
- Shopee dan TikTok Shop-Tokopedia kuasai 92% GMV e-commerce Indonesia pada 2025.
- Lazada dan Blibli makin tergerus, Bukalapak hilang dari daftar pemain utama.
- Kekuatan pendanaan jadi kunci persaingan harga dan inovasi ke depan.
Inilahdata.com – Lanskap bisnis dagang elektronik di Indonesia kini mengarah pada pola duopoli. Dua kekuatan besar, Shopee dan gabungan TikTok Shop-Tokopedia, kian mendominasi sementara pemain lain berjuang mempertahankan eksistensi di tengah persaingan harga dan inovasi yang tak kenal henti.

Riset terbaru bertajuk E-Commerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works mengungkap perubahan signifikan dalam struktur pasar. Shopee melesat menjadi penguasa pasar dengan pangsa 54% sepanjang 2025, melonjak dari 46% pada tahun sebelumnya. Di posisi kedua, kolaborasi TikTok Shop dan Tokopedia mengamankan 38% pasar.
Gabungan kedua raksasa ini praktis menggenggam sekitar 92% dari seluruh nilai transaksi kotor (GMV) e-commerce nasional, yang pada 2025 tercatat menembus US$57,7 miliar atau setara Rp999,4 triliun, naik dari US$56,5 miliar pada tahun sebelumnya.
Kondisi berbeda dialami pemain-pemain lawas. Lazada hanya mampu mempertahankan 6% pasar, susut dari 7% setahun sebelumnya. Blibli pun mengalami nasib serupa dengan penurunan pangsa dari 4% menjadi 3%. Yang paling mencolok, Bukalapak yang sempat mencatatkan kontribusi 10% pada 2024 kini bahkan tak lagi masuk dalam jajaran pemain utama industri.

Sumber: Momentum Works, E-Commerce in Southeast Asia 2026
Menanggapi pergeseran ini, Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan menjelaskan bahwa data tersebut sejatinya mencerminkan dinamika kompetisi yang memang berlangsung sengit.
Saat dihubungi pada Senin (15/6/2026), ia menegaskan setiap platform memiliki strategi, segmen pengguna, dan proposisi nilai yang berbeda. Budi memaparkan bahwa tren live commerce, video commerce, program afiliasi, hingga integrasi konten dengan transaksi menjadi pendongkrak pertumbuhan industri dalam beberapa tahun terakhir.
Ia juga mencatat perilaku konsumen Indonesia yang kini makin majemuk, dengan kecenderungan menggunakan beberapa platform sekaligus sesuai kebutuhan masing-masing.
Bagi Budi, pergeseran pangsa pasar tidak bisa disederhanakan menjadi satu sebab tunggal. Ia memproyeksikan bahwa pertarungan ke depan akan lebih ditentukan oleh kemampuan setiap platform menghadirkan nilai tambah nyata, baik bagi penjual maupun pembeli.
“Ini bisa berupa pengalaman belanja yang lebih baik, dukungan terhadap UMKM, penguatan logistik dan pembayaran, pemanfaatan teknologi, hingga kemampuan mengintegrasikan berbagai kanal perdagangan digital,” ujarnya.
Budi menggarisbawahi bahwa kompetisi yang sehat justru menguntungkan ekosistem secara keseluruhan, karena mendorong seluruh pelaku, termasuk Lazada, Blibli, Shopee, dan TikTok Shop, untuk terus berinovasi.
Menurutnya, tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua platform; kuncinya terletak pada kemampuan adaptasi terhadap kebutuhan konsumen yang berubah, dukungan terhadap pertumbuhan penjual dan UMKM, serta keunggulan yang relevan dan berkelanjutan di tengah persaingan yang makin dinamis.
Dari sudut pandang berbeda, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyoroti karakter konsumen Indonesia yang menurutnya masih sangat berorientasi pada harga.
Bagi mayoritas konsumen, banderol harga menjadi faktor penentu utama dalam memutuskan pembelian, sehingga para platform pun berlomba menggelontorkan diskon, ongkos kirim gratis, dan berbagai insentif lain untuk mendorong transaksi, strategi yang menuntut modal besar di belakangnya.
Huda menilai justru di titik inilah letak perbedaan mendasar antarpemain.
“Itu yang membedakan antara Shopee, TikTok Shop (Tokopedia) dan juga Lazada serta Blibli. Pasar Lazada dan Blibli makin tergerus karena tidak cukup kuat untuk bersaing dengan Shopee dan TikTok Shop,” katanya.
Selain modal, Huda juga menyoroti keunggulan inovasi sebagai pembeda, mencontohkan Shopee yang menghadirkan fitur live shopping sekaligus menjalin kolaborasi dengan YouTube, sementara TikTok Shop mengandalkan keunggulan live shopping yang terintegrasi langsung dengan platform media sosialnya.
“Maka, saya rasa pendanaan menjadi kunci ke depan. Dengan pendanaan yang kuat, platform bisa bersaing dalam hal harga dan juga inovas,’’ katanya. (**)