
Inilahdata.com – Kekecewaan mewarnai penghujung aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Bukan datang dari peserta demo yang menuntut pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset, melainkan dari kalangan pengemudi ojek online yang selama beberapa hari terakhir ikut mengawal jalannya aksi.
Mereka merasa ditinggalkan begitu saja oleh massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang dipimpin Supriyono, akrab disapa Botok.
Kekesalan itu meledak tak lama setelah rombongan asal Pati membubarkan diri secara tertib sekitar pukul 11.55 hingga 14.30 WIB.
Pembubaran dilakukan usai Botok membacakan surat komitmen dari pimpinan DPR RI di hadapan massa, yang isinya menyatakan kesanggupan menuntaskan pembentukan RUU Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026.
Begitu isi surat itu selesai dibacakan, ribuan warga Pati berangsur naik ke bus dan meninggalkan kawasan parlemen dengan yel “dari Pati pulang dulu”.
Bagi kalangan ojol, kepergian yang tergesa itu terasa menyakitkan. Sebab, sejak Rabu malam (26/8/2026), saat polisi meminta bus rombongan Pati meninggalkan area DPR, merekalah yang bertahan menjaga titik logistik di pinggir jalan hingga larut malam.
Keesokan paginya, rombongan ojol yang datang dari arah Slipi bahkan sempat dihadang puluhan personel kepolisian sebelum akhirnya bisa bergabung di depan gedung parlemen.
Perwakilan kurir online asal Jakarta, Melva Pardede (56), menjadi salah satu suara yang paling lantang menumpahkan kekecewaan itu di depan Gedung DPR. Ia merasa jasa dan solidaritas yang diberikan warga Jakarta sama sekali tidak dihargai.
“Saudaraku Pati, kami warga Jakarta merasa diberakin oleh kalian, kalian main pulang saja setelah dari dalam,” ujarnya.
Melva menilai keputusan perwakilan AMPB untuk langsung bertolak ke Pati diambil sepihak, tanpa mempertimbangkan nasib elemen lain yang ikut berjibaku selama di Jakarta, termasuk risiko yang mungkin dihadapi jika ada peserta aksi yang terjaring aparat.
Ia juga mempertanyakan sikap rombongan Botok yang dinilainya buru-buru angkat kaki begitu menerima sejumlah bantuan dana selama berada di ibu kota.
“Kalian sudah cair, kalian pulang, bagaimana nasib rekan saya saat kalian diciduk oleh aparat? Kalau mau buang sampah jangan di Jakarta, silakan di Pati,” katanya, seraya menegaskan pihaknya tak pernah meminta imbalan apa pun selama membantu logistik dan pengawalan massa AMPB.
Ia bahkan melayangkan peringatan agar Botok dan rombongannya berpikir dua kali sebelum kembali berunjuk rasa di Jakarta selama tenggat 15 Desember belum terpenuhi.
“Kalau kalian datang lagi karena belum disahkan RUU itu, jangan menginjak lagi Jakarta,” tegasnya.
Kekecewaan senada juga disuarakan sejumlah elemen dari luar daerah yang turut bertahan hingga akhir aksi. Firman (29), demonstran asal Cilacap, mengaku hasil audiensi yang mereka terima terasa jauh dari sepadan dengan perjuangan menuju Jakarta.
Dari 20 bus yang berangkat dari Cilacap, sekitar setengahnya sempat tertahan berjam-jam di kawasan Cikampek sebelum bisa melanjutkan perjalanan.
Ia menilai jangka waktu empat bulan hingga 15 Desember terlalu panjang dan berpotensi membuka celah bagi para pembuat kebijakan untuk mengulur janji.
Di sisi lain, Botok sempat menyampaikan tantangan moral kepada pimpinan DPR sebelum benar-benar meninggalkan lokasi, dengan menyebut sejumlah nama pimpinan dewan siap mundur apabila komitmen tertulis itu tidak direalisasikan sesuai tenggat yang dijanjikan.
Malam sebelumnya, giliran para ojol yang menjaga barisan logistik tanpa ada bus lain yang menemani. Kini, setelah rombongan Pati benar-benar pulang.
Rasa kecewa itu berubah jadi desakan agar Botok dan kelompoknya segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada elemen warga Jakarta yang telah membantu mereka.
“Kami kecewa gak sesuai ekspektasi, mereka hanya nyampah di sini. Mereka diberikan donasi nominal, ada yang memberikan uang segepok, kami warga Jakarta gak minta. Tapi cara kalian sudah memberaki muka kami,” ujar Melva.
“Satu kali 24 jam kalian gak minta maaf, jangan harap kalian menginjak Jakarta. 1×24 jam kami tunggu minta maaf,” tegasnya menutup pernyataan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak AMPB maupun Botok terkait tuntutan permintaan maaf yang dilayangkan kalangan ojol Jakarta tersebut. (**)
Halaman : 1 2