
Pertamina menggandeng Boeing lewat nota kesepahaman untuk membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) nasional, seiring persiapan mandatori bioavtur yang mulai berlaku 2027.
Nota kesepahaman ini mencakup identifikasi bahan baku, pengembangan teknologi, hingga dukungan kebijakan — sebuah investasi jangka panjang, bukan sekadar transaksi bahan bakar.
Kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan.
Pertumbuhan penumpang yang pesat membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memimpin transisi bahan bakar penerbangan di kawasan.
Proyeksi pertumbuhan lalu lintas penumpang udara Asia Tenggara hingga 2044.
Unit pesawat baru yang dibutuhkan kawasan untuk menopang lonjakan permintaan tersebut.
Posisi Indonesia yang diproyeksikan sebagai produsen SAF terbesar di ASEAN pada 2050.
Kementerian ESDM dan para pelaku industri sepakat: tantangan terbesar SAF bukan lagi pada teknologi, melainkan pada rantai pasok dan keekonomiannya.
Sebelum kemitraan dengan Boeing, sejumlah inisiatif SAF domestik sudah lebih dulu berjalan sebagai fondasi.
Green Refinery memproduksi SAF via co-processing minyak jelantah sejak Maret 2026.
Maskapai pertama yang mengoperasikan penerbangan dengan bioavtur Pertamina.
Potensi pengurangan emisi siklus hidup karbon dari penggunaan SAF murni (neat).
Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara.
Halaman : 1 2