
Inilahdata.com – Bisnis layanan atau services milik Apple mulai menghadapi tantangan baru. Perlambatan industri gim seluler yang berpadu dengan perubahan aturan App Store menekan laju pertumbuhan segmen yang selama ini menjadi salah satu mesin laba utama perusahaan.
Dalam laporan keuangan kuartal III tahun fiskal 2026, Apple membukukan pendapatan layanan sebesar US$ 30,74 miliar atau setara Rp 555,72 triliun (kurs Rp 18.078 per dolar AS).
Angka ini ternyata lebih rendah dari ekspektasi analis Wall Street yang memperkirakan pendapatan mencapai US$ 31,22 miliar atau Rp 564,40 triliun.
Menariknya, dari seluruh lini bisnis Apple, layanan justru menjadi satu-satunya segmen yang gagal memenuhi proyeksi pasar, sementara penjualan perangkat keras justru mencetak rekor.
Chief Financial Officer Apple, Kevan Parekh, menjelaskan bahwa perlambatan bisnis App Store dipicu oleh beberapa faktor sekaligus, salah satunya melemahnya belanja pengguna untuk gim seluler.
Menurutnya, turunnya aktivitas di industri mobile game menjadi salah satu penyebab utama melambatnya pertumbuhan transaksi di App Store.
Di sisi lain, Apple juga tengah bergulat dengan perubahan regulasi di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, yang mewajibkan perusahaan membuka opsi pembayaran di luar App Store.
Aturan ini memungkinkan pengembang aplikasi memproses transaksi langsung ke pelanggan tanpa harus melalui sistem pembayaran Apple, yang otomatis berpotensi memangkas pendapatan komisi perusahaan.
Meski demikian, Parekh menegaskan bahwa perubahan aturan App Store bukan satu-satunya biang keladi; nilai tukar mata uang asing turut menekan kinerja, ditambah basis pembanding yang tinggi setelah kuartal sebelumnya sempat terdongkrak lonjakan pendapatan dari kesuksesan film F1 di bioskop.
Kendati tertekan, App Store tetap mencatatkan rekor pendapatan untuk kuartal yang berakhir Juni. Pencapaian ini turut ditopang pertumbuhan bisnis Apple Ads, yang kini menjelma jadi salah satu sumber pendapatan penting dan bahkan sudah diperluas ke layanan Apple Maps.
Secara keseluruhan, bisnis layanan Apple kini memiliki lebih dari 1,5 miliar pelanggan berbayar, melonjak dari sekitar 1 miliar pelanggan pada Januari 2025.
Perusahaan turut mencatat rekor pendapatan sepanjang masa di pasar negara maju, sekaligus rekor pendapatan kuartal Juni di pasar negara berkembang.
“Layanan kami terus menarik lebih banyak pelanggan. Kami kini telah melampaui satu setengah miliar pelanggan berbayar,” ujar Parekh, dikutip dari TechCrunch, Jumat (31/7).
Ia menambahkan bahwa jumlah transaksi maupun akun berbayar sama-sama mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada kuartal ini, dengan pertumbuhan dua digit di pasar negara berkembang.
Sejumlah lini layanan lain diklaim masih tumbuh positif, di antaranya Apple Ads, AppleCare, Apple Music, Apple TV, layanan cloud, hingga layanan pembayaran. Apple TV bahkan disebut membukukan jumlah penonton tertinggi sepanjang sejarahnya pada kuartal ini.
Untuk menopang bisnis layanan di tengah tekanan tersebut, Apple mulai menyiapkan sejumlah sumber pertumbuhan baru. Perusahaan memperkenalkan langganan Creator Studio serta fitur pembagian tagihan (bill splitting) di Apple Cash, yang diharapkan mendorong keterlibatan pengguna dalam ekosistem pembayaran Apple.
Apple juga meluncurkan program Apple Upgrade bersama Klarna, yang memungkinkan konsumen memperbarui perangkat lewat skema pembiayaan, langkah yang diharapkan mendongkrak penjualan iPhone sekaligus memperluas adopsi layanan berlangganan Apple. (**)
Halaman : 1 2