntun ini tak bisa dianggap remeh.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan IKK memang belum keluar dari zona optimistis, tetapi mulai jadi sinyal daya tahan konsumsi rumah tangga yang melemah.

Ia menyoroti bahwa tekanan sudah mulai terasa pada kelompok berpendapatan menengah, terlihat dari makin besarnya porsi pendapatan yang habis untuk konsumsi sementara porsi tabungan justru menyusut, sebuah pola yang menandakan masyarakat mulai menguras “bantalan” keuangan mereka, bukan menambahnya.

Josua mengaitkan tekanan ini dengan kombinasi kenaikan biaya hidup, laju inflasi tahunan yang mencapai 3,34 persen pada Juni, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendorong naiknya harga barang konsumsi.

Ancaman Ganda: Ekspektasi Harga Naik, tapi Belanja Malah Turun

Di saat daya beli melemah, ekspektasi inflasi masyarakat justru menunjukkan tren naik.

Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk proyeksi enam bulan ke depan diperkirakan meningkat, didorong oleh kenaikan harga bahan baku yang berpotensi diteruskan ke harga jual di tingkat konsumen.

Kondisi ini sebetulnya berlawanan dengan pola konsumsi yang biasa terjadi.

Secara teori, ketika masyarakat memperkirakan harga akan naik, mereka cenderung mempercepat belanja agar tidak kena harga lebih mahal nanti.

Tapi yang terjadi saat ini justru sebaliknya: penjualan ritel tetap tertekan meski ekspektasi kenaikan harga menguat. Ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap daya beli saat ini jauh lebih dominan dibanding dorongan psikologis untuk berbelanja lebih awal.

Bukan Sekadar Fluktuasi Musiman, tapi Gejala Struktural

Sejumlah kalangan menilai persoalan ini lebih dalam dari sekadar fluktuasi bulanan.

Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Rizal Taufikurrahman, menyoroti bahwa kelas menengah, kelompok yang tidak mendapat bantalan subsidi pemerintah, ikut terimbas kenaikan biaya hidup dari berbagai arah sekaligus.

Mulai dari pelemahan rupiah, kenaikan harga pangan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, hingga naiknya suku bunga acuan BI.

Rizal mengingatkan bahwa menjaga daya beli kelas menengah sama pentingnya dengan menjaga stabilitas fiskal, sebab kelompok inilah yang selama ini menopang sebagian besar konsumsi domestik.

Data Badan Pusat Statistik bahkan mencatat kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah menyumbang lebih dari 80 persen konsumsi nasional, sehingga ketika daya beli mereka tergerus, dampaknya bukan cuma dirasakan di level rumah tangga, tapi merembet ke seluruh mesin pertumbuhan ekonomi.

Dengan kata lain, apa yang tergambar dari Survei Penjualan Eceran bulan ini bukan sekadar potret sesaat.

Ia adalah cermin dari pergeseran perilaku konsumen yang menahan belanja, memprioritaskan kebutuhan pokok, dan menunda pembelian barang non-esensial, di tengah ketidakpastian pendapatan, suku bunga yang masih tinggi, dan biaya hidup yang terus merangkak naik.Tiga Poin Ringkasan

Sumber: Bank Indonesia (Survei Penjualan Eceran & Survei Konsumen edisi Juni-Juli 2026), Kompas.com, Kontan.co.id, CNBC Indonesia, Republika, Tribunnews, Bisnis.com, Tempo.co, Liputan6.com.

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%