Sabtu, 13 Jun 2026 - :
7 Jun 2026 - 12:20

Indonesia Pegang Kunci Sawit dan Batu Bara Dunia, Kebijakan Baru Prabowo Jadi Sorotan

4 mnt baca
  • Pemerintah membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai BUMN khusus yang akan mengelola ekspor komoditas strategis.
  • Ekspor CPO, batu bara, dan ferro alloy nantinya wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.
  • Indonesia menguasai sekitar 57 persen produksi minyak sawit dunia, menjadikannya pemain paling berpengaruh di pasar global.
  • Indonesia masih berstatus eksportir batu bara terbesar dunia, meski ekspor diperkirakan menurun akibat melemahnya permintaan China.
  • Dunia menyoroti kebijakan baru ini karena berpotensi memengaruhi pasokan, harga, dan perdagangan komoditas global.

Inilahdata.com – Presiden Prabowo Subianto resmi mengambil langkah baru dalam tata kelola perdagangan sumber daya alam Indonesia dengan membentuk badan usaha milik negara (BUMN) khusus yang akan menangani ekspor sejumlah komoditas strategis nasional.

Perusahaan tersebut diberi nama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan akan berfungsi sebagai pintu utama ekspor berbagai komoditas unggulan Indonesia, mulai dari minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, hingga ferro alloy.

Kebijakan tersebut diperkuat melalui Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tata kelola ekspor sumber daya alam. Dengan aturan baru ini, penjualan komoditas tertentu ke pasar internasional tidak lagi dilakukan secara bebas oleh masing-masing pelaku usaha, melainkan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.

Pemerintah beralasan langkah tersebut diperlukan untuk memperketat pengawasan perdagangan komoditas nasional, meningkatkan penerimaan negara, serta menutup berbagai celah yang selama ini kerap dimanfaatkan dalam praktik ekspor, seperti manipulasi harga, transfer pricing, hingga pengalihan devisa ke luar negeri.

Namun kebijakan ini langsung menarik perhatian pelaku pasar internasional. Sejumlah pengamat menilai sistem pengekspor tunggal berpotensi membuat perdagangan komoditas Indonesia menjadi lebih terpusat. Kekhawatiran muncul karena Indonesia memegang posisi yang sangat dominan dalam dua komoditas penting dunia, yakni minyak sawit dan batu bara.

Indonesia Masih Menjadi Raja Minyak Sawit Dunia

Di sektor sawit, posisi Indonesia masih sulit tergantikan.

Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia pada periode 2025/2026 mencapai sekitar 46,7 juta ton. Jumlah tersebut setara lebih dari separuh total produksi dunia yang diperkirakan mencapai 81,27 juta ton.

Artinya, dari setiap dua liter minyak sawit yang beredar di pasar global, lebih dari satu liter berasal dari Indonesia.

Malaysia masih berada di posisi kedua, tetapi dengan jarak yang cukup jauh. Produksi negeri jiran tersebut diperkirakan sekitar 20,2 juta ton atau seperempat produksi dunia. Sementara negara-negara lain seperti Thailand hanya menyumbang sebagian kecil pasar global.

Kekuatan Indonesia bukan hanya pada volume produksi, tetapi juga luas perkebunan. Luas kebun sawit nasional diperkirakan mencapai sekitar 14 juta hektare, terbesar di dunia.

Meski menghadapi tekanan internasional terkait isu lingkungan dan pembatasan pembukaan lahan baru, produksi sawit Indonesia tetap menunjukkan tren meningkat. Kenaikan produksi lebih banyak didorong oleh peningkatan produktivitas serta program peremajaan tanaman yang dijalankan pemerintah.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan total produksi CPO dan PKO nasional sepanjang 2025 mencapai 56,55 juta ton atau naik lebih dari tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, kebutuhan dalam negeri juga terus meningkat. Program biodiesel B40 membuat konsumsi sawit domestik melonjak signifikan, terutama untuk kebutuhan energi.

Akibatnya, sebagian besar tambahan produksi tidak lagi diarahkan ke pasar ekspor, melainkan diserap di dalam negeri. Kondisi ini membuat pasokan global menjadi lebih ketat dan ikut menjaga harga minyak sawit dunia tetap tinggi.

Meski demikian, ekspor sawit Indonesia masih tergolong sangat besar. Sepanjang 2025, nilai ekspor produk sawit nasional diperkirakan mencapai sekitar US$35,87 miliar atau setara hampir Rp600 triliun.

Batu Bara Masih Menjadi Penopang Energi Asia

Selain sawit, perhatian dunia juga tertuju pada posisi Indonesia sebagai pemasok batu bara terbesar di pasar internasional.

Laporan International Energy Agency (IEA) menyebut Indonesia masih mempertahankan status sebagai eksportir batu bara terbesar dunia.

Meski demikian, tahun 2025 diperkirakan menjadi periode yang lebih menantang. Permintaan dari China mulai melambat seiring meningkatnya produksi domestik negara tersebut dan membaiknya cadangan energi nasional.

Penurunan impor dari China dan India ikut menekan ekspor batu bara Indonesia. IEA memperkirakan pengiriman batu bara Indonesia ke pasar internasional berkurang hampir 50 juta ton sepanjang tahun ini.

Tekanan juga datang dari harga global yang mulai melemah setelah sempat melonjak saat krisis energi dunia pada 2022. Harga batu bara termal di kawasan Asia tercatat turun sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski begitu, prospek batu bara Indonesia belum sepenuhnya meredup. Permintaan di kawasan Asia Tenggara masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat.

Negara-negara seperti Vietnam dan Indonesia sendiri masih membutuhkan pasokan batu bara dalam jumlah besar untuk mendukung pembangkit listrik serta kawasan industri berbasis logam yang terus berkembang.

Mengapa Dunia Memperhatikan Kebijakan Baru Ini?

Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia dinilai bukan sekadar perubahan administratif dalam sistem ekspor.

Sebagai negara yang menguasai lebih dari 50 persen produksi minyak sawit dunia dan berstatus eksportir batu bara terbesar global, setiap kebijakan Indonesia berpotensi memengaruhi rantai pasok internasional.

Melalui BUMN khusus ekspor, pemerintah memiliki ruang yang lebih besar untuk mengendalikan volume ekspor, memantau harga jual komoditas, serta memastikan devisa hasil ekspor masuk ke dalam sistem keuangan nasional.

Di sisi lain, pelaku pasar global akan terus mencermati bagaimana implementasi kebijakan tersebut berjalan, termasuk dampaknya terhadap stabilitas pasokan dan harga komoditas dunia dalam beberapa tahun mendatang. (**)

Sumber Berita CNBCINDONESIA.COM

Editor Inilahdata.com

Tinggalkan Balasan

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️
YouTube meluncurkan buku panduan Digital Wellbeing Guidebook sebagai bentuk tanggung jawab platform digital dalam mengedukasi orang tua, sekaligus mendukung implementasi Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 dan PP TUNAS terkait perlindungan anak. Meutya Hafid menegaskan masih banyak orang tua yang membutuhkan panduan dalam mendampingi anak menggunakan media sosial, gim daring, dan layanan digital lainnya agar tetap aman di dunia digital. 
Buku panduan ini disusun bersama Rumah Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para ahli. Tujuannya bukan membatasi akses teknologi, melainkan memastikan anak memanfaatkan teknologi secara aman, sehat, dan sesuai usia. www.inilahdata.com. #inilahdata #
 photo

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%