Minggu, 31 Mei 2026 - :
26 Mei 2026 - 16:27 | 28 Views | 0 Suka

Ilmuwan Temukan Sinyal Bahaya Baru, Ekosistem Dunia Mulai Berubah Total

3 mnt baca

Inilahdata.com – Perubahan iklim diperkirakan akan menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup ribuan spesies tumbuhan di dunia hingga akhir abad ini. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kenaikan suhu global dan perubahan kondisi lingkungan berpotensi menghilangkan habitat alami berbagai tanaman, termasuk spesies langka dan ikonik.

Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science, para peneliti menganalisis lebih dari 67 ribu spesies tumbuhan vaskular atau tanaman yang memiliki jaringan pengangkut air dan nutrisi. Jumlah tersebut mewakili sekitar 18 persen dari seluruh spesies tumbuhan vaskular yang telah dikenal di dunia.

Hasil penelitian menunjukkan sekitar 7 hingga 16 persen spesies berpotensi kehilangan lebih dari 90 persen wilayah habitatnya pada periode 2081 hingga 2100. Kondisi itu dinilai dapat meningkatkan risiko kepunahan secara drastis.

Eucalyptus hingga Pohon Langka California Terancam

Beberapa spesies yang disebut berada dalam ancaman tinggi antara lain Catalina ironwood atau island ironwood, pohon langka endemik California, lumut jarum biru yang berasal dari garis keturunan tumbuhan purba berusia lebih dari 400 juta tahun, hingga sekitar sepertiga spesies Eucalyptus di Australia.

Para ilmuwan menyusun proyeksi tersebut berdasarkan jutaan data lokasi tumbuhan dan berbagai skenario emisi gas rumah kaca di masa depan.

Menurut peneliti pascadoktoral Junna Wang dan profesor ilmu lingkungan Xiaoli Dong, habitat tumbuhan bukan hanya sekadar lokasi geografis, melainkan kombinasi kompleks dari suhu, curah hujan, jenis tanah, kelembaban, hingga kondisi lanskap.

“Sederhananya, tanaman seperti sedang berusaha mengejar ‘iklim ideal’ yang terus bergerak akibat pemanasan global. Banyak spesies mencoba berpindah ke wilayah lebih dingin atau dataran lebih tinggi untuk bertahan hidup,” kata Wang dan Dong dalam pernyataan bersama yang dikutip dari Reuters.

Namun, mereka menegaskan suhu hanyalah satu bagian dari persoalan yang jauh lebih kompleks.

Perpindahan Habitat Tak Selalu Menyelamatkan

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kemampuan tumbuhan berpindah habitat belum tentu mampu mengurangi ancaman kepunahan.

Para peneliti membandingkan skenario penyebaran alami tanaman dengan simulasi di mana tumbuhan diasumsikan bisa berpindah bebas ke habitat baru. Hasilnya, tingkat ancaman kepunahan tetap hampir sama.

“Jika masalah utamanya hanya keterbatasan penyebaran, seharusnya kemampuan berpindah tanpa batas bisa menekan risiko kepunahan secara signifikan. Tetapi hasil penelitian kami menunjukkan tidak demikian,” ujar Wang dan Dong.

Temuan ini dinilai penting dalam strategi konservasi global.

Menurut mereka, memindahkan spesies secara buatan atau assisted migration mungkin tidak cukup apabila perubahan iklim terus mengurangi jumlah habitat yang benar-benar layak dihuni.

Risiko Berbeda di Tiap Wilayah

Dampak perubahan iklim terhadap tumbuhan diproyeksikan berbeda-beda di berbagai wilayah dunia.

Spesies yang hidup di kawasan dingin Arktik diperkirakan kehilangan habitat karena wilayah bersuhu ekstrem makin menyusut. Sementara daerah kering seperti sebagian wilayah barat Amerika Serikat dan kawasan Mediterania menghadapi ancaman kekeringan, penurunan kelembaban tanah, serta meningkatnya kebakaran hutan.

Di Australia bagian selatan dan timur, garis pantai diperkirakan membatasi perpindahan spesies menuju wilayah yang lebih dingin.

Meski demikian, penelitian juga menemukan sekitar 28 persen daratan dunia berpotensi mengalami peningkatan keanekaragaman tumbuhan akibat perpindahan spesies ke wilayah baru, terutama di daerah tropis dan subtropis yang mengalami peningkatan curah hujan.

Para ilmuwan menggambarkan fenomena ini sebagai “penataan ulang global” ekosistem tumbuhan.

Dampaknya Bisa Menjalar ke Kehidupan Manusia

Para peneliti mengingatkan bahwa perubahan besar pada keanekaragaman tumbuhan tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga manusia.

Tumbuhan memiliki peran penting dalam menyerap karbon, menjaga kestabilan tanah, mendukung kehidupan satwa liar, serta menyediakan bahan pangan, kayu, dan obat-obatan.

“Jika perubahan iklim mengurangi tutupan vegetasi, kemampuan ekosistem menyerap karbon dioksida juga akan menurun. Situasi ini bisa memperburuk pemanasan global dan menciptakan lingkaran krisis yang saling memperkuat,” kata Wang dan Dong.

Mereka menegaskan perlindungan terhadap keanekaragaman tumbuhan menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan sistem ekologis yang menopang kehidupan manusia di masa depan. (**)

KURS

Akurat berbasis data Update berita disini ⬇️

GALERY FOTO

GALERY VIDEO

PARTNER

ADVERTISING

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%