
SPHP yang Kehilangan Daya Tekan
Dalam kondisi normal, pemerintah mengandalkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disalurkan Bulog sebagai penyeimbang pasar.
Namun volume penjualan SPHP sepanjang Maret hingga 20 Juni 2026 hanya tercatat 361.667 ton, atau rata-rata sekitar 3.229 ton per hari, lebih rendah dari capaian tahun sebelumnya.
Bagi Khudori, celah ini menjadi ironi tersendiri. Bulog saat ini duduk di atas tumpukan stok 5,2 juta ton, tetapi distribusi ke pasar justru berjalan lebih lambat dari yang dibutuhkan.
“Dengan stok beras di gudang Bulog sebesar 5,2 juta ton, stok tertinggi sepanjang sejarah, ada keperluan mendesak untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah,” tegasnya.
Faktor Domestik Lebih Dominan
Peneliti Indef, Afaqa Hudaya, memperkuat pandangan bahwa dinamika dalam negeri jauh lebih berperan dalam membentuk harga beras ketimbang gejolak pasar global.
“Faktor-faktor domestik seperti harga gabah, kebijakan penyerapan beras pemerintah, biaya produksi, dan distribusi tampaknya berperan besar dalam pembentukan harga beras di pasar domestik,” kata Afaqa.
Ia mengakui produksi beras pada kuartal kedua 2026 turun sekitar 8,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski begitu, risiko terhadap ketersediaan nasional dinilai masih terkelola karena besarnya cadangan yang dimiliki pemerintah.
Untuk semester II/2026, Afaqa memperkirakan harga beras akan bertahan di level tinggi atau mengalami kenaikan moderat. Namun ancaman lonjakan yang lebih besar masih bisa dicegah apabila pemerintah mampu mengoptimalkan penyaluran CBP, mendorong volume SPHP, dan menggelar operasi pasar secara konsisten.