
Ketika empat pilar utama IMD ditelaah lebih dalam, gambarannya menjadi lebih jelas. Kinerja ekonomi yang mengukur pertumbuhan, perdagangan, investasi, dan ketenagakerjaan, justru tidak bergerak, tetap di peringkat 24 seperti tahun sebelumnya.
Yang bergerak, dan bergerak sangat dramatis, adalah pilar efisiensi bisnis. Dari peringkat 26 pada 2025, indikator ini rontok ke posisi 50 dalam satu tahun.
Jika ditelusuri lebih jauh ke 2024, saat Indonesia ada di peringkat 14, maka kejatuhan dalam dua tahun mencapai 36 tingkat. Ini bukan sekadar koreksi teknis — ini sinyal struktural.
Efisiensi bisnis dalam kerangka IMD mengukur hal-hal yang menentukan kualitas ekosistem usaha, mulai dari produktivitas tenaga kerja, praktik manajemen perusahaan, sikap dan orientasi bisnis, akses pembiayaan.
Bahkan pada kemampuan perusahaan menciptakan nilai tambah. Ketika pilar ini runtuh, itu berarti pelaku usaha semakin kesulitan beroperasi, bersaing, dan berkembang.
Pilar efisiensi pemerintah sedikit melemah dari 34 ke 38, sementara infrastruktur nyaris stagnan dari 57 ke 58 — dua indikator yang memang sudah lama menjadi titik lemah, dan belum menunjukkan perbaikan berarti.
Di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia kian terpojok. Dari enam negara ASEAN yang masuk dalam pemeringkatan IMD 2026, Indonesia berada di posisi paling buncit dengan peringkat ke-48 global.
Filipina, yang selama ini sering dianggap sebanding dengan Indonesia, kini unggul satu peringkat di posisi ke-47.
Singapura tetap mendominasi kawasan sekaligus meraih posisi pertama dunia. Malaysia naik ke peringkat ke-15. Thailand dan Vietnam berbagi posisi ke-26 dan ke-27.
Kesenjangan antara Indonesia dan tetangga-tetangga terdekatnya menjadi cermin dari perbedaan fundamental dalam kualitas ekosistem bisnis dan institusi.
Dalam kelompok Asia-Pasifik yang mencakup 15 ekonomi, Indonesia hanya lebih baik dari Mongolia — berada di peringkat ke-14 dari 15.