
Inilahdata.com – Ada sebuah anomali yang sulit diabaikan dalam laporan tahunan paling berpengaruh di dunia soal daya saing global.
Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan produk domestik bruto mencapai US$1,45 triliun dan populasi 284 juta jiwa, justru menempati posisi paling bawah di antara negara-negara ASEAN dalam IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) 2026.
Laporan IMD 2026 yang mencakup 70 ekonomi dunia mengonfirmasi bahwa Indonesia menempati peringkat ke-48 secara keseluruhan.
Posisi ini memburuk dari peringkat ke-40 pada 2025 dan jauh dari capaian tertinggi ke-27 yang diraih pada 2024. Artinya, dalam rentang dua tahun saja, Indonesia kehilangan 21 anak tangga.
Yang membuat temuan ini terasa paradoksal adalah kondisi makroekonomi Indonesia yang secara statistik masih tergolong solid. Pertumbuhan ekonomi riil 5,1 persen menempatkan Indonesia di posisi ke-10 dunia. Inflasi hanya 1,91 persen.
Angkatan kerja berjumlah lebih dari 155 juta orang, terbesar keempat di dunia. Namun semua keunggulan skala itu tidak mampu mendongkrak posisi daya saing secara keseluruhan. IMD pada dasarnya mengirim pesan yang tegas: besarnya ekonomi bukan jaminan daya saing.