Sabtu, 12 Sep 2026 - :
24 Agu 2026 - 05:25 | 42 Views | 0 Suka

Ruang Fiskal Menyempit, Ekonom Usul Insentif Bersifat Targeted dan Temporary

10 mnt baca
EKONOMI & KEBIJAKAN FISKAL
Wawancara Chief Economist Bank Danamon
Update Minggu, 23 Agustus 2026
>5%
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Saat Ini
Di tengah ruang fiskal yang menyempit, Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz mengingatkan: besarnya nilai insentif tidak otomatis berbanding lurus dengan besar dampaknya terhadap pertumbuhan.
INTI SOALRiak Pengganda: Sasaran Lebar vs Sasaran Tepat
Sasaran Lebar
Sasaran Tepat
Nilai stimulus boleh sama besar – tapi yang tidak tersasar cepat memudar dampaknya, sementara yang tepat sasaran menjangkau lebih jauh dan bertahan lebih lama sebagai multiplier ekonomi.
Multiplier
Bergantung Desain & Ketepatan Sasaran
Revenue Foregone
Risiko Jangka Pendek dari Insentif Pajak
Basis PPN/PPh
Berpotensi Meluas di Jangka Menengah
SASARAN EFEKTIFSiapa yang Perlu Diprioritaskan
Konsumsi Tinggi
Kelompok masyarakat dengan kecenderungan membelanjakan tambahan pendapatan lebih cepat.
Biaya & Likuiditas Terkendala
Sektor usaha yang menghadapi hambatan biaya operasional maupun arus kas.
SYARATInsentif Ideal Menurut Irman Faiz
Targeted Temporary Sunset Clause Evaluasi Berkala
ARAH INSENTIFUntuk Masyarakat vs Untuk Dunia Usaha
Masyarakat
Bantuan pangan tepat sasaran, dukungan transportasi, dan kebijakan penekan biaya kebutuhan dasar – dengan perhatian khusus pada kelas menengah yang pendapatannya melambat.
Dunia Usaha
Insentif capex dan mesin, percepatan depresiasi investasi produktif, dukungan vokasi tenaga kerja, serta pengurangan biaya input sektor domestik.
SOROTANPernyataan Langsung Chief Economist Bank Danamon
Irman Faiz – Chief Economist Bank Danamon
Bukan semakin besar stimulus otomatis semakin besar dampaknya terhadap pertumbuhan,” ujarnya kepada Bisnis.
Ukuran keberhasilan insentif bukan seberapa besar pajak yang dikorbankan sebagai stimulus, melainkan seberapa besar aktivitas ekonomi tambahan yang benar-benar tercipta dari setiap rupiah biaya fiskal yang dikeluarkan.
INILAHDATA.COM
Sumber: Wawancara Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz dengan Bisnis, Minggu 23 Agustus 2026

Inilahdata.com – Rencana pemerintah menggelontorkan insentif ekonomi dalam jumlah besar untuk menopang daya beli masyarakat dan menggerakkan dunia usaha dinilai perlu dibarengi dengan perhitungan matang soal efektivitasnya.

Sorotan ini mengemuka lantaran kebijakan tersebut akan dijalankan di tengah tekanan pada penerimaan pajak dan ruang fiskal yang kian sempit.

Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz menyampaikan, besar-kecilnya nilai stimulus tidak serta-merta menentukan seberapa besar dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, yang lebih menentukan adalah desain kebijakan dan ketepatan sasaran penerima manfaat.

“Bukan semakin besar stimulus otomatis semakin besar dampaknya terhadap pertumbuhan,” ujar Irman kepada Bisnis, Minggu (23/8/2026).

Ia menjelaskan, stimulus akan bekerja lebih optimal apabila menyasar kelompok masyarakat dengan kecenderungan konsumsi tinggi, serta pelaku usaha yang tengah terkendala biaya atau likuiditas.

Dengan begitu, tambahan pendapatan yang diterima bisa lebih cepat berputar kembali menjadi konsumsi, produksi, hingga investasi baru.

Irman mencatat, perekonomian Indonesia saat ini masih tumbuh di atas 5%. Namun tantangan sesungguhnya, kata dia, bukan sekadar mempertahankan laju itu, melainkan mendorong akselerasi yang berkelanjutan.

Karena itu, ia menilai stimulus fiskal semestinya tidak berhenti sebagai pendongkrak permintaan jangka pendek saja, tapi juga perlu mampu menarik investasi swasta dan mengerek produktivitas nasional.

Ia menekankan, dengan ruang fiskal yang terbatas, ukuran yang paling relevan adalah seberapa besar tambahan pertumbuhan yang bisa dihasilkan dari setiap rupiah biaya fiskal yang dikeluarkan.

Dari sisi penerimaan negara, Irman mengingatkan bahwa insentif, terutama yang berbentuk keringanan pajak, berpotensi menimbulkan revenue foregone atau kehilangan potensi penerimaan dalam jangka pendek.

Hal ini perlu diwaspadai mengingat kondisi penerimaan negara yang masih tertekan, sementara kebutuhan belanja dan pembiayaan pemerintah tetap besar.

Kendati demikian, ia melihat dampaknya bisa berbalik positif dalam jangka menengah apabila stimulus berhasil memicu aktivitas ekonomi baru: konsumsi yang meningkat akan memperluas basis PPN, sementara investasi, produksi, dan penciptaan lapangan kerja yang tumbuh akan memperbesar basis PPh badan maupun PPh orang pribadi.

Baginya, ukuran keberhasilan insentif bukan terletak pada besaran pajak yang digelontorkan, melainkan pada seberapa besar aktivitas ekonomi tambahan yang benar-benar tercipta.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya insentif memiliki batas waktu dan mekanisme evaluasi yang jelas, karena kebijakan yang berlangsung permanen tanpa menghasilkan tambahan investasi maupun konsumsi berisiko justru menggerus basis penerimaan negara ke depan.

Insentif, menurutnya, idealnya bersifat targeted dan temporary, dilengkapi sunset clause, serta dievaluasi secara berkala.

Untuk sisi masyarakat, Irman berpandangan pemerintah perlu memprioritaskan kebijakan yang menjaga pendapatan siap belanja kelompok menengah bawah, karena kelompok ini cenderung membelanjakan tambahan pendapatannya lebih cepat.

Bantuan pangan yang lebih tepat sasaran, dukungan transportasi, hingga kebijakan yang menekan biaya kebutuhan dasar dinilai bisa memberikan efek berganda konsumsi yang relatif cepat terasa.

Ia turut mengingatkan agar pemerintah tak lupa memperhatikan kelas menengah yang tengah mengalami perlambatan pendapatan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sementara untuk dunia usaha, Irman menilai insentif idealnya diarahkan pada penurunan biaya usaha dan dorongan investasi produktif, bukan sekadar insentif pajak yang bersifat luas.

Ia mencontohkan sejumlah opsi seperti insentif untuk belanja modal (capex) dan mesin, percepatan depresiasi investasi produktif, dukungan pelatihan vokasi dan tenaga kerja, hingga pengurangan biaya input pada sektor-sektor yang memiliki keterkaitan erat dengan ekonomi domestik. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H — InilahData.com
PERINGATAN NASIONAL
1448 H
MEMPERINGATI
MAULID NABI
MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
RABIUL AWAL
12
RABIUL AWAL
1448 HIJRIAH
SELASA, 25 AGUSTUS 2026
Cinta kepada Rasul, Teladan Akhlak,
Rahmat bagi Semesta Alam.
Selamat Memperingati Maulid Nabi.
<div class=" quote"="">“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%