Rabu, 29 Jul 2026 - :
27 Jul 2026 - 10:38 | 34 Views | 0 Suka

Perry Warjiyo Mundur, Sorotan Tertuju ke Independensi BI

16 mnt baca

Inilahdata.com – Kursi Gubernur Bank Indonesia mendadak kosong pada Senin (27/7/2026). Perry Warjiyo menyatakan mundur dari jabatan yang ia emban hampir tujuh tahun, dan sesuai mekanisme yang diatur Undang-Undang BI, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti langsung mengisi posisi itu sebagai Pejabat Sementara. 

Waktunya terasa berat bagi pasar: pergantian ini terjadi hanya beberapa hari setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan BI, dan persis menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed di Washington.

Penjelasan Resmi dan Dasar Hukumnya

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa pemerintah resmi menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo, dan sesuai Undang-Undang BI, Deputi Gubernur Senior secara otomatis menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI hingga proses penetapan gubernur definitif rampung. 

Destry menjelaskan duduk perkaranya di depan wartawan. 

“Pengunduran diri saudara Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia dilakukan secara sukarela karena alasan pribadi, terhitung sejak 25 Juli 2026,” ujar Destry dalam konferensi pers di kantor BI, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026), tanpa merinci lebih jauh apa alasan pribadi yang dimaksud. 

Secara hukum, penunjukannya berpijak pada Pasal 48 ayat 1 huruf a UU Bank Indonesia sebagaimana diubah oleh UU Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, dan ditetapkan lewat Rapat Dewan Gubernur sehari sebelum pengumuman publik. 

Ada versi berbeda soal alasan sebenarnya. Sumber CNBC Indonesia menyebut kemunduran Perry sebenarnya terkait masalah kesehatan, berbeda dari narasi resmi “alasan pribadi”, dan sampai saat ini belum ada satu versi yang dikonfirmasi tunggal. 

Siapa Perry dan Penggantinya

Perry bukan sosok baru di Thamrin. Ia dilantik pertama kali pada Mei 2018 menggantikan Agus Martowardojo, lalu disetujui DPR secara aklamasi untuk periode kedua 2023–2028. 

Artinya ia mundur di tengah jalan, masa jabatannya semestinya baru berakhir pada 2028. 

Soal penggantinya, Destry menegaskan belum ada kepastian waktu. 

“Kami menggunakan Pasal 40 yang berisi persyaratan sebagai anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia. Kemudian Pasal 42 adalah mekanisme berikutnya, di mana calon anggota Dewan Gubernur tersebut akan diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR,” jelas Destry dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Senin (27/7). 

Proses itu akan melalui fit and proper test di Komisi XI, mekanisme yang sama yang pernah dijalani Perry dua kali. 

Yang layak dicermati adalah awal tahun ini, tiga calon Deputi Gubernur yang direkomendasikan Perry ke Presiden, termasuk Thomas Djiwandono, yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto, melewati fit and proper test dan disetujui DPR. 

Kedekatan kekerabatan semacam itu, meski legal dan dibahas terbuka, kerap memicu pertanyaan publik soal independensi bank sentral setiap kali pergantian pimpinan BI kembali jadi sorotan. 

Bagaimana Pasar Bereaksi

Di lantai bursa, tekanan langsung terlihat. Rupiah dibuka melemah ke posisi Rp17.969 per dolar AS, turun dari penutupan Jumat di Rp17.963.

Sementara IHSG sempat turun 0,26% ke level 6.180,33 dengan tekanan jual mendominasi, versi data lain bahkan mencatat pelemahan hingga 0,50% dengan seluruh sektor saham berada di zona merah. 

Analis terbelah dalam membaca situasi ini. 

“Pengunduran diri mendadak Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berpotensi memberikan dampak psikologis dan volatilitas jangka pendek pada market keuangan Indonesia, rupiah, IHSG, dan pasar SBN,” kata Guru Besar FEB Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, dalam keterangannya, Senin (27/7/2026). 

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya sependapat. 

“Kami memperkirakan pergantian kepemimpinan ini dapat memicu ketidakpastian jangka pendek di pasar, terutama di tengah tingginya volatilitas global, menjelang pertemuan FOMC pekan ini, serta meningkatnya ketegangan geopolitik,” katanya dalam risetnya. 

Meski begitu, ia menilai penunjukan Destry, yang punya rekam jejak panjang di makroekonomi dan kebijakan moneter, semestinya bisa meredam kekhawatiran itu. 

“Penunjukan Destry Damayanti seharusnya mampu memberikan keyakinan kepada pelaku pasar bahwa komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah akan tetap berlanjut,” ujarnya.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai senada. 

“Perkembangan ini sangat sensitif mengingat implikasinya terhadap kredibilitas dan keberlanjutan kebijakan moneter. Rupiah kemungkinan akan merespons negatif kabar ini,” tulis Mirae Asset Sekuritas dalam risetnya.

Sorotan serupa datang dari luar negeri. Mengutip Reuters, Angus Mackintosh dari Aletheia Capital di Singapura turut memperkirakan pasar akan merespons negatif pengunduran diri Perry. 

Tak semua analis seragam pesimistis. “Pengunduran diri ini tidak akan memicu gejolak berarti karena pelaku pasar sudah memperhitungkan transisi kepemimpinan,” kata Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman, seraya menambahkan bahwa posisi sementara diisi oleh sosok berpengalaman seperti Destry. 

Perbedaan pandangan ini mencerminkan pasar yang tampak dalam mode menunggu, bukan panik. 

Konteks yang Memperberat: Suku Bunga dan Tekanan dari Luar

RDG Juli yang berlangsung 21–22 Juli, hanya beberapa hari sebelum Perry mundur — memutuskan mempertahankan BI-Rate di 5,75%, setelah rangkaian kenaikan beruntun sejak Mei 2026 yang totalnya mencapai 100 basis poin dari posisi 4,75%. 

“Menurut saya, sinyal terkuat menjelang RDG 21–22 Juli 2026 adalah BI berpotensi untuk mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen tetapi dengan nada komunikasi yang tetap tegas dan siap menaikkan lagi bila rupiah kembali tertekan tajam,” ujar Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede. 

Ia menjelaskan bank sentral perlu memberi waktu agar dampak kenaikan sebelumnya terasa pada rupiah, kredit perbankan, dan inflasi, yang pada Juni tercatat naik ke 3,34% secara tahunan. 

Prediksi analis soal kemungkinan kenaikan lanjutan menuju 6% kini perlu dibaca dalam konteks bahwa RDG bulanan sudah lewat, sehingga ekspektasi itu kemungkinan tertuju pada rapat berikutnya, bukan keputusan yang sudah diambil.

Tekanan dari luar negeri juga tidak ringan. FOMC dijadwalkan bersidang 28–29 Juli di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, dengan probabilitas kenaikan 25 basis poin yang melonjak ke sekitar 35,8% menjelang rapat, jauh di atas 11,8% seminggu sebelumnya, seiring harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel. 

Kombinasi ketidakpastian domestik dan tekanan The Fed inilah yang membuat sejumlah analis khawatir rupiah bisa tertekan dari dua arah sekaligus dalam beberapa hari ke depan. 

Yang Perlu Diikuti Selanjutnya

Destry memastikan roda kebijakan BI tetap berjalan normal lewat mekanisme komite dan Rapat Dewan Gubernur seperti biasa. 

Tapi satu hal sudah pasti: mata pasar kini tertuju pada dua panggung sekaligus, Gedung DPR yang akan menentukan siapa penerus definitif Perry, dan Washington yang akan menentukan arah suku bunga global yang selama ini ikut menekan rupiah. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%