
Inilahdata.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan pihaknya telah meminta dukungan Bank Dunia untuk pengadaan 10.000 unit alat rontgen. Alat tersebut nantinya akan disebar ke puskesmas-puskesmas guna memperluas jangkauan skrining tuberkulosis (TB) di seluruh Indonesia.
Hal ini disampaikan Budi di sela kegiatan skrining TB dan pemeriksaan kesehatan gratis di Jakarta Utara, Kamis (13/8/2026). Menurutnya, dengan alat rontgen tersedia langsung di puskesmas, masyarakat tak perlu lagi repot-repot datang ke rumah sakit hanya untuk menjalani pemeriksaan.
“Jadi dengan demikian, saya sudah meminta bantuan teman-teman dari Bank Dunia; kita dapat uang untuk membeli rontgen 10 ribu. Mau kita bagi ke puskesmas-puskesmas, kayak USG,” kata Budi.
Ia menjelaskan, kehadiran rontgen di puskesmas akan mempermudah masyarakat menjalani skrining TB tanpa harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih besar. Pemeriksaan ini pun bisa digabungkan dengan program Cek Kesehatan Gratis yang sedang berjalan.
“Dengan adanya rontgen di puskesmas, orang-orang itu bisa screening, nggak usah ke rumah sakit. Bisa dibarengi dengan program Cek Kesehatan Gratis,” ujarnya.
TB, Pembunuh Senyap yang Sering Terlambat Terdeteksi
Budi mengingatkan, TB masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit menular di Indonesia, dengan sekitar 120.000 jiwa meninggal setiap tahunnya.
Angka ini menempatkan Indonesia di posisi kedua terbawah secara global dalam hal jumlah kematian akibat TB, hanya kalah dari India.
“Kalau kita lihat kenapa orang Indonesia meninggalnya lebih cepat dibandingkan orang di negara maju, salah satu penyebab utama wafatnya orang Indonesia karena penyakit menular adalah tuberkulosis (TB). Ini meninggalnya setahun 120 ribu,” katanya.
Menurut Budi, akar masalahnya bukan pada ketersediaan obat, obat TB sudah tersedia dan terbukti efektif menyembuhkan pasien bila dikonsumsi sesuai anjuran. Masalah sesungguhnya justru terletak pada keterlambatan deteksi.
“Masalahnya adalah nggak ketahuan kalau dia sakit TB, karena screening-nya terlambat atau tidak dilakukan,” ujarnya.
Rontgen Portabel, Solusi Skrining di Lapangan
Untuk mengatasi persoalan itu, pemerintah berupaya memperluas cakupan skrining agar kasus TB bisa ditemukan lebih dini. Budi menyebut teknologi rontgen kini semakin praktis, dengan tersedianya perangkat berukuran kecil yang bisa dibawa menggunakan sepeda motor.
“Screening-nya memang susah. Yang paling gampang pakai rontgen. Rontgen itu susah banget. Dua alatnya besar sekali, dipasang di rumah sakit. Sekarang teknologi baru, alatnya kecil, bisa digendong, dibawa pakai motor,” tuturnya.
Selain puskesmas, pemerintah juga akan memprioritaskan fasilitas kesehatan di kawasan berkepadatan penduduk tinggi, termasuk lingkungan pondok pesantren, sebagai lokasi sasaran perluasan skrining.
“Dan kita akan bagi juga beberapa puskesmas yang banyak penduduk padatnya dengan rontgen yang bisa dibawa pakai motor, seperti yang sekarang dipakai di pondok pesantren,” katanya.
Temuan di Nusakambangan Jadi Alarm
Budi menjelaskan, kepadatan hunian menjadi salah satu pertimbangan utama pemerintah memperluas skrining ke lingkungan pesantren. Ia membandingkan dengan temuan skrining di lembaga pemasyarakatan Nusakambangan, yang menunjukkan tingkat deteksi kasus TB jauh di atas rata-rata nasional.
Skrining menggunakan rontgen di Nusakambangan menemukan sekitar 3% kasus positif TB — sepuluh kali lipat dibandingkan rata-rata temuan skrining nasional yang berkisar 0,3%.
“Kemarin saya jalan-jalan ke Nusakambangan sama Pak Menteri Imigrasi. TBC pakai rontgen, ketemu 3%. Sepuluh kali lebih tinggi,” ujarnya.
Menurut Budi, kondisi hunian yang padat turut memperbesar risiko penularan TB, pola yang menurutnya juga ia temui di berbagai pondok pesantren dengan kamar berisi banyak penghuni.
“Saya langsung ingat, saya itu dulu sering jalan ke pesantren-pesantren. Wah, itu benar-benar tumpuk-tumpukannya lebih atas bawah, kiri kanan. Tumpuk-tumpukannya padat sekali,” kata Budi. “Jadi saya rasa perlu di-screening di pesantren,” lanjutnya.
Halaman : 1 2