
- Obligasi global perdana Danantara mengalami oversubscribed lebih dari tiga kali lipat, sehingga nilai penerbitan dinaikkan dari target US$1 miliar menjadi US$1,5 miliar.
- Danantara membuka opsi menerbitkan obligasi global lanjutan dengan tenor hingga 30 tahun, menyusul tingginya kepercayaan investor global di tengah tekanan geopolitik.
- Komposisi investor menunjukkan pergeseran tren, dengan investor asal AS mendominasi hingga 52% untuk tenor 10 tahun, berbeda dari pola historis yang biasanya didominasi investor Asia.
Inilahdata.com -Sambutan pasar internasional terhadap obligasi global perdana Danantara rupanya jauh melampaui ekspektasi.

Tingginya minat investor ini membuat lembaga pengelola investasi negara tersebut kini mempertimbangkan untuk kembali menerbitkan obligasi global dengan tenor yang lebih panjang, bahkan hingga 30 tahun ke depan.
CEO Danantara yang juga menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa penerbitan obligasi global perdana ini mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga lebih dari tiga kali lipat dari target awal.
Semula, Danantara hanya membidik dana segar sebesar US$1 miliar lewat instrumen ini. Namun, pada tahap penjajakan minat pasar (bookbuilding), permintaan investasi justru melonjak hingga US$4,6 miliar.

Merespons antusiasme tersebut, Danantara akhirnya memutuskan menambah nilai penerbitan menjadi US$1,5 miliar, yang terbagi rata antara tenor 5 tahun dan 10 tahun, masing-masing senilai US$750 juta.
Obligasi bertenor 5 tahun ditawarkan dengan yield 5,35%, sementara untuk tenor 20 tahun yield-nya mencapai 5,95%.
Bagi Rosan, larisnya obligasi tersebut menjadi bukti nyata kepercayaan investor dunia terhadap Danantara, sekalipun kondisi pasar keuangan global sedang dibayangi tekanan akibat gejolak geopolitik.
Berbekal sambutan positif itu, Danantara pun mulai membuka opsi penerbitan obligasi global lanjutan dengan jangka waktu yang lebih panjang.
“Bahkan kami nyatakan sangat terbuka apabila kami menerbitkan lagi [global bond] sampai 30 tahun,” ujarnya saat menyampaikan laporan hasil roadshow obligasi global perdana Danantara kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin, 15 Juni 2026.
Diversifikasi mitra investasi
Di luar capaian angka, Rosan menilai respons investor global ini turut membalikkan persepsi pasar yang sebelumnya cenderung ragu terhadap arah kebijakan investasi Indonesia.
Tidak hanya itu, penerbitan obligasi ini juga membuka jalan bagi diversifikasi basis mitra investasi nasional, yang tercermin jelas dari komposisi asal negara para investornya.
Untuk obligasi bertenor 5 tahun, Rosan memaparkan bahwa porsi investor asal Amerika Serikat mencapai 38%, disusul Eropa dan Timur Tengah sebesar 41%, sementara sisanya 21% berasal dari Asia.
Pola yang lebih mencolok justru terlihat pada tenor 10 tahun, di mana investor AS mendominasi dengan porsi 52%, diikuti Eropa dan Timur Tengah sebesar 31%, dan Asia hanya 17%.
Rosan menekankan bahwa pola ini terbilang anomali jika dibandingkan tren historis penerbitan obligasi Indonesia, yang selama ini umumnya lebih banyak diserap oleh investor Asia.
“Akan tetapi, ini kebalikan, pembeli terbesar dari AS, sampai 52% untuk 10 tahun. Oleh sebab itu, bahwa kepercayaan market dunia luar terhadap Indonesia sangat baik, tercermin dari mereka bersedia membeli global bond Danantara,” tuturnya. (**)