
Inilahdata.com – Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan Indonesia sampai saat ini belum menerima bantuan dari negara lain untuk menangani dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurutnya, pemerintah masih sanggup menangani sendiri kebutuhan penanganan bencana tersebut sehingga belum ada ruang yang dibuka untuk uluran tangan negara sahabat.
“Belum ya. Nanti kita lihat karena berdasarkan laporan juga kami kebetulan lakukan setiap hari memonitor teman-teman di lapangan,” kata Prasetyo kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Ia menegaskan seluruh kebutuhan di lapangan, mulai dari logistik hingga pengungsian, masih dapat ditangani dengan baik. Bahkan, langkah lanjutan berupa penyediaan hunian sementara (Huntara) dan hunian tetap (Huntap) bagi warga terdampak sudah mulai diidentifikasi oleh pemerintah.
“Semua masih bisa kita tangani dengan baik, baik kebutuhan logistik, apa pengungsian, bahkan rencana-rencana untuk perbaikan baik Huntara maupun Huntap itu pun sudah dalam proses diidentifikasi,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan kesiapan pemerintah mendukung sisi pembiayaan penanganan bencana di NTT.
Dukungan anggaran itu, kata dia, akan menyesuaikan kebutuhan penanganan di lapangan serta tahapan pemulihan yang tengah berjalan.
Purbaya menyampaikan hal tersebut lewat sambungan telepon dalam rapat Satuan Tugas Penanggulangan Pasca Bencana (Satgas Galapana) DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, Sabtu (16/8/2026).
Bendahara negara itu menjelaskan bahwa skema pembiayaan awal bersumber dari anggaran yang sudah dialokasikan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dana tersebut menjadi bantalan pertama sebelum kebutuhan lain menyusul.
“Untuk pertama kan biasanya kita pakai dana dari BNPB yang sudah kita siapkan. Masih ada Rp5 triliun kalau tidak salah ya. Mungkin sebagian terpakai tapi masih cukup,” ujarnya, dikutip dari keterangan tertulis, Senin (17/8/2026).
Purbaya menambahkan, penanganan bencana berjalan bertahap, dimulai dari respons kedaruratan dengan memakai anggaran yang sudah tersedia. Bila kebutuhan pembiayaan membengkak seiring waktu, pemerintah disebut akan menyesuaikan kembali dukungan anggarannya.
Sementara itu, proses pendataan korban dan kerusakan pascagempa berkekuatan M7,7 yang mengguncang NTT masih terus berlangsung oleh tim gabungan di lapangan. Bencana ini telah menelan lebih dari 50 korban jiwa dan merusak ribuan rumah warga.
Berdasarkan data sementara per Minggu (16/8) pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 53 orang, dengan sebaran terbanyak di Kabupaten Manggarai (25 orang) dan Manggarai Timur (20 orang), disusul Sikka (4 orang), Ende (2 orang), serta Manggarai Barat dan Nagekeo masing-masing satu orang.
Selain korban meninggal, tim gabungan turut mengevakuasi dan menangani korban luka-luka yang jumlahnya mencapai 137 jiwa. Para korban luka kini masih menjalani perawatan, baik di fasilitas kesehatan terdekat maupun fasilitas kesehatan darurat yang didirikan di lokasi bencana. (**)
Halaman : 1 2