Rabu, 29 Jul 2026 - :
28 Jul 2026 - 21:09 | 13 Views | 0 Suka

Belanja Naik, Tabungan Anjlok: RI Makin “Makan Utang”

13 mnt baca

Inilahdata.com – Konsumsi masyarakat Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan positif memasuki kuartal III/2026, tetapi angka yang tampak menggembirakan itu menyimpan retakan di baliknya.

Tim ekonom Bank Mandiri, dalam laporan harian Daily Economic and Market bertajuk “Dinamika Belanja Masyarakat, Tabungan, dan Pinjaman”, mengonfirmasi bahwa laju belanja yang masih tumbuh kini semakin ditopang oleh utang rumah tangga, bukan oleh penguatan pendapatan.

Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), indeks belanja masyarakat pada Juni 2026 berada di level 123,0, tumbuh 5,9% secara tahunan.

Namun begitu memasuki awal kuartal III/2026, laju pertumbuhannya melambat menjadi 5,8% yoy, lebih rendah dibanding 6,1% pada kuartal II dan 6,4% pada kuartal I.

Tren pelambatan tiga kuartal beruntun ini menjadi sinyal bahwa momentum konsumsi mulai kehilangan tenaga, meski secara nominal belanja tetap tumbuh.

Yang membuat gambaran ini berbeda dari periode-periode sebelumnya adalah kondisi tabungan yang berjalan berlawanan arah. Mandiri Saving Index tercatat di level 84,8, terkontraksi 5,7% yoy pada periode yang sama.

Di sisi lain, indeks pinjaman, yang mencakup pinjaman online (pinjol), kartu kredit, hingga paylater dari perusahaan pembiayaan nonbank, justru melonjak tajam ke level 157,7, naik 24,6% yoy.

Tim ekonom Bank Mandiri menyimpulkan bahwa pertumbuhan belanja masyarakat tidak lagi diikuti oleh peningkatan kemampuan menabung, sehingga sebagian konsumsi kini bertumpu pada leverage, bukan kapasitas keuangan riil rumah tangga.

Utang Konsumtif Kian Mendominasi Portofolio Pinjaman

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia memperkuat gambaran itu. Total outstanding pinjol, kartu kredit, dan paylater nonbank mencapai Rp160,7 triliun per Mei 2026.

Pinjol menjadi kontributor terbesar dengan Rp103,7 triliun atau sekitar 65% dari total tersebut, nilainya bahkan tumbuh 25,60% secara tahunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kartu kredit menyusul dengan Rp43,8 triliun (27%), sementara paylater dari perusahaan pembiayaan sebesar Rp13,2 triliun (8%).

Dari sisi laju pertumbuhan, paylater justru mencatat lonjakan tertinggi di antara ketiganya, yakni 53,6% yoy, melampaui pinjol yang tumbuh 25,7% dan kartu kredit sebesar 15,6%.

Jika cakupannya diperluas ke seluruh industri, termasuk paylater perbankan, Otoritas Jasa Keuangan mencatat baki debet paylater perbankan tumbuh 37,72% secara tahunan menjadi Rp30,1 triliun per Mei 2026, jauh melampaui laju kredit konsumsi bank yang saat itu hanya tumbuh 5,89% yoy dan justru melambat dari bulan sebelumnya. 

Pergeseran fungsi pinjaman ini juga terlihat jelas dari tujuannya. Porsi pinjol untuk kebutuhan konsumtif melonjak menjadi 86% pada April 2026, naik tajam dari 78% pada April 2025 dan hanya 68% pada April 2024. Sebaliknya, porsi pinjaman untuk kegiatan produktif kini tinggal 14%.

Bank Mandiri menilai pergeseran ini menandakan bahwa kenaikan pinjaman lebih banyak didorong kebutuhan rumah tangga sehari-hari, bukan modal usaha.

Fenomena “Makan Utang” di Tengah Tabungan yang Terus Terkuras

Riset Tempo yang menelusuri data Survei Konsumen Bank Indonesia menemukan bahwa porsi pendapatan yang dialokasikan masyarakat untuk menabung sudah menyusut dibanding sebelum pandemi, dari 19,4% pada Mei 2019 menjadi 17,5% pada Mei 2026, meski sedikit membaik dari 14,9% pada Mei 2025.

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menyebut kombinasi tabungan yang terus tergerus sejak pandemi dan konsumsi yang justru ditopang utang sebagai fenomena “makan tabungan” (mantab) dan “makan utang” (maut).

Ia mengaitkan kondisi ini dengan sejumlah faktor struktural, mengatakan kondisi tersebut tak hanya dipengaruhi inflasi, tetapi juga perlambatan upah riil, besarnya sektor informal, dan melemahnya daya beli kelas menengah.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, memberi peringatan senada saat mencermati tren outstanding pinjol dan paylater yang terus naik.

Ia menilai lonjakan itu bukan pertanda baik karena mayoritas dananya mengalir ke kebutuhan konsumtif, bukan produktif, sembari menegaskan bahwa masyarakat semakin lama semakin banyak berutang. 

Risiko Kredit Macet Mulai Terlihat

Ekspansi pembiayaan yang cepat ini mulai memunculkan bayang-bayang risiko. OJK mencatat tingkat kredit macet paylater di perusahaan pembiayaan naik menjadi 3,44% per Mei 2026, dipicu penurunan kemampuan bayar debitur.

Sementara itu, rasio wanprestasi 90 hari (TWP90) pinjol tercatat 4,42% pada Mei 2026, masih di bawah ambang aman 5%, tetapi trennya terus merangkak naik dari 4,62% yang sempat tercatat pada April 2026 menurut data yang diolah Tempo.

Ekonom yang dikutip Kontan turut menyoroti derasnya pertumbuhan paylater perbankan di tengah pertumbuhan kredit konsumsi yang justru melambat, dan menilai kondisi ini mengindikasikan optimisme masyarakat yang mulai turun.

OJK sendiri menyebut risiko sistemik dari ekspansi paylater masih terjaga, mengingat porsinya baru 0,34% dari total kredit perbankan nasional yang mencapai Rp8.918 triliun per Mei 2026, namun regulator mulai memperketat tata kelola industri BNPL sepanjang 2026, termasuk membatasi kepemilikan banyak akun paylater sekaligus oleh satu pengguna.

Penguatan Penghasilan Jadi Kunci

Di tengah gambaran itu, Bank Mandiri menekankan bahwa penguatan penghasilan masyarakat perlu menjadi prioritas kebijakan agar konsumsi ke depan ditopang oleh kapasitas keuangan rumah tangga yang lebih kokoh, bukan lagi oleh pinjaman.

Sebagaimana tertulis dalam laporan tersebut, kebijakan untuk menjaga pendapatan disposabel, menahan tekanan biaya hidup, serta mendorong penciptaan lapangan kerja dinilai penting agar momentum konsumsi tetap terjaga secara lebih sehat. 

Selama penguatan pendapatan riil belum terjadi, pola belanja yang ditopang leverage berisiko terus berlanjut, dengan tabungan sebagai bantalan yang kian menipis dan potensi kerapuhan keuangan rumah tangga yang makin nyata di balik angka pertumbuhan konsumsi yang tampak positif. (**)

Adagia — Kata Bijak
Latin

Memuat kutipan…

Kompilasi tokoh & filsuf dunia — InilahData.com
Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%