
Inilahdata.com – Kepolisian Republik Indonesia, melalui Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya, menggelar penggeledahan serentak di delapan titik di Jakarta pada Rabu (8/7/2026), dengan pengembangan menjangkau wilayah Bogor.
Dua lokasi yang paling banyak disorot adalah sebuah kafe di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, dan tempat penukaran uang atau money changeryang berada tak jauh dari lokasi tersebut.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan bahwa penggeledahan ini menyasar tiga objek perkara sekaligus, yaitu dugaan korupsi dalam pengadaan batu bara PT PLN (Persero) yang disebut menjadi pemicu pemadaman listrik massal di sejumlah wilayah Sumatra pada Mei 2026.
Termasuk dugaan korupsi dan pencucian uang di tubuh PT Asabri (Persero) beserta PT Asuransi Jiwasraya, serta dugaan rasuah dalam penyelesaian utang anak usaha PT Krakatau Steel (Persero).
Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk perhatian langsung Presiden terhadap penanganan kasus-kasus korupsi besar. “Ini atensi Bapak Presiden untuk kasus korupsi menjadi perhatian kepolisian,” ujarnya kepada wartawan di lokasi.
Kepala Kortastipidkor Polri Irjen Totok Suharyanto menambahkan bahwa penyidikan tiga perkara tersebut dijalankan lewat skema joint investigation antara timnya dengan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.
Ia merinci, penanganan mencakup dugaan korupsi pengadaan batu bara untuk sejumlah pembangkit listrik tenaga uap sepanjang 2018-2026, dugaan korupsi Asabri dan Jiwasraya periode 2020-2025.
Penanganan itu juga termasuk dengan dugaan korupsi dan pencucian uang dalam proses pelunasan utang PT CBS kepada PT Krakatau Niaga Indonesia (KNI), anak usaha Krakatau Steel, pada rentang waktu yang sama.
Brankas Tersembunyi di Lantai Dua
Penggeledahan di Cafe de’Clan Signature, yang berlokasi di Jalan Cilandak Tengah, Cipete, berlangsung dengan pengamanan ketat.
Sekitar lima belas personel Korps Brigade Mobil bersenjata laras panjang disiagakan selama proses berlangsung. Di lantai dua bangunan itu, penyidik menemukan sebuah brankas besi besar dengan tinggi diperkirakan mencapai dua meter, tersembunyi di balik sebuah lemari.
Budi Hermanto menuturkan, brankas tersebut sempat sulit dibuka karena di dalamnya masih terdapat brankas kecil lain yang juga terkunci.
Setelah berhasil diakses, petugas mendapati sejumlah dokumen serta uang tunai dalam jumlah besar berupa pecahan mata uang asing, dolar Singapura dan dolar Amerika Serikat.
“Ada brankas terselubung di balik lemari, isinya dokumen dan uang dalam jumlah fantastis,” katanya.
Ia menyebut polisi masih melakukan penelaahan mendalam terhadap dokumen dan penghitungan uang tersebut karena jumlahnya cukup signifikan.
Selain kafe, penyidik turut menggeledah Point Money Changer yang berlokasi berdekatan. Tempat penukaran uang ini diduga menjadi sarana yang dimanfaatkan untuk aktivitas pencucian uang terkait perkara blackout batu bara.
“Money changer ini terkait dugaan pencucian uang, dengan sarana dan fasilitas money changer,” ujar Budi menjelaskan alasan penggeledahan di lokasi itu.