
- Kesenjangan pertumbuhan antarprovinsi TW IV 2025 mencolok: Bali memimpin di 5,86%, melampaui nasional 5,39%, sementara Riau (4,94%) dan Sumatera Utara (4,23%) justru melambat saat ekonomi nasional berakselerasi.
- Inflasi mencerminkan ketahanan yang berbeda-beda — Bali satu-satunya yang masih dalam sasaran BI (2,91%), sedangkan Riau (4,88%) dan Sumatera Utara (4,66%) melampaui batas atas, dengan Gunungsitoli mencatat lonjakan ekstrem 10,84%.
- Di balik perbedaan nasib ketiganya, satu tren berjalan seragam: QRIS dan transaksi digital tumbuh kuat di ketiga provinsi — bukti fondasi ekonomi baru sedang dibangun bahkan di tengah tekanan.
| Lapangan usaha | Sinyal |
|---|---|
| Akomodasi, makan & minum | Kuat |
| Transportasi & pergudangan | Menguat |
| Perdagangan besar | Positif |
| Administrasi pemerintahan | Solid |
| Konstruksi | Akselerasi |
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Realisasi pendapatan | Rp55,95 T |
| Pertumbuhan pendapatan | +0,96% ctc |
| Realisasi belanja | Rp54,10 T |
| Serapan belanja | 86,03% pagu |
| PAD Provinsi | −16,43% ctc |
| Faktor | Status |
|---|---|
| Banjir 19 kab/kota (Nov) | Tekanan |
| Pertanian (banjir & longsor) | Kontraksi |
| Konstruksi | Kontraksi |
| Investasi (PMA) | −0,40% yoy |
| Perdagangan & e-commerce | Akselerasi |
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Realisasi pendapatan | Rp57,93 T (91,38%) |
| Realisasi belanja | Rp53,64 T (83,58%) |
| Surplus APBD | Rp4,29 T |
| NPL kredit | 1,87% |
| TPT Agustus 2025 | 5,28% (turun) |
| Indikator | Data |
|---|---|
| Peringkat PDRB nasional | Ke-6 |
| Terbesar di luar Jawa | Ke-2 |
| Harga CPO TW IV 2025 | $1.005/ton −8,75% |
| LDR perbankan | 79,95% |
| Transaksi QRIS | Rp2,4 T +61,1% |
| Indikator | Data |
|---|---|
| Pagu anggaran APBD 2025 | Rp9.305 M |
| Turun dari pagu 2024 | ↓ Rp11.116 M |
| Realisasi PAD 2025 | Rp3.470 M |
| Pertumbuhan PAD | −18,08% yoy |
| Belanja modal | −39% yoy |
Inilahdata.com – Tiga provinsi, tiga luka yang berbeda, Bali tersandung tekanan fiskal di balik gemerlap pariwisatanya, Sumatera Utara dihajar banjir yang datang di waktu paling buruk, dan Riau menanggung beban ketika harga sawit global memutuskan untuk turun.

Laporan Perekonomian Provinsi Bank Indonesia edisi Februari 2026 membuka potret yang jauh dari seragam. Di balik angka nasional yang tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025, tiga provinsi menunjukkan tiga nasib berbeda.
Bali: mesin pariwisata yang belum mau berhenti
Perekonomian Bali pada triwulan IV 2025 tumbuh kuat sebesar 5,86% (yoy). Meski sedikit melandai dari triwulan sebelumnya (5,88%), capaian itu masih lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Yang menopangnya adalah kombinasi familiar: lonjakan kunjungan wisatawan menjelang Natal dan Tahun Baru, belanja pegawai pemerintah, serta daya beli masyarakat yang terjaga.
Namun ada sinyal yang perlu dicermati di balik kinerja impresif itu. Penerimaan APBD Provinsi mengalami kontraksi sebesar -9,96% (yoy), terutama dari komponen pajak daerah yang anjlok -16,43% (ctc).
Artinya, pemerintah provinsi Bali membelanjakan lebih banyak dari yang diterimanya, paradoks di tengah pariwisata yang tengah berjaya.
Ke depan, Bali diproyeksikan tumbuh dalam rentang 5,4–6,2% pada 2026, didukung penambahan rute penerbangan langsung dan peningkatan kapasitas Bandara I Gusti Ngurah Rai yang kini mampu menampung 32 juta penumpang per tahun.
Riau: ketika harga sawit bersin, dua sektor ikut pilek
Riau mencatat pertumbuhan 4,94% (yoy) pada triwulan IV 2025, melandai dari 4,98% pada triwulan sebelumnya. Yang menarik, ini berbeda arah dengan ekonomi nasional yang justru mengalami percepatan dari 5,04% menjadi 5,39%.
Penyebabnya satu: harga CPO di triwulan IV 2025 tercatat $1.005,37 per ton, atau terkontraksi 8,75% (yoy), memburuk tajam dari triwulan sebelumnya yang masih tumbuh 12,32% (yoy).
Ketika komoditas utama tertekan, efeknya menjalar ke dua lapangan usaha sekaligus: pertanian dan industri pengolahan.
Di sisi fiskal, PAD Riau terkontraksi 18,08% (yoy), turun dari Rp5.425 miliar menjadi Rp3.470 miliar.
Basis penerimaan yang terlalu bergantung pada siklus komoditas membuat ketahanan fiskal Riau rentan terhadap fluktuasi harga global.
Sumatera Utara: banjir yang datang di waktu yang salah
Perekonomian Sumatera Utara pada triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 4,23% (yoy), lebih rendah dari triwulan III yang mencatat 4,55% (yoy). Perlambatan itu punya nama: banjir yang menghantam sekitar 19 kabupaten/kota pada akhir November 2025.
Timing bencana itu sangat tidak menguntungkan. Banjir datang tepat menjelang puncak permintaan HBKN Natal dan Tahun Baru, memutus rantai distribusi pangan di tengah lonjakan kebutuhan.
Inflasi di Gunungsitoli melonjak hingga 10,84% (yoy), jauh melampaui batas atas sasaran Bank Indonesia, mencerminkan betapa rapuhnya ketahanan pasokan di kota-kota kecil yang terpencil.
Satu kabar baik datang dari sektor digital: pertumbuhan merchant QRIS di Sumatera Utara mencapai 21,6% (yoy), serta transaksi non-tunai tumbuh 11,53% (yoy), bukti bahwa transformasi digital tidak berhenti meski bencana melanda.
Satu benang merah: digitalisasi tidak menunggu
Di tengah perbedaan nasib tiga provinsi itu, satu tren berjalan seragam: adopsi pembayaran digital terus mengakselerasi.
Riau mencatat lonjakan transaksi uang elektronik sebesar 61,1%, Sumatera Utara membukukan pertumbuhan merchant QRIS 21,6%, dan Bali terus memperluas ekosistem nontunai melalui sinergi dengan komunitas lokal dan sektor pendidikan.
Ini bukan sekadar statistik pembayaran. Ini adalah fondasi ekonomi yang dibangun lapis demi lapis, dan Bank Indonesia lewat Laporan Perekonomian Provinsi mencatatnya setiap triwulan, dari Sabang sampai Merauke. (**)
Sumber data: Laporan Perekonomian Provinsi Bank Indonesia — Bali, Sumatera Utara, dan Riau, edisi Februari 2026 (data triwulan IV 2025). Diterbitkan 11 Maret 2026 oleh masing-masing Kantor Perwakilan BI. Laporan lengkap tersedia di bi.go.id.