Rabu, 24 Jun 2026 - :
22 Jun 2026 - 10:34

Mineral Kritis Jadi Rebutan Global, Inggris Gelontorkan Rp1,18 Triliun

3 mnt baca
  • Inggris mengucurkan investasi Rp1,18 triliun untuk memperkuat produksi, pemrosesan, dan daur ulang mineral kritis domestik guna mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global.
  • China saat ini menguasai sekitar 70% produksi dan 90% kapasitas pemurnian rare earth dunia, memicu kekhawatiran geopolitik yang mendorong banyak negara membangun ketahanan pasokan mandiri.
  • Sektor mineral kritis, dari pemurnian hingga daur ulang dan manufaktur baterai, dinilai sebagai tema investasi jangka panjang yang semakin kuat seiring meningkatnya dukungan kebijakan pemerintah di berbagai negara.
Mineral Kritis Investasi Global · 22 Juni 2026
Investasi Pemerintah Inggris
Rp1,18 T/ £50 Juta
▲ Ekstraksi · Pemrosesan · Daur Ulang
Produksi RE
~70%
China
Pemurnian RE
~90%
China
Pabrik Magnet
Pertama
dalam 25 thn
Pemurnian RE Global
90% China
China
Lainnya
Sektor Pendorong Permintaan
Kendaraan Listrik
88%
Infrastruktur AI
74%
Energi Surya
65%
Turbin Angin
52%
Elektronik
44%
🇬🇧 Inggris
£50 Juta
Ekstraksi, pemrosesan & daur ulang
🇺🇸 Amerika Serikat
Strategis
Penguatan rantai pasok mandiri
🇪🇺 UE & 🇯🇵 Jepang
Diversifikasi
Kurangi ketergantungan China
Mineral Utama
Lithium Nikel Kobalt Grafit Rare Earth
Sumber: Inilahdata.com · Reuters · Pemerintah Inggris · 22 Juni 2026

Editor Inilahdata.com

GALERY

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%