Rabu, 29 Jul 2026 - :
19 Jul 2026 - 02:15 | 260 Views | 0 Suka

Jet Pribadi Bos FIFA Terbang 57.700 Mil Selama Piala Dunia 2026, Disorot karena Jejak Karbon

18 mnt baca
  • Jet pribadi Infantino menempuh 57.700 mil (setara dua kali keliling bumi) selama Piala Dunia 2026, untuk menghadiri hampir separuh dari 104 pertandingan di tiga negara, jauh lebih rumit secara logistik dibanding Piala Dunia 2022 di Qatar yang memungkinkannya menonton seluruh 64 laga tanpa banyak berpindah negara.
  • Jadwal terbang itu ditaksir menelan biaya bahan bakar lebih dari US$350.000 dan menghasilkan lebih dari 700 ton emisi CO2, setara jejak karbon tahunan 40 warga AS, memicu kritik akademisi dan aktivis iklim yang menilai perilaku itu bertentangan dengan komitmen net zero 2040 yang digembar-gemborkan FIFA sendiri.
  • Kontroversi Infantino tak berhenti di soal jet pribadi. Kedekatannya dengan Presiden Trump ikut disorot lewat pencabutan sanksi Folarin Balogun, sementara ia sudah melempar wacana perluasan Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, usulan yang ditentang UEFA dan Concacaf, bahkan sebelum edisi 2026 resmi berakhir.

Inilahdata.com – Presiden FIFA Gianni Infantino nyaris tak melewatkan satu pun momen penting Piala Dunia 2026.

Dari total 104 pertandingan yang digelar di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, pria asal Italia-Swiss itu diperkirakan hadir di hampir separuhnya.

Untuk mengejar semua itu, ia mengandalkan jet pribadi yang selama turnamen berlangsung telah menempuh jarak sekitar 57.700 mil, atau kurang lebih 93 ribu kilometer.

Angka tersebut merujuk pada penghitungan Bloomberg berdasarkan data penyedia informasi penerbangan Jetspy, yang melacak pergerakan pesawat Gulfstream G650ER yang disewa FIFA dari maskapai Qatar Airways.

Jarak sejauh itu setara dengan mengelilingi garis khatulistiwa bumi dua kali putaran.

Sepanjang turnamen, sosok Infantino dengan setelan jasnya yang rapi dan dikelilingi para pejabat sepak bola dunia begitu sering muncul di tribune kehormatan berbagai stadion.

Kehadirannya yang serba ada ini bahkan memicu lelucon di media sosial yang menyebut dirinya “hadir di dua pertandingan sekaligus” dalam waktu bersamaan.

Klaim itu tentu tak benar secara harfiah, tetapi bukan tanpa dasar.

Infantino memang tercatat menghadiri dua laga yang digelar pada hari yang sama di kota berbeda, kadang bahkan di negara berbeda, sebanyak 13 kali selama turnamen.

Beda Jauh dengan Qatar 2022

Pola perjalanan seperti ini jauh berbeda dari yang ia lakukan empat tahun lalu.

Pada Piala Dunia 2022, Infantino berhasil menonton seluruh 64 pertandingan tanpa terkecuali karena seluruh laga digelar di Qatar, negara kecil yang luasnya bahkan tak sampai menyamai negara bagian Connecticut di AS.

Kondisi itu membuat perpindahan antarvenue bisa ditempuh hanya dengan berkendara singkat.

Piala Dunia 2026 punya tantangan geografis yang sama sekali berbeda. Selain jumlah pertandingannya 40 laga lebih banyak dibanding edisi Qatar.

Turnamen ini juga menjadi yang pertama dalam sejarah 100 tahun lebih Piala Dunia yang diselenggarakan oleh tiga negara sekaligus.

Turnamen ini membentang di 16 kota tuan rumah, empat zona waktu, dengan sejumlah kota berjarak lebih dari 4.500 kilometer satu sama lain.

Jarak yang menurut sejumlah pemantau independen memaksa siapa pun yang ingin menyaksikan banyak laga untuk terbang, bukan sekadar berkendara.

Tim BBC Verify sempat melacak secara khusus pergerakan jet Gulfstream ini pada fase grup dan menemukan Infantino telah menempuh 27 kali penerbangan untuk menyaksikan 24 pertandingan, dengan singgah di 15 dari 16 kota penyelenggara.

Dari Mexico City, Guadalajara, Los Angeles, San Francisco, Vancouver, Seattle, Kansas City, Houston, Atlanta, Dallas, Miami, Boston, Toronto, Monterrey, hingga Philadelphia.

Hari Paling Padat: Dua Negara, Dua Laga, Satu Hari

Hari perjalanan terpanjang Infantino selama turnamen tercatat pada 26 Juni, ketika jet pribadinya menempuh jarak lebih dari 5.500 mil hanya dalam sehari.

Setelah menyaksikan Pantai Gading mengalahkan Curaçao di Philadelphia pada malam sebelumnya dan bermalam di Miami, ia lebih dulu terbang ke Dallas untuk menyapa rombongan Timnas Yordania.

Belum genap dua jam kemudian, ia sudah lepas landas lagi menuju Seattle untuk menonton laga Mesir melawan Iran.

Selepas pertandingan, ia kembali terbang ke Miami untuk bermalam, sebelum menyaksikan laga Kolombia melawan Portugal keesokan harinya.

Miami sendiri tercatat sebagai kota yang paling sering disambangi Infantino sepanjang turnamen.

Total enam pertandingan, lebih banyak dibanding kota mana pun, termasuk laga perebutan tempat ketiga antara Prancis dan Inggris pada akhir pekan lalu.

Dimintai tanggapan soal rincian jadwal perjalanan sang presiden, juru bicara FIFA memilih tidak berkomentar.

Lonjakan Sewa Jet Pribadi, tapi Infantino Jauh di Luar Kebiasaan

Piala Dunia dengan format baru 48 tim dan sebaran tiga negara ini turut memicu lonjakan permintaan sewa jet pribadi musim panas ini.

Barry Shevlin, CEO perusahaan penerbangan pribadi Fly USA, mengatakan para penggemar sepak bola berkantong tebal kini banyak merancang rencana perjalanan lintas kota demi mengejar laga-laga favorit mereka.

Namun ia menegaskan pola terbang seorang Infantino jauh di luar kebiasaan pelanggan biasa.

“Butuh setidaknya setahun bagi pelanggan jet pribadi rata-rata untuk menempuh jarak sejauh itu,” katanya, merujuk pada capaian 57.700 mil dalam waktu kurang dari dua bulan.

Menurut hitungan Shevlin, jadwal terbang Infantino selama Piala Dunia ini bisa menyedot biaya lebih dari US$350 ribu hanya untuk bahan bakar jet, dan menghasilkan emisi lebih dari 700 ton CO2.

Kira-kira setara jejak karbon tahunan 40 warga Amerika Serikat pada umumnya.

Jejak Karbon yang Bertentangan

Angka emisi itu memantik kritik dari sejumlah pakar lingkungan yang selama ini menyoroti kesenjangan antara janji hijau FIFA dan perilaku nyata para pemimpinnya.

FIFA sejatinya telah lama mengklaim diri sebagai pelopor federasi olahraga dalam urusan iklim.

Organisasi ini tercatat sebagai federasi olahraga pertama yang bergabung dengan kampanye iklim PBB pada 2016, lalu menjadi salah satu penanda tangan kerangka kerja Sports for Climate Action Framework PBB pada 2018.

Lewat kerangka itu, FIFA berkomitmen memangkas emisi sebesar 50 persen pada 2030 dan mencapai net zero pada 2040.

Dalam strategi keberlanjutan resmi Piala Dunia 2026, Infantino bahkan menulis bahwa dunia sedang berada di tengah “keadaan darurat iklim” yang menuntut aksi segera.

Untuk mendukung target itu, panitia turnamen mengklaim akan mengelompokkan basis tim secara regional guna memangkas perjalanan jarak jauh.

Termasuk mendorong pemakaian transportasi umum dan kendaraan listrik, serta memaksimalkan penggunaan stadion yang sudah ada tanpa membangun venue baru.

Namun sejumlah akademisi menilai janji itu sulit dipertemukan dengan kenyataan di lapangan.

David Gogishvili, geografer dari Universitas Lausanne, menyebut skema Piala Dunia yang memanfaatkan stadion-stadion NFL yang tersebar di seantero benua justru menciptakan apa yang ia sebut sebagai “paradoks keberlanjutan”.

Sebuah model yang menurutnya secara struktural bergantung pada penerbangan berintensitas emisi tinggi.

Kritik senada datang dari Freddie Daley, peneliti dari University of Sussex yang juga tergabung dalam jaringan aksi iklim olahraga Cool Down.

Ia menyebut kebiasaan Infantino menumpang jet pribadi sebagai cermin dari kegagalan FIFA secara lebih luas dalam urusan lingkungan.

Ia juga menilai pilihan itu jauh dari gambaran kepemimpinan iklim yang seharusnya ditunjukkan pemimpin tertinggi federasi sepak bola dunia.

Denise Auclair, pakar perjalanan berkelanjutan dari European Federation for Transport and Environment, bahkan menyebut jet pribadi sebagai moda terbang paling boros karbon, jauh di atas pesawat komersial, apalagi kereta.

Kontroversi Lain, Telepon dari Gedung Putih

Di luar isu jejak karbon, kedekatan Infantino dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump juga ikut menyeruak sebagai kontroversi tersendiri di turnamen ini.

Pemicunya adalah keputusan langka FIFA mencabut sanksi larangan bermain satu pertandingan yang sebelumnya dijatuhkan kepada penyerang Timnas AS, Folarin Balogun, setelah ia menerima kartu merah pada laga babak 32 besar melawan Bosnia dan Herzegovina.

Sanksi itu dibatalkan tak lama setelah Trump menelepon langsung Infantino dan meminta peninjauan ulang atas kartu merah tersebut.

FIFA berdalih keputusan itu diambil berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA, yang memberi wewenang bagi komite disiplin untuk menangguhkan pelaksanaan sanksi.

Federasi Sepak Bola Belgia menyatakan “keterkejutannya” atas keputusan tersebut, sementara UEFA menyebut langkah itu telah “melewati garis merah”.

Asosiasi sepak bola Belgia bahkan sempat mengajukan protes resmi, meski akhirnya ditolak FIFA dengan alasan Belgia bukan pihak yang berperkara dalam kasus tersebut.

Kedekatan itu juga tampak jelas pada laga pembuka AS melawan Paraguay, yang dihadiri Infantino bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Presiden Paraguay Santiago Peña.

Meski begitu, dibanding kepala negara, Infantino tercatat lebih sering terlihat menonton bersama para presiden federasi sepak bola dari berbagai negara yang turut hadir dalam rangkaian Kongres FIFA.

Sorotan publik terhadap sosok Infantino pun tak selalu ramah. Setiap kali kamera siaran televisi menyorot wajahnya di tribune, yang terjadi berulang kali dalam satu pertandingan.

Sorakan protes dari sebagian penonton kerap terdengar, sebagai reaksi atas berbagai kontroversi yang membayangi kepemimpinannya sepanjang turnamen.

Sudah Mengincar 2030 Sebelum 2026 Usai

Di tengah berbagai sorotan itu, Infantino rupanya sudah menatap jauh ke depan.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Swiss, Blue Sport, ia mengungkapkan FIFA tengah mempertimbangkan usulan memperluas jumlah peserta Piala Dunia 2030.

Dari 48 menjadi 64 tim, bertambah 16 negara dari format yang baru pertama kali diterapkan tahun ini.

Piala Dunia 2030 sendiri dijadwalkan digelar bersama oleh Maroko, Portugal, dan Spanyol untuk memperingati satu abad sejarah turnamen ini.

Infantino berdalih perluasan itu diperlukan agar Piala Dunia benar-benar menjadi milik seluruh dunia, bukan hanya didominasi kekuatan tradisional Eropa dan Amerika Selatan.

“Setiap negara harus diizinkan untuk bermimpi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kualitas tim-tim dari berbagai kawasan terus meningkat dan berhak mendapat kesempatan lebih besar untuk berlaga di pentas terbesar sepak bola dunia.

Wacana itu langsung memicu perdebatan. Presiden Concacaf, Victor Montagliani, menyatakan keraguannya bahwa penambahan jumlah peserta menjadi 64 tim akan memberi dampak baik bagi turnamen maupun ekosistem sepak bola secara umum.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin pun disebut sebagai salah satu pihak yang paling keras menolak wacana ini.

Dengan alasan ekspansi berlebihan berisiko menggerus nilai proses kualifikasi yang berlangsung bertahun-tahun serta menurunkan kualitas permainan di putaran final. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%