
- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% (yoy) pada kuartal I-2026 dengan inflasi terkendali di 3,08%, mengungguli rata-rata negara G20 dan ASEAN.
- Ketahanan energi Indonesia (skor 77%) melampaui Tiongkok, didukung disiplin fiskal dengan defisit anggaran terjaga di bawah 3%.
- Pertumbuhan ekonomi berdampak nyata: 1,9 juta lapangan kerja baru tercipta, pengangguran turun ke 4,68%, dan kemiskinan turun dari 8,57% menjadi 8,25%.
Inilahdata.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa mesin penggerak perekonomian domestik Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik, berkat pengelolaan fiskal yang disiplin dan terjaga dengan rapi.

Hal ini disampaikan Purbaya dalam sebuah kuliah umum di Nankai University, Tianjin, China. Ia memaparkan bagaimana performa ekonomi Indonesia tetap kokoh di saat banyak negara lain sedang bergulat dengan berbagai tekanan, mulai dari ketegangan geopolitik, gejolak pasar keuangan, hingga ancaman gangguan pasokan energi dunia.
Ia menyebutkan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal pertama 2026, angka yang melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara anggota G20 maupun ASEAN. Di sisi lain, laju inflasi domestik masih terjaga di angka 3,08% pada Mei 2026.
Purbaya menggambarkan capaian ini sebagai bukti nyata performa ekonomi nasional yang unggul dibanding banyak negara besar lainnya, sembari tetap mampu menjaga kestabilan harga di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

Menurutnya, perpaduan antara pertumbuhan yang tinggi dan inflasi yang rendah ini menjadi indikator kuat dari daya tahan perekonomian Indonesia, sekaligus memperkuat keyakinan para investor terhadap arah kebijakan makroekonomi yang ditempuh pemerintah.
Ketahanan Energi Indonesia Lampaui Tiongkok
Di tengah kekhawatiran dunia akan potensi krisis energi imbas konflik geopolitik, posisi Indonesia dinilai relatif aman. Berdasarkan kajian risiko global, Indonesia masuk kategori negara dengan paparan rendah terhadap gangguan energi, sekaligus memiliki kapasitas penyangga yang memadai.
Skor ketahanan energi Indonesia tercatat 77%, sedikit lebih tinggi dibandingkan Tiongkok yang berada di angka 76%.
Purbaya menjelaskan, kekuatan tersebut tidak lepas dari kondisi fiskal yang terjaga ketat. Pemerintah secara konsisten menahan defisit anggaran di bawah ambang 3% sesuai ketentuan undang-undang, sehingga APBN memiliki ruang gerak yang cukup untuk meredam guncangan ketika tekanan dari luar negeri muncul.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan Indonesia memasuki fase saat ini dengan modal yang kuat, yakni pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang terkendali, serta kredibilitas kebijakan yang teruji.
Aktivitas Domestik Masih Ekspansif
Dari sisi indikator dalam negeri, geliat ekonomi juga masih menunjukkan tren ekspansif. Purchasing Managers' Index (PMI) sektor manufaktur berada di level 50,0, sementara likuiditas perekonomian tumbuh 14,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Penyaluran kredit perbankan pun naik 11,5% secara tahunan, mencerminkan permintaan dan aktivitas investasi domestik yang masih kuat.
Sektor eksternal turut menjadi penopang tambahan. Indonesia tercatat masih mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut, sebuah catatan yang cukup panjang. Adapun cadangan devisa berada di angka USD144,9 miliar, setara dengan kemampuan membiayai 5,6 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Dampak ke Lapangan Kerja dan Kemiskinan
Pemerintah menilai kekuatan fundamental ekonomi tersebut sudah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Sepanjang 2026, sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru tercipta, yang turut menekan Tingkat Pengangguran Terbuka hingga turun ke level 4,68%.
Sementara itu, program perlindungan sosial yang berjalan efektif juga berkontribusi menurunkan angka kemiskinan, dari 8,57% pada September 2024 menjadi 8,25% pada September 2025.
Purbaya menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bukan sekadar angka-angka di level makro, melainkan sudah mulai terasa nyata dalam bentuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Saat ini, pemerintah tengah mempercepat realisasi delapan klaster prioritas pembangunan nasional, yang mencakup bidang ketahanan pangan, energi, air, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perumahan, hingga mitigasi bencana.
Bersamaan dengan itu, langkah hilirisasi industri, penguatan ekonomi pedesaan, penciptaan lapangan kerja, serta program pengentasan kemiskinan terintegrasi juga terus dipacu, semuanya didukung oleh digitalisasi, reformasi tata kelola pemerintahan, penegakan hukum, dan diplomasi ekonomi.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya terlihat tangguh secara makro, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi tersedianya lapangan kerja, turunnya angka kemiskinan, dan kesejahteraan yang dirasakan lebih merata oleh masyarakat luas. (**)