
Inilahdata.com – Bank Indonesia baru saja merilis data Survei Penjualan Eceran untuk April 2026, dan angkanya cukup mengejutkan di permukaan.

Indeks Penjualan Riil anjlok 11,6% dibanding bulan sebelumnya, dari 256,7 turun ke 226,9, penurunan terdalam dalam setahun terakhir.
Tapi kalau dilihat lebih jauh, ini sebenarnya bukan hal yang aneh. Polanya memang selalu berulang tiap tahun, Maret biasanya melonjak karena ada dorongan permintaan musiman, lalu April jadi bulan “turun lagi” begitu permintaan kembali ke level normalnya.
Tahun lalu pun terjadi hal serupa, hanya saja kali ini koreksinya terasa lebih dalam karena lonjakan di Maret 2026 juga jauh lebih tinggi dari biasanya, jadi jaraknya pun ikut membesar.

Meski begitu, kalau dibandingkan dengan April tahun lalu, konsumsi memang masih dalam tren melemah, turun 3,7%.
Yang menarik, di tengah pelemahan yang merata ini, satu sektor justru tampil cukup kuat sendirian: suku cadang dan aksesori kendaraan, yang tumbuh 14,7% dibanding tahun lalu.
Permintaan otomotif rupanya masih jadi penopang yang konsisten sejak akhir tahun lalu. Sayangnya hal sebaliknya terjadi pada elektronik.
Penjualan peralatan informasi dan komunikasi seperti ponsel dan gadget sudah terus-menerus terkontraksi selama 28 bulan berturut-turut tanpa jeda, bahkan sempat anjlok lebih dari 30% di beberapa periode.
Ini bukan lagi sekadar siklus naik turun musiman, tapi lebih terasa seperti pergeseran yang lebih permanen, orang-orang menahan diri untuk ganti gadget, siklus penggantian perangkat makin memanjang, dan kemungkinan sebagian belanja sudah bergeser ke platform online yang memang tidak tertangkap oleh survei eceran fisik seperti ini.
Yang juga perlu dicermati adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang punya bobot paling besar dalam keranjang belanja masyarakat sehari-hari.
Kelompok ini justru mengalami kontraksi 3,8% secara tahunan, dan karena porsinya yang besar, pelemahan ini jadi sinyal yang cukup relevan untuk menggambarkan tekanan terhadap daya beli masyarakat kebanyakan, bukan sekadar fluktuasi biasa yang bisa diabaikan.
Soal prospek ke depan, ada nada hati-hati dari Bank Indonesia sendiri. Setelah triwulan pertama 2026 tumbuh cukup solid di angka 5,2%, triwulan kedua justru diprakirakan berbalik minus 3,4% secara tahunan.
Ini jadi catatan penting karena terakhir kali sebuah triwulan diprakirakan terkontraksi seperti ini adalah saat pandemi melanda di tahun 2020, jadi wajar kalau ini jadi sorotan tersendiri.
Tapi bukan berarti semuanya suram. Secara bulanan, penjualan Mei diprakirakan jauh lebih stabil dibanding April, hanya turun tipis 0,9% berkat momentum rangkaian hari besar keagamaan yang jatuh di bulan tersebut.
Para pedagang sendiri pun masih cukup percaya diri soal masa depan, ekspektasi mereka untuk tiga maupun enam bulan ke depan tetap jauh di atas titik netral, terutama menjelang musim tahun ajaran baru dan akhir tahun nanti.
Dari sisi wilayah, Banjarmasin dan Jakarta juga tercatat sebagai dua kota paling tangguh, dan keduanya justru diprakirakan makin mengakselerasi pertumbuhannya memasuki Mei.
Jadi meski datanya terlihat berat di permukaan, gambaran besarnya lebih ke arah pemulihan yang berjalan pelan-pelan, bukan tanda-tanda krisis yang mendalam. (**)
Halaman : 1 2