
Taruhannya Jauh Lebih Besar dari Satu Bank
Keputusan ini muncul di tengah tekanan global yang jauh lebih besar untuk memobilisasi dana iklim.
Di bawah peta jalan Baku to Belém yang disepakati dalam rangkaian COP29 dan COP30, bank-bank pembangunan multilateral, termasuk Bank Dunia, ditugaskan membantu memobilisasi setidaknya 1,3 triliun dolar AS per tahun untuk pembiayaan iklim negara berkembang hingga 2035.
Sementara itu, kebutuhan pembiayaan global untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan PBB diperkirakan mencapai 5,4 triliun dolar AS per tahun pada 2030, dengan kesenjangan pembiayaan saat ini masih sekitar 3 triliun dolar AS akibat kebijakan yang berlaku sekarang.
Beberapa lini pembiayaan spesifik di dalam Bank Dunia sejauh ini belum tersentuh perubahan ini: International Development Association (IDA), yang menyalurkan dana murah bagi negara-negara termiskin, tetap berkomitmen mengarahkan 45 persen pendanaannya untuk aktivitas terkait iklim hingga 2028.
Sementara lengan pembiayaan yang lebih besar, International Bank for Reconstruction and Development (IBRD), tetap menyasar sekitar 30 persen dari pembiayaannya untuk manfaat iklim.
Bagi pengamat seperti Joe Thwaites dari Natural Resources Defense Council (NRDC), target semacam ini penting justru karena fungsinya sebagai jaring pengaman minimal.
“Negara-negara klien menegaskan mereka ingin melihat lebih banyak investasi di energi bersih dan ketahanan,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa tanpa angka acuan yang jelas, ada risiko “dasar pembiayaan ambruk” ketika tekanan politik berubah arah.
Hasil akhir dari tinjauan independen atas CCAP, yang kini menjadi taruhan sesungguhnya, akan menentukan apakah pencabutan target ini benar-benar sekadar perubahan cara ukur, atau justru awal dari pengeroposan komitmen iklim Bank Dunia secara lebih luas. (**)