Jumat, 19 Jun 2026 - :
19 Jun 2026 - 15:44

Tiga Wajah Ekonomi Daerah: Pariwisata, Sawit, dan Banjir

7 mnt baca
  • Kesenjangan pertumbuhan antarprovinsi TW IV 2025 mencolok: Bali memimpin di 5,86%, melampaui nasional 5,39%, sementara Riau (4,94%) dan Sumatera Utara (4,23%) justru melambat saat ekonomi nasional berakselerasi.
  • Inflasi mencerminkan ketahanan yang berbeda-beda — Bali satu-satunya yang masih dalam sasaran BI (2,91%), sedangkan Riau (4,88%) dan Sumatera Utara (4,66%) melampaui batas atas, dengan Gunungsitoli mencatat lonjakan ekstrem 10,84%.
  • Di balik perbedaan nasib ketiganya, satu tren berjalan seragam: QRIS dan transaksi digital tumbuh kuat di ketiga provinsi — bukti fondasi ekonomi baru sedang dibangun bahkan di tengah tekanan.
Profil Per Provinsi — Detail Sektoral LPP BI
Pertumbuhan PDRB
5,86%
yoy · Di atas nasional 5,39%
Inflasi IHK
2,91%
yoy · Dalam sasaran 2,5±1%
Wisman TW IV 2025
1,65 jt
Kunjungan wisatawan asing
Pendorong pertumbuhan
Lapangan usahaSinyal
Akomodasi, makan & minumKuat
Transportasi & pergudanganMenguat
Perdagangan besarPositif
Administrasi pemerintahanSolid
KonstruksiAkselerasi
Keuangan daerah · kumulatif TW IV
IndikatorNilai
Realisasi pendapatanRp55,95 T
Pertumbuhan pendapatan+0,96% ctc
Realisasi belanjaRp54,10 T
Serapan belanja86,03% pagu
PAD Provinsi−16,43% ctc
Catatan kritis · Bali
PAD Provinsi Bali terkontraksi 16,43% dari komponen pajak daerah — sinyal tekanan fiskal di tingkat provinsi meski kinerja kabupaten/kota tumbuh positif. Diversifikasi sektor di luar pariwisata tetap menjadi pekerjaan rumah jangka panjang.
Proyeksi pertumbuhan 2026
5,4–6,2%
Di atas nasional 4,9–5,7%
Kapasitas bandara (IGNR)
32 juta
Penumpang per tahun
Proyek strategis
PSN
Pelabuhan Perikanan Pengambengan
Pertumbuhan PDRB
4,23%
yoy · Turun dari 4,55% (TW III)
Inflasi IHK
4,66%
yoy · Di atas batas atas 3,5%
Surplus APBD 2025
Rp4,29 T
Pendapatan Rp57,93 T (91,38%)
Faktor perlambatan TW IV
FaktorStatus
Banjir 19 kab/kota (Nov)Tekanan
Pertanian (banjir & longsor)Kontraksi
KonstruksiKontraksi
Investasi (PMA)−0,40% yoy
Perdagangan & e-commerceAkselerasi
APBD Provinsi 2025
IndikatorNilai
Realisasi pendapatanRp57,93 T (91,38%)
Realisasi belanjaRp53,64 T (83,58%)
Surplus APBDRp4,29 T
NPL kredit1,87%
TPT Agustus 20255,28% (turun)
Catatan kritis · Sumatera Utara
Bencana hidrometeorologi akhir November 2025 memukul tiga sektor sekaligus: pertanian, konstruksi, dan distribusi pangan. Inflasi Gunungsitoli melonjak 10,84% (yoy) — mengungkap betapa rapuhnya ketahanan pasokan di daerah terpencil.
Proyeksi pertumbuhan 2026
4,9–5,7%
Pemulihan pascabencana
Inflasi Gunungsitoli
10,84%
yoy · Tertinggi di Sumatera Utara
Pertumbuhan QRIS merchant
+21,6%
yoy · Sinyal adopsi digital kuat
Pertumbuhan PDRB
4,94%
yoy · Melandai dari 4,98% (TW III)
Inflasi IHK
4,88%
yoy · Di atas batas atas 3,5%
Kontribusi terhadap PDB RI
5,08%
PDRB terbesar ke-6 nasional
Struktur ekonomi Riau
IndikatorData
Peringkat PDRB nasionalKe-6
Terbesar di luar JawaKe-2
Harga CPO TW IV 2025$1.005/ton −8,75%
LDR perbankan79,95%
Transaksi QRISRp2,4 T +61,1%
Fiskal & tekanan struktural
IndikatorData
Pagu anggaran APBD 2025Rp9.305 M
Turun dari pagu 2024↓ Rp11.116 M
Realisasi PAD 2025Rp3.470 M
Pertumbuhan PAD−18,08% yoy
Belanja modal−39% yoy
Catatan kritis · Riau
Kontraksi harga CPO 8,75% (yoy) merembet ke dua lapangan usaha sekaligus: pertanian dan industri pengolahan. PAD anjlok 18% karena basis penerimaan terlalu bergantung pada komoditas. Diversifikasi adalah syarat mutlak ketahanan fiskal jangka panjang.
Proyeksi pertumbuhan 2026
4,20–5,00%
Cenderung bias atas
Kenaikan UMP 2026
+7,74%
Risiko inflasi dari biaya produksi
Kemiskinan Sept 2025
6,30%
Turun dari 6,36% (Sept 2024)
Sumber: Laporan Perekonomian Provinsi Bank Indonesia · Edisi Februari 2026 · Data TW IV 2025

Inilahdata.com – Tiga provinsi, tiga luka yang berbeda, Bali tersandung tekanan fiskal di balik gemerlap pariwisatanya, Sumatera Utara dihajar banjir yang datang di waktu paling buruk, dan Riau menanggung beban ketika harga sawit global memutuskan untuk turun.

Laporan Perekonomian Provinsi Bank Indonesia edisi Februari 2026 membuka potret yang jauh dari seragam. Di balik angka nasional yang tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025, tiga provinsi menunjukkan tiga nasib berbeda.

Bali: mesin pariwisata yang belum mau berhenti

Perekonomian Bali pada triwulan IV 2025 tumbuh kuat sebesar 5,86% (yoy). Meski sedikit melandai dari triwulan sebelumnya (5,88%), capaian itu masih lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Yang menopangnya adalah kombinasi familiar: lonjakan kunjungan wisatawan menjelang Natal dan Tahun Baru, belanja pegawai pemerintah, serta daya beli masyarakat yang terjaga.

Namun ada sinyal yang perlu dicermati di balik kinerja impresif itu. Penerimaan APBD Provinsi mengalami kontraksi sebesar -9,96% (yoy), terutama dari komponen pajak daerah yang anjlok -16,43% (ctc).

Artinya, pemerintah provinsi Bali membelanjakan lebih banyak dari yang diterimanya, paradoks di tengah pariwisata yang tengah berjaya.

Ke depan, Bali diproyeksikan tumbuh dalam rentang 5,4–6,2% pada 2026, didukung penambahan rute penerbangan langsung dan peningkatan kapasitas Bandara I Gusti Ngurah Rai yang kini mampu menampung 32 juta penumpang per tahun.

Riau: ketika harga sawit bersin, dua sektor ikut pilek

Riau mencatat pertumbuhan 4,94% (yoy) pada triwulan IV 2025, melandai dari 4,98% pada triwulan sebelumnya. Yang menarik, ini berbeda arah dengan ekonomi nasional yang justru mengalami percepatan dari 5,04% menjadi 5,39%.

Penyebabnya satu: harga CPO di triwulan IV 2025 tercatat $1.005,37 per ton, atau terkontraksi 8,75% (yoy), memburuk tajam dari triwulan sebelumnya yang masih tumbuh 12,32% (yoy).

Ketika komoditas utama tertekan, efeknya menjalar ke dua lapangan usaha sekaligus: pertanian dan industri pengolahan.

Di sisi fiskal, PAD Riau terkontraksi 18,08% (yoy), turun dari Rp5.425 miliar menjadi Rp3.470 miliar.

Basis penerimaan yang terlalu bergantung pada siklus komoditas membuat ketahanan fiskal Riau rentan terhadap fluktuasi harga global.

Sumatera Utara: banjir yang datang di waktu yang salah

Perekonomian Sumatera Utara pada triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 4,23% (yoy), lebih rendah dari triwulan III yang mencatat 4,55% (yoy). Perlambatan itu punya nama: banjir yang menghantam sekitar 19 kabupaten/kota pada akhir November 2025.

Timing bencana itu sangat tidak menguntungkan. Banjir datang tepat menjelang puncak permintaan HBKN Natal dan Tahun Baru, memutus rantai distribusi pangan di tengah lonjakan kebutuhan.

Inflasi di Gunungsitoli melonjak hingga 10,84% (yoy), jauh melampaui batas atas sasaran Bank Indonesia, mencerminkan betapa rapuhnya ketahanan pasokan di kota-kota kecil yang terpencil.

Satu kabar baik datang dari sektor digital: pertumbuhan merchant QRIS di Sumatera Utara mencapai 21,6% (yoy), serta transaksi non-tunai tumbuh 11,53% (yoy), bukti bahwa transformasi digital tidak berhenti meski bencana melanda.

Satu benang merah: digitalisasi tidak menunggu

Di tengah perbedaan nasib tiga provinsi itu, satu tren berjalan seragam: adopsi pembayaran digital terus mengakselerasi.

Riau mencatat lonjakan transaksi uang elektronik sebesar 61,1%, Sumatera Utara membukukan pertumbuhan merchant QRIS 21,6%, dan Bali terus memperluas ekosistem nontunai melalui sinergi dengan komunitas lokal dan sektor pendidikan.

Ini bukan sekadar statistik pembayaran. Ini adalah fondasi ekonomi yang dibangun lapis demi lapis, dan Bank Indonesia lewat Laporan Perekonomian Provinsi mencatatnya setiap triwulan, dari Sabang sampai Merauke. (**)

Sumber data: Laporan Perekonomian Provinsi Bank Indonesia — Bali, Sumatera Utara, dan Riau, edisi Februari 2026 (data triwulan IV 2025). Diterbitkan 11 Maret 2026 oleh masing-masing Kantor Perwakilan BI. Laporan lengkap tersedia di bi.go.id.

Editor Inilahdata.com

GALERY

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%