
Inilahdata.com – Nilai tukar rupiah punya peluang mendapat sokongan dari melandainya harga minyak dunia, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa putaran baru perundingan dengan Iran akan digelar hari ini.
Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), pergerakan rupiah pada Senin (3/8/2026) relatif tertahan di kisaran Rp18.048 per dolar AS per pukul 08.17 WIB.
Sentimen dari pasar energi menjadi pemicu utama. Harga minyak mentah Brent kontrak Oktober sempat ambles hingga 7,3% pada perdagangan awal Asia, sebelum penurunannya terpangkas menjadi 4,7% ke level US$83,77 per barel begitu bursa Singapura dibuka. West Texas Intermediate (WTI) ikut terkoreksi ke bawah US$81 per barel.
Tekanan pada harga minyak turut diperberat oleh keputusan negara-negara inti OPEC+ yang sepakat menaikkan kuota produksi. Langkah itu disebut sebagai awal pemulihan pasokan yang selama ini ditahan sejak 2023.
Kombinasi kedua sentimen tersebut membuat mayoritas mata uang Asia bergerak menguat. Won Korea Selatan mencatat penguatan paling tajam sebesar 0,46%, diikuti dolar Singapura yang naik 0,12%. Ringgit Malaysia dan yuan offshore juga menghijau, meski penguatannya tipis.
Ujian dari Data BPS
Meski begitu, rupiah masih harus melewati ujian dari rilis data perdagangan dan inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan pukul 11.00 WIB.
Inflasi Juli diperkirakan melambat menjadi 3,16% secara bulanan, turun dari 3,34% pada Juni, ditopang harga bahan bakar minyak yang relatif stabil.
Neraca perdagangan diperkirakan masih mencatat defisit, kendati nilainya diproyeksi lebih kecil dibanding Mei yang mencapai US$1,61 miliar. Konsensus yang dihimpun Bloomberg memperkirakan defisit neraca dagang Juni berada di angka US$756 juta.
Dari sisi impor, pertumbuhannya diproyeksi mencapai 22,3% pada Juni 2026, nyaris sama dengan realisasi Mei sebesar 22,16%. Sementara ekspor diperkirakan masih terkontraksi 0,4%, meski membaik ketimbang kontraksi Mei yang mencapai 5,73%.
Jika proyeksi tersebut terbukti, laju impor yang tetap lebih tinggi dari ekspor berpotensi kembali membebani rupiah, karena kebutuhan dolar AS untuk membiayai transaksi ikut membengkak.
Kontraksi ekspor yang belum sepenuhnya pulih juga menjadi sinyal bahwa permintaan global terhadap produk Indonesia belum benar-benar bangkit.
Ketimpangan arus dolar AS ini, arus masuk dari ekspor yang masih terbatas berhadapan dengan arus keluar untuk membiayai impor yang tetap besar, menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah rentan dalam beberapa bulan terakhir.
Suku Bunga AS Masih Jadi Ganjalan
Selain faktor domestik, imbal hasil US Treasury yang bertahan tinggi dalam waktu lama berisiko mempertahankan daya tarik aset dolar AS.
Kondisi ini bisa mengurangi minat investor terhadap obligasi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sekaligus membatasi arus masuk portofolio asing dan mengerek premi risiko domestik.
Di sisi lain, tetap ada sejumlah bantalan yang menahan pelemahan lebih dalam. Perbaikan kontraksi ekspor dari 5,73% menjadi hanya 0,4% memberi sentimen positif.
Defisit fiskal yang relatif terjaga di level 0,76% dari Produk Domestik Bruto (PDB), ditambah kemajuan investasi infrastruktur yang berlanjut, juga dinilai memberi dukungan struktural bagi rupiah.
Kendati demikian, Samuel Sekuritas mengingatkan bahwa ruang fiskal pemerintah berpotensi tergerus secara bertahap akibat beban subsidi yang meningkat, penerimaan pajak penghasilan korporasi yang melemah, kebutuhan pembiayaan pemerintah daerah yang membengkak, serta penyesuaian program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekuritas itu menilai prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia masih tertopang oleh investasi, hilirisasi, dan transformasi ekonomi. Namun untuk jangka pendek, tantangannya jauh lebih beragam.
“Namun, perekonomian jangka pendek menjadi semakin terapar pada suku bunga eksternal, harga minyak, pembatasan perdagangan, tekanan nilai tukar, dan persepsi institusional,” tulis Samuel Sekuritas dalam laporannya.
Karena itu, kredibilitas dan efektivitas kebijakan pemerintah disebut akan menjadi penentu arah perekonomian hingga akhir 2026.
Dengan berbagai sentimen domestik dan tekanan eksternal yang saling tarik-menarik ini, rupiah diperkirakan bergerak menguat terbatas hari ini, tertolong pelandaian harga minyak dan penguatan mayoritas mata uang Asia, apalagi jika realisasi neraca perdagangan ternyata lebih baik dari proyeksi para ekonom.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah masih berpotensi melemah hari ini setelah terbentur area resistance-nya, meski laju pelemahannya diperkirakan terbatas dalam rentang yang sempit.
Support terdekat berada di level Rp18.040 per dolar AS. Jika level ini kembali ditembus, pelemahan lanjutan berpeluang menuju Rp18.080 per dolar AS sebagai target kedua, dengan Rp18.170 per dolar AS sebagai support paling kuat dalam kerangka waktu harian hingga sepekan ke depan.
Sebaliknya, apabila rupiah menguat dengan volume transaksi yang besar dan berhasil menembus area resistance, level Rp17.900 per dolar AS layak dicermati sebagai target penguatan, disusul Rp17.800 per dolar AS, dengan Rp17.700 per dolar AS sebagai resistance berikutnya. (**)
Halaman : 1 2