Inilahdata.com – Pagi itu suasana di salah satu ruang kelas SDN Palmerah 09 Pagi, Jakarta Barat, terasa tak seperti biasanya. Satu per satu murid kelas 5 duduk menunggu nama mereka disebut, sebagian dengan wajah tegang menahan gugup.
Begitu jarum suntik mendekat ke lengan, tangis kecil pun pecah dari beberapa anak. Namun di tengah momen itu, teman-teman sebaya yang bertugas sebagai dokter cilik langsung turun tangan.
Mereka menggenggam tangan teman yang ketakutan, menenangkan, bahkan ikut memegangi lengan agar petugas kesehatan bisa menuntaskan penyuntikan dengan tenang.
Pemandangan itu terekam dalam pelaksanaan vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) yang digelar Pemerintah Kota Jakarta Barat di sekolah tersebut, Selasa (5/8/2026).
Ada yang berbeda dari program tahun-tahun sebelumnya: untuk kali pertama, sasaran vaksin ini turut menjangkau murid laki-laki kelas 5 berusia sekitar 11 tahun, tidak lagi hanya anak perempuan.
Perluasan sasaran ini menjadi tonggak baru dalam upaya pemerintah memperluas payung perlindungan dari penyakit akibat infeksi HPV.
Selama ini vaksin tersebut lekat dengan citra sebagai imunisasi khusus perempuan untuk mencegah kanker leher rahim, padahal virus yang sama juga bisa menyerang laki-laki dan memicu sejumlah penyakit serius.
Dengan vaksinasi ini, anak laki-laki diharapkan mendapat perlindungan dari risiko kanker penis, kanker anus, hingga kutil kelamin yang dipicu HPV tipe 6, 11, 16, dan 18.
Di balik isak tangis singkat di ruang vaksinasi itu, tersimpan agenda yang jauh lebih besar: pemerintah ingin generasi muda Indonesia tumbuh dengan perlindungan lebih baik terhadap penyakit yang sesungguhnya bisa dicegah sejak usia dini.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, sebelumnya menguraikan tiga target besar yang ingin dicapai Indonesia dalam mengeliminasi kanker serviks.
Target pertama, 90 persen anak perempuan dan laki-laki mendapat imunisasi HPV sebelum usia 15 tahun.
Target kedua, 75 persen perempuan berusia 30–69 tahun menjalani skrining lewat tes DNA HPV. Target ketiga, 90 persen perempuan dengan lesi prakanker maupun kanker serviks invasif memperoleh penanganan yang sesuai.
Kementerian Kesehatan juga menegaskan keamanan vaksin ini, memastikan HPV tidak menyebabkan kemandulan seperti yang kerap dikhawatirkan sebagian masyarakat.
Program pencegahan HPV, menurut Kemenkes, bukan sekadar soal suntik-menyuntik. Ada rangkaian strategi yang menyeluruh: edukasi perilaku hidup sehat, pentingnya deteksi dini lewat skrining, hingga proses diagnosis dan tata laksana penyakit, semuanya menyatu sebagai upaya menekan angka kejadian kanker.
Lewat rangkaian pendekatan itu, pemerintah membidik penurunan angka kejadian kanker leher rahim menjadi empat kasus per 100.000 penduduk per tahun pada 2030.
Harapannya, perlindungan yang dimulai dari ruang kelas sederhana sebuah sekolah dasar hari ini bisa menjelma investasi kesehatan bagi generasi mendatang. (**)
Halaman : 1 2