
- BI dan pemerintah sepakat memperkuat koordinasi fiskal dan moneter untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
- Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen investasi agar investor asing kembali masuk.
- BI juga akan meningkatkan remunerasi atau bunga atas dana pemerintah yang ditempatkan di bank sentral.
- Pemerintah dan BI berkomitmen menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan.
- Sinergi kebijakan diyakini dapat memperkuat nilai tukar rupiah serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Inilahdata.com – Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah sepakat mempererat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal guna meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong kembali masuknya aliran modal asing sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan salah satu fokus utama dalam sinergi tersebut adalah memperkuat daya saing instrumen investasi domestik agar kembali menarik bagi investor asing.
Menurut Perry, tingginya suku bunga di sejumlah negara maju telah mendorong keluarnya dana asing dari berbagai instrumen keuangan Indonesia, termasuk pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Nah, ada dua yang berkaitan dengan penguatan koordinasi moneter-fiskal untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Yang pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portfolio inflows kembali masuk. Dengan kenaikan bunga luar negeri memang itu ada outflow, ada saham dan SBN, dan juga kecil di SRBI. Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry dalam pertemuan koordinasi yang dihadiri DPR, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan pemerintah di Gedung DPR RI, Sabtu (6/6/2026).

Selain memperkuat daya tarik investasi, BI dan pemerintah juga menyepakati langkah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang serta sektor perbankan agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Perry menjelaskan pengelolaan kas pemerintah akan tetap dilakukan secara disiplin, namun di saat yang sama Bank Indonesia akan meningkatkan remunerasi atau imbal hasil atas dana pemerintah yang ditempatkan di bank sentral.
“Nomor dua adalah sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap disiplin, tapi tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah. Dengan demikian, operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung,” katanya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai keselarasan kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia akan memberikan sinyal positif bagi pasar sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap aset-aset keuangan Indonesia.
“Dan tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai tukar rupiah, ke rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan, tidak akan melemah lagi ke level yang lebih tinggi dari sekarang,” ujar Purbaya.
Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap berada dalam kondisi yang kuat. Karena itu, kolaborasi yang semakin erat antara otoritas fiskal dan moneter diyakini dapat memperbesar efektivitas kebijakan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Senada dengan itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai koordinasi lintas lembaga menjadi pesan penting bagi pelaku pasar bahwa pemerintah dan Bank Indonesia bergerak dalam satu arah untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
“Dalam situasi hari ini menuntut kerja sama di antara kita semua, kebijakan-kebijakan harus saling mendukung, saling memperkuat satu sama lain baik dari sisi ekonomi makro dan moneter yang dibawa Gubernur Bank Indonesia maupun di sisi fiskal yang dikendalikan oleh Menteri Keuangan,” kata Prasetyo.
Pemerintah dan Bank Indonesia berharap penguatan koordinasi tersebut mampu menjaga stabilitas pasar keuangan, menopang nilai tukar rupiah, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan. (**)