Sabtu, 13 Jun 2026 - :
7 Jun 2026 - 14:13

Investor Kehilangan Instrumen Lindung Nilai? Analis Soroti Risiko Ekspor Satu Pintu

4 mnt baca
  • Kebijakan ekspor satu pintu dinilai berpotensi mengurangi daya tarik saham-saham eksportir di pasar modal.
  • Analis menilai dolar AS dan dolar Singapura kini lebih layak dipertimbangkan sebagai instrumen safe haven.
  • Selama ini emiten berorientasi ekspor menjadi pilihan investor saat rupiah melemah karena memperoleh pendapatan dalam mata uang asing.
  • Pemerintah menargetkan implementasi penuh ekspor satu pintu mulai 1 Januari 2027.
  • Pelemahan rupiah berpotensi berlanjut jika kekhawatiran investor tidak segera direspons pemerintah.

Inilahdata.com – Senior Capital Market Analyst Pinnacle Investment Indonesia, John Daniel Rachmat, menilai rencana penerapan kebijakan ekspor satu pintu dapat mengubah peta investasi di pasar modal Indonesia. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi mengurangi daya tarik saham-saham eksportir yang selama ini menjadi pilihan investor ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan.

Selama bertahun-tahun, emiten yang memperoleh pendapatan dalam mata uang asing seperti dolar Amerika Serikat atau yuan dianggap mampu memberikan perlindungan terhadap pelemahan rupiah. Kondisi tersebut membuat saham-saham eksportir kerap diburu investor saat gejolak nilai tukar meningkat.

“Jadi kalau memang Rupiah-nya melorot, dengan sendirinya kalau revenue-nya perusahaannya itu dalam bentuk US Dollar atau Yuan atau apa gitu kan dia untung gitu kan,” kata John dalam acara Kapan Market Rebound yang diselenggarakan Indonesia Investment Education (IIE) secara daring, Sabtu (6/6/2026).

Dolar AS dan Dolar Singapura Dinilai Lebih Menarik

Namun, menurut John, skema ekspor satu pintu yang akan dikelola PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) berpotensi mengubah persepsi tersebut. Ia menilai instrumen yang paling rasional untuk dijadikan pelindung nilai saat ini justru mata uang asing.

“Jadi mohon maaf ya kalau ditanya sekarang safe haven-nya apa, ya nggak ada. Safe haven-nya yang paling bagus beli US Dollar atau beli Dollar Singapura,” ujarnya.

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan sistem ekspor satu pintu untuk sejumlah komoditas strategis, termasuk batu bara, minyak sawit, dan fero aloi. Selama masa transisi hingga akhir 2026, perusahaan eksportir masih dapat melakukan ekspor secara mandiri dengan kewajiban menyampaikan laporan kepada PT DSI.

Kebijakan tersebut dijadwalkan berlaku penuh mulai 1 Januari 2027.

Investor Khawatir Kehilangan “Dollar Earner”

John menjelaskan bahwa salah satu alasan utama investor, khususnya investor asing, tertarik pada saham eksportir adalah karena perusahaan-perusahaan tersebut menghasilkan pendapatan dalam mata uang asing. Karakteristik tersebut membuat kinerja emiten relatif lebih tahan terhadap pelemahan rupiah.

Karena itu, sentralisasi aktivitas ekspor dinilai berpotensi menghilangkan keunggulan yang selama ini menjadi nilai jual perusahaan eksportir di mata pasar.

“Karena awalnya memang dollar earner itu dianggap safe haven. Logikanya kan gitu. Tapi tiba-tiba hilang, diambil dicopot melalui ekspor satu pintu. Itu yang sangat kecewa itu sangat banyak sekali,” katanya.

Ia menambahkan bahwa fungsi pemasaran dan ekspor selama ini merupakan bagian integral dari aktivitas bisnis perusahaan. Kegiatan tersebut berkaitan langsung dengan perencanaan produksi, pengadaan bahan baku, hingga kebutuhan tenaga kerja.

Risiko Tata Kelola Jadi Sorotan

Selain berpotensi memengaruhi sentimen investor, John juga menyoroti aspek tata kelola dalam pelaksanaan ekspor satu pintu. Menurutnya, sentralisasi seluruh kontrak ekspor komoditas strategis melalui satu lembaga dapat memunculkan ketidakpastian terkait distribusi kontrak kepada pelaku usaha.

Ia menyebut sejumlah lembaga pemeringkat internasional juga mulai mencermati kebijakan tersebut karena berpotensi memengaruhi kinerja perdagangan nasional dan persepsi investor terhadap Indonesia.

Rupiah Bisa Terus Tertekan

Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS, John menilai arah pasar ke depan sangat bergantung pada respons pemerintah dalam menjawab berbagai kekhawatiran yang berkembang.

Menurutnya, peluang pemulihan pasar masih terbuka apabila pemerintah mampu menghadirkan solusi yang kredibel dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha maupun investor.

Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah berisiko berlanjut apabila berbagai persoalan tersebut tidak segera diselesaikan.

“Kalau merasa Rp18.000 mahal, ya bulan depan mungkin sudah Rp19.000, bulan depannya lagi mungkin Rp20.000 kalau seandainya masalah ini tidak selesai,” ujarnya.

Koreksi Pasar Bisa Jadi Peluang

Meski demikian, John melihat kondisi pasar yang sedang tertekan juga dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang. Ia menilai harga aset saat ini berpotensi menjadi titik masuk yang menarik apabila berbagai persoalan yang membebani sentimen pasar mulai menemukan solusi.

Menurutnya, ketika pasar mencapai titik terendah dan proses pemulihan mulai terlihat, potensi keuntungan yang diperoleh investor dapat menjadi sangat besar.

“Kalau seandainya masalah yang tadi ada daftar di atas itu sudah dalam proses akan selesai, saya dengan happy kita akan masuk. Betul, itu waktunya kita mungkin easily 2 times, 3 times, maybe 5 times bagger. Sangat mudah kalau memang sudah bottom,” kata John. (**)

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%