
Inilahdata.com – Cadangan beras negara ini belum pernah setinggi sekarang. Tapi di pasar, harga beras justru tak mau turun. Itulah paradoks yang sedang dihadapi tata kelola pangan Indonesia.
Di satu sisi, Perum Bulog mengelola stok cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 5,2 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah republik ini. Di sisi lain, harga beras medium dan premium di tingkat konsumen terus merangkak naik selama lima bulan berturut-turut dan bertahan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga beras medium secara nasional pada pekan ketiga Juni 2026 menyentuh Rp14.402 per kilogram, naik 0,38 persen dibandingkan Mei 2026. Beras premium bergerak lebih jauh lagi, mencapai Rp16.230 per kilogram atau naik 0,46 persen dalam periode yang sama. Keduanya melampaui HET yang ditetapkan pemerintah.
Pengamat kebijakan pangan, Khudori, menyebut fenomena ini sebagai anomali yang seharusnya tidak terjadi. Menurutnya, periode panen raya Februari hingga Mei 2026 semestinya menjadi momen pasokan berlimpah yang mampu meredam tekanan harga.
“Yang benar adalah harga beras stabil tinggi dan terus naik,” ujarnya, Rabu (24/06/2026), di Jakarta.
Masalah Bermula dari Sawah
Untuk memahami mengapa harga tak kunjung turun, perlu dilihat ke hulu rantai pasok: ke sawah dan lantai penggilingan.
Harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani telah lama bergerak di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan Rp6.500 per kilogram.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan rata-rata harga gabah nasional mencapai Rp6.951 per kilogram pada 7 Juni 2026, dan meningkat lagi menjadi Rp6.993 per kilogram pada 20 Juni 2026.
Di sentra-sentra produksi utama seperti Lampung dan Jawa Timur, harga bahkan sudah berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram.
Ini menciptakan tekanan ganda bagi para pengusaha penggilingan padi.
Mereka harus membeli bahan baku gabah dengan harga pasar yang mahal, tetapi secara regulasi diharapkan menjual beras sesuai HET yang disusun dengan asumsi harga gabah pada level HPP Rp6.500 per kilogram.
Akibatnya, margin produsen terjepit. Salah satu dampak yang sudah mulai terasa adalah semakin sulitnya menemukan beras premium di jaringan ritel modern.
Puncak panen raya Maret 2026 memang mencatatkan produksi GKG sebesar 8,71 juta ton. Namun setelah itu, volume produksi terus menyusut.
BPS memperkirakan produksi GKG pada Juni 2026 hanya sekitar 4,05 juta ton, turun sekitar 18 persen dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,94 juta ton.
Penyusutan pasokan gabah ini diperparah oleh persaingan sengit antara penggilingan swasta dengan Bulog yang sama-sama mengejar bahan baku.
Kapasitas penggilingan padi nasional yang jauh melampaui volume produksi gabah yang tersedia membuat perebutan bahan baku semakin intens.