Inilahdata.com – Bank Indonesia (BI) merilis data terbaru Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia untuk periode kuartal II-2026 pada Selasa (18/8/2026). Angka yang tercatat mencetak rekor baru: total ULN nasional mencapai US$453,4 miliar, level tertinggi yang pernah dibukukan.
Jika dikonversi menggunakan kurs referensi BI per 14 Agustus, yaitu Rp17.836 per dolar Amerika Serikat, posisi ULN tersebut setara dengan Rp8.086,84 triliun. Ini menjadi kali pertama utang luar negeri Indonesia menembus ambang psikologis Rp8.000 triliun.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), ULN tumbuh 4,4%. Sementara dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq), kenaikannya tercatat 4,35%.
BI menyebut lonjakan ini murni ditopang oleh utang sektor publik, mencakup pemerintah maupun bank sentral, sementara di sisi lain ULN swasta masih mengalami penyusutan meski lajunya mulai melambat.
“Perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah,” tulis BI dalam laporannya.
Pertumbuhan Utang Pemerintah Melambat
Posisi ULN pemerintah pada kuartal II-2026 tercatat US$216,3 miliar, tumbuh 2,9% yoy, melambat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang mencapai 3,8% yoy.
BI menjelaskan, perlambatan ini justru dipengaruhi oleh derasnya aliran masuk pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN), yang mencerminkan tingkat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian domestik yang tetap terjaga.
Pemerintah, menurut BI, berkomitmen menjaga kredibilitas fiskal dengan membayar pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola portofolio ULN secara prudent, terukur, dan fleksibel demi pembiayaan yang efisien dan optimal.
Berdasarkan sektor ekonomi, dana ULN pemerintah paling banyak dialokasikan untuk Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22% dari total ULN pemerintah), disusul Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,6%), Jasa Pendidikan (16,2%), Konstruksi (11,5%), serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%).
Sementara itu, kenaikan ULN bank sentral terutama didorong oleh melonjaknya kepemilikan nonresiden atau investor asing terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Utang Swasta Masih Terkontraksi, tapi Melambat
Adapun ULN swasta pada kuartal II-2026 tercatat US$194,6 miliar, mengalami kontraksi 0,6% yoy, angka penyusutan ini justru lebih ringan dibandingkan kontraksi 1,3% yoy pada kuartal sebelumnya.
Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ULN lembaga keuangan (financial corporations) yang terkontraksi 3,4% yoy, jauh lebih rendah dibandingkan kontraksi 6,3% yoy pada kuartal I-2026.
Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa gabungan mencapai 79,4% dari total ULN swasta.
Utang swasta ini tetap didominasi instrumen jangka panjang, dengan porsi mencapai 75,7% terhadap total ULN swasta.
Rasio Terhadap PDB Tembus 30,6%
BI turut mengungkap bahwa rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 30,6% pada kuartal II-2026, didominasi utang berjangka panjang dengan porsi mencapai 82,1% dari total ULN.
“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” tulis BI.
BI juga menegaskan bahwa langkah tersebut ditempuh untuk meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian. (**)
Halaman : 1 2