Sabtu, 12 Sep 2026 - :
27 Agu 2026 - 05:33 | 57 Views | 0 Suka

Riset DBS: Lima Sektor Ini Berpotensi Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Baru

14 mnt baca

Inilahdata.com – Dunia usaha Indonesia mulai memasuki fase baru. Keberlanjutan yang selama ini lebih banyak dipandang sebagai kewajiban memenuhi regulasi, perlahan bergeser menjadi bagian dari strategi bisnis untuk menjaga daya tahan sekaligus memenangkan persaingan.

Perubahan tersebut tergambar dalam riset terbaru Bank DBS Indonesia bersama Tenggara Strategics bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks.

Riset yang diluncurkan pada 22 Agustus 2026 itu memetakan perubahan di lima sektor strategis, yakni energi dan infrastruktur; teknologi, media dan telekomunikasi; pangan dan agribisnis; kesehatan dan farmasi; serta logam dan pertambangan.

Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin mengatakan perubahan lanskap bisnis membuat perusahaan tidak bisa lagi melihat keberlanjutan sebagai isu yang berdiri sendiri.

Menurut dia, perusahaan kini membutuhkan pertimbangan yang lebih panjang dalam menentukan investasi dan strategi bisnis.

“Di tengah perubahan lanskap bisnis yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan perspektif yang jelas untuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan jangka panjang.

Keberlanjutan kini semakin berkaitan erat dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai,” ujar Anthonius dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (26/8/2026).

Meski menghadapi tantangan yang sama untuk mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam bisnis utama, setiap sektor memiliki persoalan yang berbeda. Karena itu, strategi dan skema pembiayaannya pun tidak bisa disamaratakan.

Energi: Kebutuhan Listrik Melonjak, Energi Terbarukan Belum Maksimal

Sektor energi dan infrastruktur menjadi salah satu bidang dengan perubahan paling besar. Kebutuhan listrik diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya kendaraan listrik, hilirisasi mineral, pusat data, kecerdasan buatan, hingga elektrifikasi rumah tangga.

DBS memperkirakan konsumsi listrik Indonesia yang berada di kisaran 300 TWh pada 2024 dapat menembus lebih dari 1.800 TWh pada 2060.

Persoalannya, besarnya kebutuhan tersebut belum diimbangi pemanfaatan energi terbarukan secara optimal. Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 gigawatt, tetapi yang telah dimanfaatkan masih kurang dari 0,5%.

Keterbatasan jaringan transmisi dan banyaknya proyek yang belum memenuhi aspek bankability menjadi salah satu penghambat utama.

Kondisi tersebut sekaligus menciptakan ruang investasi baru. Pembangkit tenaga surya, sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau BESS, modernisasi jaringan listrik, hingga elektrifikasi sektor industri dipandang memiliki prospek besar.

Industri Digital Tak Lagi hanya soal Konektivitas

Perubahan juga terlihat pada sektor teknologi, media, dan telekomunikasi. Industri ini perlahan bergerak meninggalkan model bisnis yang hanya bertumpu pada konektivitas menuju layanan digital dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Pertumbuhan bisnis telekomunikasi berbasis konektivitas tercatat melambat, dari sekitar 9,69% pada 2015 menjadi 7,14% pada kuartal I 2026.

Pada saat yang sama, ekonomi digital Indonesia terus berkembang. Nilai gross merchandise value atau GMV diperkirakan mencapai sekitar US$99 miliar pada 2025.

Perkembangan kecerdasan buatan ikut membuka kebutuhan baru terhadap layanan komputasi awan, keamanan siber dan pusat data.

Di titik inilah konsep green data center mulai menjadi perhatian karena kebutuhan infrastruktur digital harus berjalan beriringan dengan efisiensi energi dan pengurangan emisi.

Pangan: Bukan Lagi Memperluas Lahan, tetapi Meningkatkan Hasil

Di sektor pangan dan agribisnis, tantangannya mulai bergeser. Pertumbuhan industri ke depan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh seberapa luas lahan yang bisa dibuka, melainkan seberapa besar produktivitas dapat ditingkatkan.

Hal itu terlihat dalam industri sawit. Indonesia saat ini memasok sekitar 60% kebutuhan sawit dunia.

Namun, peluang pertumbuhan berikutnya justru dinilai lebih banyak berada pada peremajaan tanaman, peningkatan produktivitas dan pemenuhan standar keberlanjutan seperti RSPO maupun NDPE.

Peluang bisnis juga terbuka pada teknologi pertanian, cold chain, sistem traceability dan pupuk organik.

Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis serta pengembangan breeding stock di industri perunggasan diperkirakan akan menciptakan permintaan baru, tidak hanya di tingkat produksi tetapi juga sepanjang rantai pasok pangan.

Industri Kesehatan Masih Menghadapi Ketergantungan Impor

Persoalan berbeda muncul di sektor kesehatan dan farmasi. Industri dalam negeri masih sangat bergantung pada bahan baku obat dari luar negeri.

DBS mencatat sekitar 90% bahan baku aktif obat atau API Indonesia masih berasal dari impor. China menyumbang sekitar 42% dan India sekitar 11% dari total impor tersebut.

Di sisi lain, cakupan layanan kesehatan nasional terus meluas. Kepesertaan BPJS Kesehatan telah mencapai sekitar 98,6% populasi.

Namun, akses terhadap obat-obatan inovatif masih menjadi tantangan. Baru sekitar 2% obat inovatif global yang masuk dalam Formularium Nasional.

Situasi ini membuka peluang untuk membangun kapasitas industri dalam negeri, terutama melalui lokalisasi bahan baku obat secara selektif, peningkatan kemampuan manufaktur dan diversifikasi sumber pemasok.

Tambang Mulai Mengejar Nilai Tambah

Perubahan yang tidak kalah penting terjadi di sektor logam dan pertambangan. Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu pemain utama komoditas mineral dunia, terutama nikel.

Indonesia menguasai sekitar 60% produksi nikel global dan pada 2025 berada di posisi ke-13 sebagai produsen baja terbesar dunia.

Namun, besarnya produksi belum otomatis membuat industri tersebut rendah karbon. Sekitar 97% kebutuhan listrik untuk pemrosesan nikel masih berasal dari pembangkit batu bara captive.

Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra mengatakan industri pertambangan perlu mulai menggeser fokus dari sekadar meningkatkan volume produksi menuju penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi.

“Peluang value creation berikutnya bergeser ke hilir, seperti komponen baterai, BESS, daur ulang, hingga produk logam rendah karbon; seiring semakin ketatnya standar global seperti EU CBAM dan Battery Regulation,” kata William.

Dengan kata lain, masa depan industri tambang tidak berhenti pada aktivitas menggali dan menjual bahan mentah. Nilai ekonomi yang lebih besar justru berpotensi muncul ketika komoditas tersebut diolah lebih jauh menjadi produk yang dibutuhkan industri global.

Lima Agenda yang Perlu Dipersiapkan Dunia Usaha

Dari pemetaan terhadap lima sektor tersebut, DBS merumuskan lima langkah yang perlu menjadi perhatian pelaku usaha.

Pertama, perusahaan perlu bergerak ke segmen rantai nilai yang memberikan nilai tambah lebih tinggi. Kedua, investasi pada infrastruktur pendukung harus diperkuat.

Ketiga, aspek keberlanjutan perlu benar-benar masuk ke dalam pengambilan keputusan komersial, bukan ditempatkan sebagai agenda tambahan.

Keempat, perusahaan perlu memperluas penggunaan resilience financing untuk memperkuat kemampuan menghadapi berbagai perubahan.

Kelima, pengembangan ekosistem lintas sektor menjadi semakin penting karena transisi menuju bisnis berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu industri secara sendirian.

William menilai perusahaan yang mampu menggabungkan ketiga aspek, penciptaan nilai, ketahanan dan keberlanjutan, akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan ekonomi global.

“Strategi yang akan memenangkan persaingan ke depan adalah yang mampu memadukan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan sekaligus, bukan memilih salah satu di antaranya,” ujarnya.

Tantangannya Bukan hanya Mencari Proyek Hijau

Riset DBS juga memberikan catatan penting: besarnya peluang bisnis berkelanjutan tidak serta-merta membuat sebuah proyek mudah mendapatkan pembiayaan.

Sebuah proyek tetap harus memiliki kesiapan yang memadai, profil risiko yang dapat diterima dan arus kas yang cukup jelas agar layak dibiayai secara komersial.

Karena itu, kebutuhan pembiayaan perusahaan pun semakin beragam. Tidak lagi hanya mengandalkan pinjaman konvensional, tetapi dapat memanfaatkan sustainability financingsustainability-linked financingstructured financeblended finance hingga layanan konsultasi atau advisory.

Perubahan ini pada akhirnya ikut mengubah posisi perbankan dalam ekosistem bisnis.

Bank tidak lagi hanya berperan sebagai pihak yang menyediakan dana. Dalam proses transisi menuju model bisnis yang lebih tangguh dan berkelanjutan, perbankan dituntut menjadi mitra strategis yang memahami karakter masing-masing industri, membantu mengukur risiko, sekaligus menemukan struktur pembiayaan yang sesuai.

Bagi Indonesia, perubahan tersebut menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan mulai memasuki tahap yang lebih nyata. Pertanyaannya bukan lagi apakah perusahaan perlu berkelanjutan, tetapi seberapa cepat perusahaan mampu mengubah keberlanjutan menjadi sumber daya saing dan nilai ekonomi baru. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H — InilahData.com
PERINGATAN NASIONAL
1448 H
MEMPERINGATI
MAULID NABI
MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
RABIUL AWAL
12
RABIUL AWAL
1448 HIJRIAH
SELASA, 25 AGUSTUS 2026
Cinta kepada Rasul, Teladan Akhlak,
Rahmat bagi Semesta Alam.
Selamat Memperingati Maulid Nabi.
<div class=" quote"="">“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%