
Bank Dunia: Bergeser dari “Input” ke “Hasil”
Dalam pernyataan resminya, Bank Dunia berdalih bahwa pencabutan target semata-mata bagian dari pergeseran filosofi pengukuran kinerja, dari yang tadinya berbasis “input” (persentase dana yang dialokasikan) menjadi berbasis “hasil” (dampak nyata di lapangan).
“Kami akan mencabut target co-benefit iklim 45 persen dan target 35 persen dalam CCAP. Kami telah melakukan banyak pekerjaan untuk menjawab kebutuhan klien,” demikian pernyataan lembaga itu.
Ke depan, Bank Dunia mengatakan akan tetap melaporkan dua indikator utama pada kartu skor kinerjanya: emisi gas rumah kaca bersih dan jumlah penerima manfaat yang ketahanannya terhadap risiko iklim meningkat.
Bank itu juga berjanji akan “mengeksplorasi dan mendiskusikan cara yang lebih baik untuk menata keterlibatannya pada isu adaptasi, alam, dan polusi,” serta tetap melaporkan kemajuan ke dewan direktur lewat mekanisme kuartalan dan tahunan yang sudah berjalan.
Presiden Bank Dunia Ajay Banga menyebut pendekatan baru ini sebagai bagian dari strategi “smart development”, model yang mengklaim tetap mendukung proyek-proyek bermanfaat bagi iklim selama sejalan dengan prioritas pembangunan setiap negara klien, mulai dari pertanian tahan kekeringan hingga infrastruktur tahan bencana.
Kritik: Target adalah “Penjaga Terakhir”
Bagi banyak pihak, penghapusan target ini dibaca sebagai kemunduran simbolis sekaligus substansial. Melanie Robinson, Direktur Global untuk Iklim, Ekonomi, dan Keuangan di World Resources Institute (WRI), menilai negara-negara berkembang semakin membutuhkan investasi yang sekaligus menekan kemiskinan dan membuka jalan pertumbuhan yang lebih hijau dan tangguh.
“Sangat disayangkan bahwa segelintir pemegang saham berhasil melemahkan kerangka ini dengan menghapus targetnya. Tinjauan yang direncanakan atas Climate Change Action Plan seharusnya memperkuat, bukan makin mempersempit, kesempatan negara-negara untuk berpartisipasi dalam salah satu transisi ekonomi terpenting di zaman kita,” tegasnya dalam pernyataan resmi WRI.
Suara senada datang dari Jon Sward, peneliti di Bretton Woods Project, yang menyoroti bahwa meski CCAP “berhasil dipertahankan” setelah negosiasi panjang dan sulit.
Tekanan AS pada akhirnya “melemahkan kerja iklim Bank Dunia lewat pencabutan target 45 persen.”
Sward mendesak Bank Dunia menjelaskan lebih rinci bagaimana hasil evaluasi independen nanti akan membentuk arah CCAP ke depan, termasuk sejauh mana organisasi masyarakat sipil dilibatkan dalam proses tinjauan itu.
Sementara itu, Danny Scull, penasihat kebijakan senior di lembaga think tank E3G, melihat sisi yang sedikit lebih optimistis.
“Ini bisa saja jauh lebih buruk,” katanya, sembari mengakui bahwa skenario paling ambisius, di mana Bank Dunia benar-benar membalik arah dan mengurangi pembiayaan iklim, tampaknya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.