Jumat, 19 Jun 2026 - :
17 Jun 2026 - 11:19

Animo Investor Global Tinggi, Danantara Buka Opsi Terbitkan Obligasi Tenor 30 Tahun

4 mnt baca
  • Obligasi global perdana Danantara mengalami oversubscribed lebih dari tiga kali lipat, sehingga nilai penerbitan dinaikkan dari target US$1 miliar menjadi US$1,5 miliar.
  • Danantara membuka opsi menerbitkan obligasi global lanjutan dengan tenor hingga 30 tahun, menyusul tingginya kepercayaan investor global di tengah tekanan geopolitik.
  • Komposisi investor menunjukkan pergeseran tren, dengan investor asal AS mendominasi hingga 52% untuk tenor 10 tahun, berbeda dari pola historis yang biasanya didominasi investor Asia.

Obligasi Global Perdana Danantara

Kinerja Penerbitan

TARGET AWAL
US$ 1 miliar
PERMINTAAN INVESTOR
US$ 4,6 miliar
Oversubscribed >3x
NILAI PENERBITAN
US$ 1,5 miliar
US$750 juta (5 th) + US$750 juta (10 th)
Yield 5 tahun 5,35%
Yield 10 tahun 5,95%
30
tahun
Rencana lanjutan
Opsi penerbitan obligasi tenor hingga 30 tahun

Komposisi investor global

Tenor 5 tahun
Tenor 5 tahun: AS 38%, Eropa-Timur Tengah 41%, Asia 21%
Tenor 10 tahun
Tenor 10 tahun: AS 52%, Eropa-Timur Tengah 31%, Asia 17%
Amerika Serikat Eropa & Timur Tengah Asia

Makna strategis

Kepercayaan investor global terhadap kebijakan investasi Indonesia meningkat signifikan.
Penerbitan ini memperluas basis mitra investasi Indonesia di luar Asia.
Pola pembelian berbalik dari tren historis, dengan investor AS kini mendominasi tenor 10 tahun.
Sumber: Pernyataan CEO Danantara Rosan Roeslani, Istana Negara, Senin 15 Juni 2026

Inilahdata.com -Sambutan pasar internasional terhadap obligasi global perdana Danantara rupanya jauh melampaui ekspektasi.

Tingginya minat investor ini membuat lembaga pengelola investasi negara tersebut kini mempertimbangkan untuk kembali menerbitkan obligasi global dengan tenor yang lebih panjang, bahkan hingga 30 tahun ke depan.

CEO Danantara yang juga menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa penerbitan obligasi global perdana ini mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga lebih dari tiga kali lipat dari target awal.

Semula, Danantara hanya membidik dana segar sebesar US$1 miliar lewat instrumen ini. Namun, pada tahap penjajakan minat pasar (bookbuilding), permintaan investasi justru melonjak hingga US$4,6 miliar.

Merespons antusiasme tersebut, Danantara akhirnya memutuskan menambah nilai penerbitan menjadi US$1,5 miliar, yang terbagi rata antara tenor 5 tahun dan 10 tahun, masing-masing senilai US$750 juta.

Obligasi bertenor 5 tahun ditawarkan dengan yield 5,35%, sementara untuk tenor 20 tahun yield-nya mencapai 5,95%.

Bagi Rosan, larisnya obligasi tersebut menjadi bukti nyata kepercayaan investor dunia terhadap Danantara, sekalipun kondisi pasar keuangan global sedang dibayangi tekanan akibat gejolak geopolitik.

Berbekal sambutan positif itu, Danantara pun mulai membuka opsi penerbitan obligasi global lanjutan dengan jangka waktu yang lebih panjang.

“Bahkan kami nyatakan sangat terbuka apabila kami menerbitkan lagi [global bond] sampai 30 tahun,” ujarnya saat menyampaikan laporan hasil roadshow obligasi global perdana Danantara kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin, 15 Juni 2026.

Diversifikasi mitra investasi

Di luar capaian angka, Rosan menilai respons investor global ini turut membalikkan persepsi pasar yang sebelumnya cenderung ragu terhadap arah kebijakan investasi Indonesia.

Tidak hanya itu, penerbitan obligasi ini juga membuka jalan bagi diversifikasi basis mitra investasi nasional, yang tercermin jelas dari komposisi asal negara para investornya.

Untuk obligasi bertenor 5 tahun, Rosan memaparkan bahwa porsi investor asal Amerika Serikat mencapai 38%, disusul Eropa dan Timur Tengah sebesar 41%, sementara sisanya 21% berasal dari Asia.

Pola yang lebih mencolok justru terlihat pada tenor 10 tahun, di mana investor AS mendominasi dengan porsi 52%, diikuti Eropa dan Timur Tengah sebesar 31%, dan Asia hanya 17%.

Rosan menekankan bahwa pola ini terbilang anomali jika dibandingkan tren historis penerbitan obligasi Indonesia, yang selama ini umumnya lebih banyak diserap oleh investor Asia.

“Akan tetapi, ini kebalikan, pembeli terbesar dari AS, sampai 52% untuk 10 tahun. Oleh sebab itu, bahwa kepercayaan market dunia luar terhadap Indonesia sangat baik, tercermin dari mereka bersedia membeli global bond Danantara,” tuturnya. (**)

Editor Inilahdata.com

GALERY

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%