
Inilahdata.com – Mineral kritis kian mengukuhkan posisinya sebagai primadona di mata investor dunia. Kebutuhan industri terhadap bahan baku strategis yang terus melonjak mendorong berbagai negara bergerak cepat mengamankan pasokan.
Inggris menjadi salah satu yang terbaru mengambil langkah konkret, pemerintahannya resmi mengumumkan komitmen investasi senilai 50 juta poundsterling atau sekitar Rp1,18 triliun untuk memperkuat produksi mineral kritis di dalam negeri.
Mengacu pada laporan Reuters, gelontoran dana tersebut difokuskan untuk menopang tiga lini utama: kegiatan ekstraksi, pemrosesan, hingga daur ulang mineral yang dibutuhkan dalam rantai produksi berbagai produk teknologi, dari genggaman tangan berupa smartphone hingga baterai kendaraan listrik yang kini menjadi tulang punggung transisi energi.
Mineral kritis sendiri merupakan sekelompok bahan baku yang perannya tak tergantikan dalam berbagai sektor paling dinamis saat ini. Lithium, nikel, kobalt, grafit, dan rare earth menjadi bahan dasar bagi baterai kendaraan listrik, panel surya, turbin angin, smartphone, hingga pusat data yang menopang perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Ketika industri kendaraan listrik meledak pertumbuhannya dan kebutuhan komputasi AI terus melambung, permintaan terhadap mineral-mineral ini meningkat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dominasi China Jadi Perhatian Serius
Di balik tren tersebut, ada satu fakta yang membuat banyak negara kehilangan nyenyaknya: dominasi China yang sangat dalam di sektor ini.
Berdasarkan data yang dikutip pemerintah Inggris, Negeri Tirai Bambu itu mengendalikan sekitar 70% produksi rare earth global sekaligus menguasai hampir 90% kapasitas pemurniannya.
Ketergantungan yang begitu besar pada satu negara tentu mengandung risiko. Ketegangan geopolitik atau kebijakan pembatasan ekspor dari Beijing berpotensi mengguncang rantai pasok global dalam sekejap.
Kesadaran atas kerentanan ini mendorong Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, hingga Inggris untuk berlomba membangun ketahanan pasokan mandiri.
Inggris bahkan sudah selangkah lebih konkret. Negara itu baru-baru ini mengoperasikan pabrik magnet rare earth komersial pertamanya dalam 25 tahun terakhir.
Yang menarik, fasilitas itu mengandalkan bahan dari hasil daur ulang untuk memproduksi magnet bagi motor listrik dan berbagai teknologi lainnya, sebuah pendekatan yang sekaligus menjawab isu keberlanjutan.
Peluang Investasi Jangka Panjang
Bagi para investor, pergeseran ini membuka lembaran baru yang menarik. Pelaku usaha di lini pemurnian, daur ulang, manufaktur baterai, produksi magnet, hingga infrastruktur pendukung kendaraan listrik berpotensi menuai manfaat dalam horizon jangka panjang.
Satu catatan yang tak kalah penting: ketika sebuah komoditas naik kelas menjadi urusan keamanan ekonomi dan kedaulatan industri, arus modal, baik dari kantong pemerintah maupun swasta, cenderung terus mengalir mengikutinya.
Langkah Inggris mencerminkan perubahan yang lebih besar dan struktural dalam peta ekonomi global: penguasaan bahan baku strategis bukan lagi sekadar keunggulan kompetitif, melainkan syarat mutlak bagi pertumbuhan industri dan daya tarik investasi di dekade-dekade mendatang. (**)
Halaman : 1 2