Senin, 15 Jun 2026 - :
15 Jun 2026 - 15:47

Mahasiswa Jepang Ciptakan Smart Bra Berteknologi Sidik Jari, Hanya Bisa Dibuka Pasangan Terdaftar

3 mnt baca
  • Bra pintar buatan mahasiswa Jepang menggunakan sensor sidik jari pada kait pengunci.
  • Hanya sidik jari yang terdaftar yang dapat membuka bra, mirip fitur fingerprint pada smartphone.
  • Inovasi wearable technology kini merambah produk fesyen dan kebutuhan pribadi yang lebih personal.

    Inilahdata.com, TOKYO – Inovasi teknologi wearable terus berkembang ke berbagai aspek kehidupan, termasuk pada produk yang selama ini dianggap sangat personal. Seorang mahasiswa asal Jepang berhasil menciptakan smart bra atau bra pintar yang dilengkapi teknologi biometrik berupa sensor sidik jari, sehingga hanya dapat dibuka oleh orang yang telah terdaftar dalam sistem.

    Berbeda dengan bra konvensional yang menggunakan kait biasa, smart bra ini mengadopsi teknologi yang selama ini lazim ditemukan pada smartphone modern. Sensor sidik jari dipasang pada bagian pengunci atau kait bra dan bekerja layaknya fitur fingerprint yang digunakan untuk membuka kunci ponsel.

    Dengan sistem tersebut, kait bra tidak dapat dibuka secara manual oleh sembarang orang. Hanya sidik jari yang telah direkam dan disimpan dalam perangkat yang mampu mengaktifkan mekanisme pembukaan. Jika sidik jari yang digunakan tidak sesuai dengan data yang tersimpan, maka kait akan tetap terkunci.

    Penemuan unik ini langsung menarik perhatian publik karena dianggap sebagai salah satu contoh paling ekstrem dari perkembangan teknologi wearable atau teknologi yang dapat dikenakan pada tubuh manusia.

    Selama beberapa tahun terakhir, wearable technology berkembang pesat melalui berbagai perangkat seperti jam tangan pintar, gelang kebugaran, kacamata pintar, hingga perangkat audio portabel yang terhubung dengan internet. Namun, smart bra menunjukkan bahwa inovasi teknologi kini mulai merambah ke area yang jauh lebih privat dan personal.

    Pengembang bra pintar tersebut menyebut teknologi biometrik dapat memberikan lapisan keamanan tambahan bagi pengguna. Selain itu, perangkat ini juga menjadi bukti bahwa teknologi tidak hanya diterapkan pada perangkat komunikasi atau kesehatan, tetapi juga dapat diintegrasikan ke dalam berbagai produk fashion dan kebutuhan sehari-hari.

    Meski demikian, kemunculan smart bra memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian menganggapnya sebagai inovasi kreatif yang menunjukkan kemajuan teknologi, sementara sebagian lainnya menilai produk tersebut lebih bersifat unik dan sensasional dibandingkan benar-benar menjawab kebutuhan konsumen.

    Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, kehadiran smart bra berbasis sidik jari ini menjadi gambaran bagaimana teknologi biometrik semakin luas digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika sebelumnya sidik jari hanya digunakan untuk membuka ponsel, laptop, atau akses ruangan tertentu, kini teknologi serupa mulai diterapkan pada produk pakaian.

    Penemuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa batas antara teknologi dan gaya hidup semakin tipis. Inovasi yang dahulu hanya ditemukan dalam film fiksi ilmiah kini perlahan menjadi kenyataan dan hadir dalam bentuk produk yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

    Smart bra ini menjadi salah satu contoh bahwa perkembangan teknologi dapat menembus berbagai sektor, termasuk sektor fesyen dan pakaian dalam, yang selama ini jarang dikaitkan dengan teknologi canggih. Apakah inovasi seperti ini akan menjadi tren di masa depan atau sekadar menjadi eksperimen unik, waktu yang akan menjawabnya. (sat)

    Editor Inilahdata.com

    GALERY

    Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
    YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
     photo

    PARTNER

    ADVERTISING

    Bagikan
    Beranda
    Bagikan
    Lainnya
    0%