
Inilahdata.com – Riset terbaru yang dirilis Sintesa Strategi Indonesia (SSI) menyoroti pola komunikasi pemerintahan yang dinilai masih terlalu bergantung pada satu figur, yakni Presiden Prabowo Subianto.
Kajian ini menemukan bahwa jajaran kabinet, termasuk Wakil Presiden dan para menteri, belum banyak berperan sebagai “bumper” yang memperkuat citra kepala negara di ruang digital.
Kesimpulan tersebut ditarik dari pemantauan ketat terhadap lalu lintas percakapan di dunia maya sepanjang 5 Juni sampai 2 Juli 2026. Tim SSI menyisir lebih dari 231 juta paparan konten serta sekitar 1 juta percakapan yang tersebar di platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, hingga pemberitaan media daring.
Dari jumlah besar tersebut, ternyata porsi konten yang benar-benar menyentuh nama Wakil Presiden maupun para menteri Kabinet Merah Putih tidak sampai seperlima dari total percakapan.
Dalam laporannya yang dipublikasikan Sabtu (4/7/2026), SSI menggarisbawahi bahwa sebagian besar anggota kabinet belum berhasil menjadi penopang citra presiden, sebab arus komunikasi pemerintahan pada praktiknya masih terlalu berpusat pada sosok presiden itu sendiri.
Metode yang digunakan tergolong sistematis: penelusuran kata kunci (keyword-based crawling), penyaringan tingkat relevansi, pembersihan data ganda, klasifikasi otomatis dengan bantuan kecerdasan artifisial, hingga tahap validasi akhir oleh tim peneliti.
Kabinet Belum Optimal Menopang Narasi
Salah satu temuan penting riset ini adalah bagaimana berbagai persoalan teknis di level kementerian, mulai dari eksekusi program hingga polemik yang mencuat di publik.
Pada akhirnya lebih sering diarahkan opini publiknya ke sosok presiden, bukan ke pejabat yang sebenarnya bertanggung jawab langsung.
Komunikasi dari para menteri dinilai belum terintegrasi secara maksimal untuk menjelaskan maupun mengamplifikasi kebijakan yang dijalankan pemerintahan Prabowo.
Hanya segelintir menteri yang tercatat memberi kontribusi berarti terhadap opini publik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, misalnya, tercatat sebagai figur kabinet dengan sumbangan sentimen positif paling besar, yakni 40,1 persen.
Sebaliknya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming justru tercatat sebagai figur dengan sumbangan sentimen negatif terbesar, mencapai 27,1 persen.
Di lapisan menengah pemerintahan atau yang disebut Tier 2, Kepala Badan Komunikasi M. Qodari justru mencatatkan sentimen positif tertinggi, sebesar 73,3 persen.
Menariknya, kontribusi positif dari kalangan penegak hukum juga cukup mencolok. Polri berhasil membukukan sentimen positif tertinggi di antara institusi hukum, sebesar 72,3 persen.
Sementara Kejaksaan (38,1 persen) dan KPK (26,3 persen) masih dominan diwarnai percakapan netral, pertanda kedua lembaga ini belum banyak berkontribusi memperkuat citra presiden.