Inilahdata.com – Indonesia disebut menempati posisi puncak dunia dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk sektor pendidikan. Klaim ini disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie, yang merujuk pada data Statista Consumer Insights soal peringkat penggunaan AI di dunia pendidikan pada berbagai negara.
Meski begitu, Stella tak lantas menganggap prestasi tersebut sebagai kabar sepenuhnya baik. Berbicara sebagai ilmuwan kognitif, ia menyoroti dampak yang justru mengkhawatirkan dari ketergantungan pada AI di ruang kelas.
“Tapi kalau saya, akan saya sebagai ilmuwan kognitif, saya akan bisa bilang bukti dan data menunjukkan bahwa menggunakan AI di pelajaran dan di pendidikan menurunkan kemampuan,” ujar Stella saat tampil sebagai pembicara dalam High Level Talk FEKDI-IFSE di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, kondisi ideal pemanfaatan AI di dunia pendidikan mesti dibarengi batasan-batasan yang jelas dan tegas, agar kualitas peserta didik tetap terjaga di tengah derasnya adopsi teknologi.
Stella juga menekankan pentingnya posisi manusia bukan sekadar sebagai pengguna AI, melainkan sebagai pihak yang mampu mengevaluasi teknologi tersebut secara kritis, bukan menelannya mentah-mentah.
“Jadi yang harus kita buat adalah sistem insentif yang benar. Dan satu-satunya cara untuk kita bisa tetap mampu mengevaluasi AI, adalah kita harus bisa mengerti melalui proses berpikirnya,” tegas Stella.
Dengan kata lain, ia menilai pemanfaatan AI di dunia pendidikan Indonesia harus berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan berpikir kritis, bukan menggantikannya.
Visi tersebut, lanjut Stella, semestinya tercermin dalam arah investasi pendidikan, baik untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis pada peserta didik maupun pengajar, maupun untuk mendorong inovasi teknologi di lingkungan pendidikan.
“Nah, ini harus diingat-ingat agar jangan kita menjadi kesalahan membuat, menginvestasikan yang salah dalam pendidikan kita,” ucapnya, seraya menegaskan, “Kemampuan untuk berinovasi, mengevaluasi AI, berpikir kritis itu menjadi yang lebih penting lagi.” (**)
Halaman : 1 2