Jumat, 26 Jun 2026 - :
26 Jun 2026 - 14:43

5,2 Juta Ton di Gudang Bulog, tapi Harga Beras Tak Kunjung Turun

12 mnt baca

SPHP yang Kehilangan Daya Tekan

Dalam kondisi normal, pemerintah mengandalkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disalurkan Bulog sebagai penyeimbang pasar.

Namun volume penjualan SPHP sepanjang Maret hingga 20 Juni 2026 hanya tercatat 361.667 ton, atau rata-rata sekitar 3.229 ton per hari, lebih rendah dari capaian tahun sebelumnya.

Bagi Khudori, celah ini menjadi ironi tersendiri. Bulog saat ini duduk di atas tumpukan stok 5,2 juta ton, tetapi distribusi ke pasar justru berjalan lebih lambat dari yang dibutuhkan.

“Dengan stok beras di gudang Bulog sebesar 5,2 juta ton, stok tertinggi sepanjang sejarah, ada keperluan mendesak untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah,” tegasnya.

Faktor Domestik Lebih Dominan

Peneliti Indef, Afaqa Hudaya, memperkuat pandangan bahwa dinamika dalam negeri jauh lebih berperan dalam membentuk harga beras ketimbang gejolak pasar global.

“Faktor-faktor domestik seperti harga gabah, kebijakan penyerapan beras pemerintah, biaya produksi, dan distribusi tampaknya berperan besar dalam pembentukan harga beras di pasar domestik,” kata Afaqa.

Ia mengakui produksi beras pada kuartal kedua 2026 turun sekitar 8,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski begitu, risiko terhadap ketersediaan nasional dinilai masih terkelola karena besarnya cadangan yang dimiliki pemerintah.

Untuk semester II/2026, Afaqa memperkirakan harga beras akan bertahan di level tinggi atau mengalami kenaikan moderat. Namun ancaman lonjakan yang lebih besar masih bisa dicegah apabila pemerintah mampu mengoptimalkan penyaluran CBP, mendorong volume SPHP, dan menggelar operasi pasar secara konsisten.

GALERY

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%