Rabu, 29 Jul 2026 - :
12 Jul 2026 - 21:27 | 67 Views | 0 Suka

Kejar Target 2027, Pertamina Gandeng Boeing Bangun Ekosistem Bioavtur di Tengah Segudang Tantangan

10 mnt baca
  • Pertamina dan Boeing menandatangani MoU untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia, mencakup identifikasi bahan baku, teknologi, dan kebijakan pendukung.
  • Mandatori campuran SAF sebesar 1% untuk penerbangan internasional mulai berlaku 2027, namun implementasinya masih dibayangi tantangan pasokan bahan baku, tingginya biaya produksi, dan keterbatasan infrastruktur.
  • Indonesia berpotensi menjadi salah satu produsen SAF terbesar di ASEAN, dengan proyeksi surplus produksi hingga 2,2 juta barel per hari pada 2050, didukung sumber daya sawit dan minyak jelantah yang melimpah.

Inilahdata.com – Pemerintah mulai mempersiapkan diri menyambut kewajiban penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur yang rencananya berlaku mulai 2027.

Namun jalan menuju ke sana masih terjal, mulai dari keterbatasan pasokan bahan baku hingga kapasitas produksi yang belum memadai untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional.

Di tengah persiapan itu, PT Pertamina (Persero) mengumumkan langkah baru dengan menggandeng produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, untuk menjajaki pengembangan ekosistem SAF di dalam negeri.

Kerja sama ini ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua perusahaan pada pekan lalu.

Berdasarkan keterangan resmi yang dikutip Jumat (10/7/2026), kolaborasi tersebut mencakup penjajakan bersama mulai dari identifikasi bahan baku, pengembangan teknologi produksi.

Termasuk dukungan terhadap perumusan kebijakan yang diperlukan untuk mempercepat implementasi SAF di Indonesia.

Bukan Sekadar Urusan Bahan Bakar

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa kemitraan dengan Boeing dirancang untuk meletakkan fondasi jangka panjang bagi industri SAF nasional, bukan sekadar proyek pengadaan bahan bakar semata.

“Dengan potensi sumber daya domestik yang melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan,” ujarnya.

Dari sisi Boeing, Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, melihat momentum ini sebagai peluang strategis bagi Indonesia untuk memimpin transisi penerbangan berkelanjutan di kawasan.

“Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa kerja sama ini turut mencakup dukungan program edukasi dan pelatihan untuk mempercepat pembentukan ekosistem SAF nasional.

Data proyeksi Boeing sendiri memperlihatkan urgensi di balik kolaborasi ini: lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara diperkirakan tumbuh sekitar 7 persen per tahun hingga 2044, memicu permintaan hampir 4.900 unit pesawat baru.

Sebuah lonjakan yang otomatis akan mendorong kebutuhan bahan bakar penerbangan, termasuk SAF, dalam skala jauh lebih besar dari saat ini.

Modal yang Sudah Dimiliki Pertamina

Kerja sama dengan Boeing bukan langkah pertama Pertamina di ranah SAF.

Perusahaan pelat merah ini sebelumnya telah merintis sejumlah inisiatif, mulai dari produksi dan sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel, penerapan penggunaan SAF bersama maskapai Pelita Air, hingga pengembangan proyek Cilacap Biorefinery.

Melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga, perusahaan tengah menyiapkan produksi SAF sekaligus Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan memanfaatkan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) dan berbagai bahan baku berkelanjutan berbasis limbah lainnya.

Produksi komersial dari kilang Cilacap ini sejatinya sudah mulai berjalan sejak Maret 2026, dengan kandungan campuran SAF pada bahan bakar konvensional saat ini berkisar 2,4 persen, masih jauh dari target mandatori 1 persen untuk penerbangan internasional yang dipatok pemerintah mulai 2027.

Apalagi dari rencana peningkatan bertahap menuju campuran 30 persen di masa depan.

Tantangan yang Belum Tuntas

Di balik optimisme kerja sama internasional ini, sejumlah pihak mengingatkan bahwa jalan Indonesia menuju kewajiban SAF masih panjang.

Direktur Bioenergi Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM sebelumnya memetakan setidaknya lima tantangan utama.

Mulai dari keterbatasan jumlah dan jenis bahan baku, tingginya biaya produksi dibanding avtur konvensional, minimnya infrastruktur produksi-penyimpanan-distribusi, rumitnya proses sertifikasi internasional, serta perlunya riset berkelanjutan agar SAF benar-benar terjangkau secara ekonomi.

Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menggarisbawahi kesenjangan harga yang masih tajam.

Menurutnya, harga bioavtur berbasis minyak jelantah bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat harga avtur konvensional, sebuah beban yang pada akhirnya berpotensi ditanggung maskapai maupun ditransmisikan ke harga tiket, di tengah tekanan pemerintah agar tarif penerbangan tetap terjangkau bagi masyarakat.

Isu lain yang tak kalah pelik adalah soal bahan baku minyak sawit (CPO), yang sebenarnya melimpah di Indonesia sebagai negara produsen sawit terbesar dunia.

Namun masih dibayangi keraguan pasar internasional soal keberlanjutannya dan belum masuk dalam kerangka sertifikasi karbon penerbangan global CORSIA.

Sementara itu, minyak jelantah — bahan baku yang dianggap paling “hijau”, volumenya jauh lebih terbatas untuk memenuhi skala produksi industri.

Kendati demikian, potensi Indonesia dinilai tetap besar. Berdasarkan proyeksi ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia diperkirakan masuk tiga besar produsen SAF di kawasan ASEAN.

Dengan potensi surplus produksi mencapai 2,2 juta barel per hari pada 2050, modal yang bisa membuka peluang ekspor ke pasar Asia Pasifik dan Eropa, sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia di industri penerbangan hijau global. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%