Minggu, 31 Mei 2026 - :
28 Mei 2026 - 22:21 | 32 Views | 0 Suka

Geopolitik Membara, Dolar Digandrungi: Mata Uang Asia Masuk Zona Merah

2 mnt baca

Inilahdata.com – Mayoritas mata uang Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (28/5/2026) seiring memanasnya kembali situasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Eskalasi konflik tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak dan meningkatkan tekanan di pasar keuangan kawasan.

Hingga pukul 13.10 WIB, baht Thailand tercatat menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,39%. Di belakangnya menyusul won Korea Selatan yang terkoreksi 0,38%, ringgit Malaysia 0,23%, dolar Singapura 0,16%, yuan offshore 0,06%, yuan domestik China 0,05%, dolar Taiwan 0,04%, serta yen Jepang yang melemah tipis 0,02%.

Harga Minyak Melonjak Usai Ketegangan Timur Tengah Memanas

Pasar energi global kembali bergejolak setelah harga minyak mentah melonjak signifikan. Minyak Brent tercatat menguat 3,1% menjadi US$97,09 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 3,32% ke posisi US$91,64 per barel.

Kenaikan ini dipicu laporan mengenai operasi udara terbaru yang dilakukan AS terhadap fasilitas militer Iran. Situasi semakin sensitif setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak boleh dikuasai oleh negara manapun, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu koridor pelayaran energi paling strategis di dunia.

“Pendorong utama pelemahan mata uang Asia pada Kamis ini adalah meningkatnya kembali permusuhan di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak spot dan imbal hasil obligasi AS,” ujar Maximillian Lin, ahli strategi valuta asing dan suku bunga Asia di Canadian Imperial Bank of Commerce, dikutip dari Bloomberg News.

Lin menambahkan, permintaan terhadap dolar AS di kawasan Asia ikut menguat setelah Gedung Putih menolak proposal perdamaian yang sebelumnya beredar melalui media pemerintah Iran. Pemerintah AS bahkan menyebut dokumen tersebut sebagai informasi yang direkayasa.

Yield Obligasi Bergerak, Rupiah Offshore Tembus Rp17.900

Meningkatnya tensi geopolitik juga memicu perubahan di pasar obligasi global. Imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 4,53%.

Pergerakan serupa terlihat pada obligasi Korea Selatan tenor 10 tahun yang naik 2,9 basis poin ke level 4,13%. Berbeda arah, yield obligasi pemerintah China tenor serupa justru turun 7,9 basis poin menjadi 1,72%.

Sementara itu, di tengah tekanan terhadap mata uang kawasan, perdagangan rupiah dan rupee India di pasar spot relatif stagnan lantaran libur Idul Adha.

Namun, pergerakan rupiah di pasar offshore masih menunjukkan volatilitas tinggi. Mata uang Indonesia sempat menembus level Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan siang.

Berdasarkan data yang dihimpun Inilahdata.com per pukul 13.12 WIB, rupiah offshore sempat berada di posisi Rp17.945 per dolar AS pada pukul 10.56 WIB. Setelah itu, rupiah mengalami penguatan terbatas ke kisaran Rp17.892 per dolar AS, namun masih mencerminkan pelemahan sekitar 0,03% dibandingkan posisi pembukaan di Rp17.886 per dolar AS. (***)

KURS

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%