
- Serangan militer Amerika Serikat ke Iran memicu gejolak pasar global, membuat mayoritas bursa Asia dibuka di zona merah dengan Korea Selatan mencatat penurunan terdalam.
- Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia naik sekitar 1% ke kisaran US$89 per barel karena kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
- Investor kini menghadapi dua risiko sekaligus: eskalasi konflik geopolitik dan potensi lonjakan inflasi AS yang dapat menambah tekanan pada pasar keuangan global.
Inilahdata.com – Pasar keuangan Asia membuka Rabu (10/6/2026) dengan wajah yang jauh dari tenang. Bukan karena data ekonomi yang mengejutkan, bukan karena keputusan bank sentral yang tidak terduga, melainkan karena satu kabar dari Timur Tengah yang datang di malam hari dan langsung mengubah kalkulasi risiko seluruh pelaku pasar global: militer Amerika Serikat menyerang Iran.

Dalam sekejap, sentimen yang sebelumnya mulai membaik berbalik arah.
Asia Merah, Korea Paling Dalam
Di antara pasar-pasar Asia yang langsung merespons, Korea Selatan mencatat penurunan paling tajam. Indeks Kospi ambruk lebih dari 2%, angka yang tidak kecil untuk satu sesi pembukaan. Jepang pun tidak luput: Nikkei 225 tergelincir 0,71%, sementara indeks acuan Australia S&P/ASX 200 bergerak lebih rendah meski dengan magnitude yang lebih terbatas.

Efeknya tidak berhenti di Asia. Kontrak berjangka saham Amerika Serikat yang diperdagangkan pada Selasa malam waktu setempat turut terseret ke zona merah. Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing melemah 0,3%, sedangkan futures Dow Jones Industrial Average turun 161 poin, setara dengan koreksi sekitar 0,3%.
Helikopter Jatuh, Rudal Pun Meluncur
Di balik gejolak pasar ini ada eskalasi militer yang bergerak cepat. Komando Pusat AS atau CENTCOM mengonfirmasi bahwa serangan terhadap Iran dilancarkan sebagai respons atas jatuhnya sebuah helikopter Apache Angkatan Darat Amerika yang sedang berpatroli di kawasan Selat Hormuz sehari sebelumnya. Pihak AS menyebut ini sebagai “serangan untuk membela diri.”
Sebelum serangan dilakukan, Presiden Donald Trump lebih dahulu menuding Iran bertanggung jawab atas insiden tersebut. Namun Teheran hingga kini belum mengakui secara terbuka keterlibatannya, sebuah keheningan yang justru menambah kabut ketidakpastian di pasar global.
Yang lebih mengkhawatirkan para analis adalah dampak jangka menengahnya: eskalasi ini berpotensi meruntuhkan gencatan senjata yang selama ini masih berdiri di atas fondasi yang sangat rapuh, sekaligus mempersulit jalan menuju kesepakatan damai yang sempat tampak mungkin terwujud dalam waktu dekat.
Minyak Melonjak, Hormuz Kembali Jadi Momok
Pasar energi bereaksi cepat. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1% ke kisaran US$89 per barel, sebuah lonjakan yang mencerminkan kekhawatiran nyata terhadap kelangsungan pasokan energi global, terutama mengingat Selat Hormuz adalah jalur yang mengalirkan sebagian besar minyak Timur Tengah ke pasar dunia.
Wall Street Sudah Goyah Sebelum Kabar Iran
Bahkan sebelum berita serangan militer itu masuk, Wall Street pada sesi reguler Selasa sudah tidak dalam kondisi prima. Indeks S&P 500 turun 0,26% dan Nasdaq Composite merosot lebih dalam — 0,97% — terbebani oleh gelombang aksi jual di saham-saham semikonduktor yang belakangan menjadi primadona pasar. Hanya Dow Jones yang berhasil bertahan di zona positif, menguat tipis 86,10 poin atau 0,17%.
Koreksi di sektor chip dan memori ini bukan kejutan bagi semua pihak. Kepala Strategi Investasi Empower Investments, Marta Norton, menilai penguatan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir sudah berlangsung terlalu agresif.
“Reli sektor semikonduktor berjalan terlalu cepat sehingga membuat sentimen pasar terlihat terlalu tinggi dan memicu koreksi, meski hal ini belum tentu mencerminkan memburuknya kondisi fundamental ekonomi secara keseluruhan,” ungkap Norton.
Kalimat itu sebenarnya adalah peringatan halus: pasar sedang mendinginkan diri dari euforia kecerdasan buatan yang mendorong valuasi ke level yang sulit dipertahankan dalam jangka pendek.
Inflasi AS Mengintai di Balik Sudut
Di tengah semua gejolak ini, pelaku pasar masih harus bersiap menghadapi satu variabel lagi yang bisa mengubah arah perdagangan secara signifikan: data inflasi Amerika Serikat untuk bulan Mei yang akan dirilis Rabu pagi waktu setempat.
Konsensus yang dikompilasi Dow Jones memperkirakan angka Consumer Price Index secara tahunan akan menyentuh 4,2%, dengan kenaikan bulanan sebesar 0,5%.
Jika proyeksi itu terbukti akurat, ini akan menjadi level inflasi tertinggi AS sejak April 2023, dan sekaligus menandai pertama kalinya inflasi kembali menembus angka 4% sejak periode yang sama tiga tahun silam.
Bagi pasar yang sudah terhimpit oleh ketegangan geopolitik, angka inflasi setinggi itu bisa menjadi pukulan ganda yang sulit dicerna dalam satu hari perdagangan. (**)